Aksi Nyata Modul 1.4 Budaya Positif
Adanya perubahan paradigma, Belajar adalah modal besar
seorang pengajar. Modal
utama guru penggerak adalah semangat belajar.
Perubahan paradigma dari paradigma Stimulus-Respon kepada pendekatan teori Kontrol.
Membangun budaya positif di sekolah sesuai dengan filosofi pendidikan Ki
Hadjar Dewantara yaitu pendidikan yang berpihak pada murid dengan Strategi menumbuhkan lingkungan
yang positif serta melakukan refleksi atas penerapan
disiplin yang dilakukan selama ini di lingkungan Anda.
•
Bagaimanakah strategi
Anda dalam praktik disiplin tersebut?
•
Apakah selama ini
Anda sungguh-sungguh menjalankan disiplin, atau Anda melakukan sebuah hukuman?
• Di mana kita menarik garis pembatas?
B Budaya Positif diawali dengan Lingkungan positif , disiplin positif dan nilai-nilai kebajikan.
Makna Disiplin
• menghubungkan
kata disiplin dengan tata tertib, teratur, dan kepatuhan pada peraturan.
• Kata
“disiplin” juga sering dihubungkan dengan hukuman
• makna kata ‘disiplin’ dimaknai menjadi sesuatu yang dilakukan seseorang
pada orang lain untuk mendapatkan kepatuhan.
• Kita cenderung menghubungkan kata ‘disiplin’ dengan ketidaknyamanan.
Makna disiplin positif oleh Ki
Hadjar Dewantara maupun Diane Gossen
• disiplin sebagai bentuk kontrol
diri, yaitu belajar untuk kontrol diri agar dapat mencapai suatu tujuan mulia.
• Tujuan mulia mengacu pada nilai-nilai atau prinsip-prinsip mulia yang dianut seseorang. (nilai-nilai kebajikan (virtues) yang universal).
Nilai-nilai kebajikan universal
• * nilai-nilai kebajikan
universal merupakan nilai-nilai lintas budaya, bahasa, suku bangsa, maupun
agama seperti keadilan, kehormatan, peduli, integritas, kejujuran, pelayanan,
keamanan, kesabaran, tanggung jawab, mandiri, berprinsip, keselamatan,
kesehatan, dan lain-lain.
• *payung besar’ dari sikap dan
perilaku kita,
• * fondasi kita berperilaku.
• *sifat-sifat positif manusia yang
merupakan tujuan mulia yang ingin dicapai setiap individu.
• * Profil Pelajar Pancasila
Profil Pelajar Pancasila
• Beriman,
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia.
• Mandiri
• Bernalar Kritis
• Berkebinekaan Global
• Bergotong royong
• Kreatif
The Virtues Project (Proyek
Nilai-nilai Kebajikan)
Teori Motivasi, Hukuman dan
Penghargaan, Restitusi
3 Motivasi Perilaku Manusia :
1.
Untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman
- menghindari permasalahan yang mungkin muncul dan berpengaruh pada mereka secara fisik, psikologis, maupun tidak terpenuhinya kebutuhan mereka, bila mereka tidak melakukan tindakan tersebut. Motivasi ini bersifat eksternal.
2. Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain.
•
Mereka melakukan sebuah tindakan untuk mendapatkan
pujian dari orang lain yang menurut mereka penting dan mereka letakkan dalam
dunia berkualitas mereka.
•
Mereka juga melakukan sesuatu untuk mendapatkan
hadiah, pengakuan, atau imbalan.
• Motivasi ini juga bersifat eksternal.
3. Untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya.
* akan bertanya, akan menjadi orang yang seperti, apabila saya melakukannya?
• Mereka melakukan sesuatu karena nilai-nilai yang
mereka yakini dan hargai, dan mereka melakukannya karena mereka ingin menjadi
orang yang melakukan nilai-nilai yang mereka yakini tersebut.
• Motivasi yang akan membuat seseorang memiliki disiplin positif karena motivasi berperilakunya bersifat internal, bukan eksternal.
Hukuman, Konsekuensi dan Restitusi
• * Hukuman bersifat tidak terencana atau tiba-tiba.
• *Anak atau murid tidak tahu apa yang akan terjadi, dan
tidak dilibatkan.
• *Hukuman bersifat satu arah, dari pihak guru yang
memberikan, dan murid hanya menerima suatu hukuman tanpa melalui suatu
kesepakatan, atau pengarahan dari pihak guru, baik sebelum atau sesudahnya.
• *Hukuman yang diberikan bisa berupa fisik maupun psikis, murid/anak disakiti oleh suatu perbuatan atau kata-kata.
KONSEKUENSI
• * sudah terencana / sudah disepakati;
• * sudah dibahas dan disetujui oleh murid dan guru.
•
Umumnya bentuk-bentuk konsekuensi dibuat oleh pihak
guru (sekolah), dan murid sudah mengetahui sebelumnya konsekuensi yang akan
diterima bila ada pelanggaran.
•
Pada konsekuensi, murid tetap dibuat tidak nyaman
untuk jangka waktu pendek.
• Konsekuensi biasanya diberikan berdasarkan suatu data yang umumnya dapat diukur, misalnya, setelah 3 kali tugasnya tidak diselesaikan pada batas waktu yang diberikan, atau murid melakukan kegiatan di luar kegiatan pembelajaran, misalnya mengobrol, maka murid tersebut akan kehilangan waktu bermain, dan harus menyelesaikan tugas karena ketertinggalannya. Peraturan dan konsekuensi yang mengikuti ini sudah diketahui sebelumnya oleh murid. Sikap guru di sini senantiasa memonitor murid
Dihukum oleh Penghargaan:
•
Alfie Kohn (Punished by Rewards, 1993, Wawancara ASCD
Annual Conference, Maret 1995) mengemukakan baik penghargaan maupun hukuman,
adalah cara-cara mengontrol perilaku seseorang yang menghancurkan potensi untuk
pembelajaran yang sesungguhnya.
•
Menurut Kohn, secara ideal tindakan belajar itu
sendiri adalah penghargaan sesungguhnya. Kohn selanjutnya juga mengemukakan
beberapa pernyataan dari hasil pengamatannya selama ini tentang tindakan
memberikan penghargaan yang nilainya sama dengan menghukum seseorang .
RESTITUSI
• Restitusi adalah proses
menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga
mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat
(Gossen; 2004).
• Restitusi juga merupakan
proses kolaboratif yang mengajarkan murid untuk mencari solusi untuk masalah
mereka, dan membantu murid berpikir tentang orang seperti apa yang mereka
inginkan, dan bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain (Chelsom Gossen,
1996).
• Sebuah Pendekatan untuk
Menciptakan Disiplin Positif
• ketika murid berbuat salah,
guru akan menanggapi dengan mengajak murid berefleksi tentang apa yang dapat
mereka lakukan untuk memperbaiki kesalahan mereka sehingga mereka menjadi
pribadi yang lebih baik dan menghargai dirinya.
• Pendekatan restitusi tidak
hanya menguntungkan korban, tetapi juga menguntungkan orang yang telah berbuat
salah. Restitusi juga sesuai dengan prinsip dari teori kontrol William Glasser
tentang solusi menang-menang
●
Restitusi bukan untuk menebus kesalahan,
namun untuk belajar dari kesalahan
- inisiatif dari murid yang melakukan kesalahan.
- bagaimana menjadi orang yang lebih baik dan melakukan hal baik pada orang lain dengan kebaikan yang ada dalam diri kita.
● Restitusi memperbaiki hubungan
• Proses ini menciptakan kondisi yang aman bagi murid untuk menjadi jujur pada diri mereka sendiri dan mengevaluasi dampak dari tindakan mereka pada orang lain. Ketika proses pemulihan dan evaluasi diri telah selesai, mereka bisa mulai berpikir tentang apa yang bisa dilakukan untuk menebus kesalahan mereka pada orang yang menjadi korban.
●
Restitusi adalah tawaran, bukan paksaan
• “Tidak apa-apa kok berbuat
salah itu manusiawi. Semua orang pasti pernah berbuat salah”.
• Pembicaraan ini bersifat tawaran, bukan paksaan, bukan mengatakan, “Kamu harus lakukan ini, kalau tidak maka…”
● Restitusi ‘menuntun’ untuk melihat ke dalam
diri
Kamu
ingin menjadi orang seperti apa?
• Kamu akan terlihat, terdengar,
dan terasa seperti apa kalau kamu sudah menjadi orang yang seperti itu?
• Apa yang kamu percaya tentang
bagaimana orang harus memperlakukan orang lain?
• Bagaimana kamu mau
diperlakukan ketika kamu berbuat salah?
• Apa nilai yang diajarkan di
keluargamu tentang hal ini? Apakah kamu memegang nilai ini?
• Kalau tidak, lalu apa yang kamu percaya?
·
Restitusi mencari kebutuhan
dasar yang mendasari tindakan
• Untuk membantu murid mengenali
kebutuhan dasarnya dan orang lain
• Restitusi
diri adalah cara yang paling baik
• belajar untuk mengubah
kebiasaan dari kecenderungan untuk mengomentari orang lain, menjadi
mengomentari diri sendiri.
• Dr. William Glasser menyatakan, orang yang bahagia akan mengevaluasi diri sendiri, orang yang tidak bahagia akan mengevaluasi orang lain.
·
Restitusi fokus pada karakter
bukan tindakan
• “Ibu/Bapak tidak terlalu mempermasalahkan apa yang kamu lakukan hari ini, tetapi mari kita bicara tentang apa yang akan kamu lakukan besok. Kamu bisa saja minta maaf, tapi orang akan lebih suka mendengar apa yang akan kamu lakukan dengan lebih baik lagi.
· Restitusi
menguatkan
• Kuat disini artinya menyadari apa yang bisa murid ubah, dan murid benar-benar mengubahnya. Guru bisa bertanya, apa yang dapat kamu ubah dari dirimu sendiri? Bagaimana kamu akan berubah?
·
Restitusi fokus pada solusi
• Dalam restitusi, guru menstabilkan identitas murid dengan mengatakan, “Kita tidak fokus pada kesalahan, Bapak/ibu tidak tertarik untuk mencari siapa yang benar, siapa yang salah.
·
Restitusi mengembalikan murid
yang berbuat salah pada kelompoknya
• Ketika anak berbuat salah, kita tidak bisa memotivasi anak untuk menjadi baik, kita hanya bisa menciptakan kondisi agar mereka bisa melihat ke dalam diri mereka. Kita seharusnya mengajari mereka untuk menyelesaikan masalah mereka, dan berusaha mengembalikan mereka ke kelompok mereka dengan karakter yang lebih kuat.
Keyakinan Kelas
sebagai fondasi dan arah tujuan sebuah sekolah/kelas, yang akan menjadi
landasan dalam memecahkan konflik atau permasalahan di dalam sebuah
sekolah/kelas, dapat menjelaskan proses pembentukan dari peraturan-peraturan beralih
ke keyakinan kelas dan akan dapat berpikir kritis, kreatif, reflektif, dan
terbuka dalam menggali nilai-nilai yang dituju pada peraturan yang ada di
sekolah mereka masing-masing.
Pembentukan
Keyakinan Sekolah/Kelas:
•
Keyakinan kelas bersifat lebih ‘abstrak’ daripada peraturan, yang lebih rinci
dan konkrit.
•
Keyakinan kelas berupa pernyataan-pernyataan universal.
•
Pernyataan keyakinan kelas senantiasa dibuat dalam bentuk positif.
•
Keyakinan kelas hendaknya tidak terlalu banyak, sehingga mudah diingat dan
dipahami oleh semua warga kelas.
•
Keyakinan kelas sebaiknya sesuatu yang dapat diterapkan di lingkungan tersebut.
•
Semua warga kelas hendaknya ikut berkontribusi dalam pembuatan keyakinan kelas
lewat kegiatan curah pendapat.
•
Bersedia meninjau kembali keyakinan kelas dari waktu ke waktu.
1. Mempersilakan warga sekolah
atau murid-murid di sekolah/kelas untuk bercurah pendapat tentang peraturan
yang perlu disepakati di sekolah/kelas.
2. Mencatat semua masukan-masukan
para murid/warga sekolah di papan tulis atau di kertas besar (kertas ukuran
poster), di mana semua anggota kelas/warga sekolah bisa melihat hasil curah
pendapat. 3. Susunlah keyakinan kelas sesuai prosedur ‘Pembentukan Keyakinan
Sekolah/Kelas’. Gantilah kalimat-kalimat dalam bentuk negatif menjadi positif.
Contoh Kalimat negatif : Jangan berlari di kelas atau koridor. Kalimat positif:
Berjalanlah di kelas atau koridor.
4. Tinjau kembali daftar curah
pendapat yang sudah dicatat.
5. Tinjau ulang Keyakinan
Sekolah/Kelas secara bersama-sama. Sebaiknya keyakinan sekolah/kelas tidak
terlalu banyak, bisa berkisar antara 3-7 prinsip/keyakinan.
6. Setelah keyakinan
sekolah/kelas selesai dibuat, maka semua warga kelas dipersilakan meninjau
ulang, dan menyetujuinya dengan menandatangani keyakinan sekolah/kelas
tersebut, termasuk guru dan semua warga/murid.
7. Keyakinan Sekolah/Kelas selanjutnya bisa dilekatkan di dinding kelas di tempat yang mudah dilihat semua warga kelas.
Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia Berkualitas
Menjelaskan
kebutuhan dasar yang menjadi motif dari tindakan manusia baik murid maupun
guru, dapat menganalisis dampak tidak terpenuhinya kebutuhan dasar terhadap
pelanggaran peraturan dan tindakan yang tidak sesuai dengan nilai kebajikan dan
dapat mengidentifikasi peran dan sekolah guru dalam upayanya menciptakan
lingkungan belajar dan pemenuhan kebutuhan anak yang beragam.
1.
Kebutuhan untuk bertahan hidup (survival), adalah kebutuhan yang
bersifat fisiologis untuk bertahan hidup misalnya kesehatan, rumah, dan
makanan.
2.
Kasih sayang dan rasa diterima (love and belonging), adalah
kebutuhan psikologis. Kebutuhan untuk disayangi dan diterima meliputi kebutuhan
akan hubungan dan koneksi sosial, kebutuhan untuk memberi dan menerima kasih
sayang dan kebutuhan untuk merasa menjadi bagian dari suatu kelompok. Kebutuhan
ini juga meliputi keinginan untuk tetap terhubung dengan orang lain, seperti
teman, keluarga, pasangan hidup, teman kerja, binatang peliharaan, dan kelompok
dimana kita tergabung.
3.
Kebebasan (freedom),
Kebutuhan
untuk bebas adalah kebutuhan akan kemandirian, otonomi, memiliki pilihan dan
mampu mengendalikan arah hidup seseorang. Anak-anak dengan kebutuhan kebebasan
yang tinggi menginginkan pilihan, mereka perlu banyak bergerak, suka
mencoba-coba, tidak terlalu terpengaruh orang lain dan senang mencoba hal baru
dan menarik.
4.
Kesenangan (fun),
Kebutuhan
akan kesenangan adalah kebutuhan untuk mencari kesenangan, bermain, dan tertawa
5.
Penguasaan (power).
Kebutuhan ini berhubungan dengan kekuatan untuk mencapai sesuatu, menjadi kompeten, menjadi terampil, diakui atas prestasi dan keterampilan kita, didengarkan dan memiliki rasa harga diri. Kebutuhan ini meliputi keinginan untuk dianggap berharga, bisa membuat perbedaan, bisa membuat pencapaian, kompeten, diakui, dihormati. Ini meliputi self esteem, dan keinginan untuk meninggalkan pengaruh.
Restitusi - Lima Posisi Kontrol
• dapat melakukan refleksi atas praktik disiplin yang dijalankan selama ini dan dampaknya untuk murid-muridnya, menerapkan disiplin restitusi di posisi Manajer, minimal pemantau agar dapat menghasilkan murid yang bertanggung jawab, mandiri dan merdeka dan dapat menganalisis secara kritis, reflektif, dan terbuka atas penemuan diri yang didapatkan dari mempelajari 5 posisi kontrol.
5 Posisi Kontrol
1. Penghukum:
Seorang penghukum bisa menggunakan hukuman fisik maupun verbal.
Orang[1]orang
yang menjalankan posisi penghukum, senantiasa mengatakan bahwa sekolah
memerlukan sistem atau alat yang dapat lebih menekan murid-murid lebih dalam
lagi. Guru[1]guru
yang menerapkan posisi penghukum akan berkata:
“Patuhi aturan saya, atau awas!”
“Kamu selalu saja salah!”
“Selalu, pasti selalu yang terakhir selesai”
Guru seperti ini senantiasa percaya hanya ada satu cara agar
pembelajaran bisa berhasil, yaitu cara dia.
2. Pembuat
Merasa Bersalah:
pada posisi ini biasanya guru akan bersuara lebih lembut. Pembuat
rasa bersalah akan menggunakan keheningan yang membuat orang lain merasa tidak
nyaman, bersalah, atau rendah diri. Kata-kata yang keluar dengan lembut akan
seperti:
“Ibu sangat kecewa sekali dengan kamu”
“Berapa kali Bapak harus memberitahu kamu ya?”
“Gimana coba, kalau orang
tua kamu tahu kamu berbuat begini?”
Di posisi ini murid akan memiliki penilaian diri yang buruk tentang diri mereka, murid merasa tidak berharga, dan telah mengecewakan orang-orang disayanginya.
3. Teman:
Guru pada posisi ini tidak akan menyakiti murid, namun akan tetap
berupaya mengontrol murid melalui persuasi. Posisi teman pada guru bisa negatif
ataupun positif. Positif di sini berupa hubungan baik yang terjalin antara guru
dan murid. Guru di posisi teman menggunakan hubungan baik dan humor untuk
mempengaruhi seseorang. Mereka akan berkata:
“Ayo bantulah, demi bapak ya?”
“Ayo ingat tidak bantuan Bapak selama ini?”
“Ya sudah kali ini tidak apa-apa. Nanti Ibu bantu bereskan”.
Hal negatif dari posisi teman adalah bila suatu saat guru tersebut
tidak membantu maka murid akan kecewa dan berkata,
“Saya pikir bapak/Ibu teman saya”.
Murid merasa dikecewakan, dan tidak mau lagi berusaha. Hal lain
yang mungkin timbul adalah murid hanya akan bertindak untuk guru tertentu, dan
tidak untuk guru lainnya. Murid akan tergantung pada guru tersebut.
4. Pemantau:
Memantau berarti mengawasi. Pada saat kita mengawasi, kita
bertanggung jawab atas perilaku orang-orang yang kita awasi. Posisi pemantau
berdasarkan pada peraturan[1]peraturan
dan konsekuensi. Dengan menggunakan sanksi/konsekuensi, kita dapat memisahkan
hubungan pribadi kita dengan murid, sebagai seseorang yang menjalankan posisi
pemantau. Pertanyaan yang diajukan seorang pemantau: “Peraturannya apa?”
“Apa yang telah kamu lakukan?”
“Sanksi atau konsekuensinya apa?”
Seorang pemantau sangat mengandalkan penghitungan, catatan, data
yang dapat digunakan sebagai bukti atas perilaku seseorang. Posisi ini akan
menggunakan stiker, slip catatan, daftar cek. Posisi pemantau sendiri berawal
dari teori stimulus-respon, yang menunjukkan tanggung jawab guru dalam
mengontrol murid.
5. Manajer:
Posisi terakhir, Manajer, adalah posisi di mana guru berbuat
sesuatu bersama dengan murid, mempersilakan murid mempertanggungjawabkan
perilakunya, mendukung murid agar dapat menemukan solusi atas permasalahannya
sendiri. Seorang manajer telah memiliki keterampilan di posisi teman maupun
pemantau, dan dengan demikian, bisa jadi di waktu-waktu tertentu kembali kepada
kedua posisi tersebut bila diperlukan. Namun bila kita menginginkan murid[1]murid
kita menjadi manusia yang merdeka, mandiri dan bertanggung jawab, maka kita
perlu mengacu kepada Restitusi yang dapat menjadikan murid kita seorang manajer
bagi dirinya sendiri. Di manajer, murid diajak untuk menganalisis kebutuhan
dirinya, maupun kebutuhan orang lain. Disini penekanan bukan pada kemampuan
membuat konsekuensi, namun dapat berkolaborasi dengan murid bagaimana
memperbaiki kesalahan yang ada. Seorang manajer akan berkata:
“Apa yang kita yakini?”
(kembali ke keyakinan kelas)
“Apakah kamu meyakininya?”
“Jika kamu meyakininya, apakah kamu bersedia memperbaikinya?”
“Jika kamu memperbaiki ini, hal ini menunjukkan apa tentang
dirimu?”
“Apa rencana kamu untuk memperbaiki hal ini?”
Bisa jadi dalam praktik penerapan disiplin sehari-hari, kita akan
kembali ke posisi Teman atau Pemantau, karena murid yang ditangani belum siap
diajak berdiskusi atau diundang melakukan restitusi. Namun perlu disadari
tujuan akhir dari 5 posisi kontrol seorang guru adalah pencapaian posisi
Manajer, di mana di posisi inilah murid dapat menjadi pribadi yang mandiri,
merdeka, dan bertanggung jawab atas segala perilaku dan sikapnya, yang pada
akhirnya dapat menciptakan lingkungan yang positif, nyaman, dan aman.
Restitusi -
Segitiga Restitusi
restitusi sebagai salah satu cara menanamkan disiplin positif pada
murid sebagai bagian dari budaya positif di sekolah, dapat menerapkan restitusi
dalam membimbing murid berdisiplin positif agar menjadi murid merdeka dan dapat
menganalisis dengan sikap reflektif dan kritis penerapan disiplin positif di
lingkungannya.
Diane Gossen dalam bukunya Restitution; Restructuring School
Discipline, (2001) telah merancang sebuah tahapan untuk memudahkan para guru
dan orangtua dalam melakukan proses untuk menyiapkan anaknya untuk melakukan
restitusi, bernama segitiga restitusi/restitution triangle. Proses tiga tahapan tersebut
didasarkan pada prinsip-prinsip utama dari Teori Kontrol, yaitu:
1. Menstabilkan
Identitas (Stabilize the Identity)
bertujuan untuk mengubah identitas anak dari orang yang gagal
karena melakukan kesalahan menjadi orang yang sukses. Kalau kita ingin ia
menjadi reflektif, maka kita harus meyakinkan si anak, dengan cara mengatakan
kalimat-kalimat ini:
● Berbuat salah itu tidak apa-apa.
● Tidak ada manusia yang sempurna
● Saya juga pernah melakukan kesalahan seperti itu.
● Kita bisa menyelesaikan ini.
● Bapak/Ibu tidak tertarik mencari siapa yang salah, tapi
Bapak/Ibu ingin mencari solusi dari permasalahan ini.
● Kamu berhak merasa begitu.
● Apakah kamu sedang menjadi teman yang baik buat dirimu sendiri?
-Rasa bersalah menguras energi.
- Ketika kita merasa bersalah, kita mengalami identitas kegagalan.
Dalam kondisi ini, orang akan cenderung untuk menyalahkan orang lain atau
mempertahankan diri, daripada mencari solusi.
- Perasaan bersalah membuat kita terperangkap pada masa lalu
dimana kita sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kita hanya bisa mengontrol
apa yang akan terjadi di masa kini dan masa datang.
2.
Sisi 2:
Validasi Tindakan yang Salah (Validate the Misbehavior)
Setiap tindakan kita dilakukan dengan suatu tujuan, yaitu memenuhi
kebutuhan dasar. Menurut Teori Kontrol semua tindakan manusia, baik atau buruk,
pasti memiliki maksud/tujuan tertentu.Kalimat-kalimat di bawah ini mungkin
terdengar asing buat guru, namun bila dikatakan dengan nada tanpa menghakimi
akan memvalidasi kebutuhan mereka.
• “Padahal kamu bisa melakukan yang lebih buruk dari ini ya?”
• “Kamu pasti punya alasan mengapa melakukan hal itu”
• “Kamu patut bangga pada dirimu sendiri karena kamu telah
melindungi sesuatu yang penting buatmu”.
• “Kamu boleh mempertahankan sikap itu, tapi kamu harus
menambahkan sikap yang baru.”
Restitusi tidak menyarankan guru bicara ke murid bahwa melanggar
aturan adalah sikap yang baik, tapi dalam restitusi guru harus memahami
alasannya, dan paham bahwa setiap orang pasti akan melakukan yang terbaik di
waktu tertentu.
3. Sisi Ketiga:
Menanyakan Keyakinan (Seek the Belief)
Teori kontrol menyatakan bahwa kita pada dasarnya termotivasi
secara internal. Ketika identitas sukses telah tercapai (langkah 1) dan tingkah
laku yang salah telah divalidasi (langkah 2), maka anak akan siap untuk
dihubungkan dengan nilai-nilai yang dia percaya, dan berpindah menjadi orang
yang dia inginkan. Pertanyaan-pertanyaan di bawah ini menghubungkan keyakinan
anak dengan keyakinan kelas atau keluarga.
• Apa yang kita percaya sebagai kelas atau keluarga?
• Apa nilai-nilai umum yang kita telah sepakati?
• Apa bayangan kita tentang kelas yang ideal?
• Kamu mau jadi orang yang seperti apa?
Penting
untuk menanyakan ke anak, kehidupan seperti apa nantinya yang mereka inginkan?
Apakah kamu ingin menjadi orang yang sukses, bertanggung jawab, atau bisa
dipercaya? Kebanyakkan anak akan mengatakan “Iya,” Tapi mereka tidak tahu
bagaimana caranya menjadi orang seperti itu. Guru dapat membantu dengan
bertanya, seperti apa jika mereka menjadi orang seperti itu. ketika anak sudah
mendapat gambaran yang jelas tentang orang seperti apa yang mereka inginkan,
guru dapat membantu anak-anak tetap fokus pada gambaran tersebut.
Berbagi untuk merubah diri sendiri menjadi lebih baik. Salam bahagia Salam Pancasila.
