Senin, 10 April 2023

Koneksi antar materi modul 3.1 pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan universal sebagai pemimpin

 Koneksi antar materi modul 3.1 Pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan universal sebagai pemimpin


1.    Sesuai filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?

Filosofi Ki Hajar Dewantoto dengan Pratap Triloka memiliki  kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin. Dalam beberapa praktek sehari-hari dalam proses pembelajaran ini akan tercermin dalam seluruh aspek tindakan yang terjadi dimana kita sebagai guru yang berfungsi sebagai pemimpin pembelajaran. Seperti halnya, ketika meneladani filosofi KHD, “Ing Ngarso Sun Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut wuri Handayani”. Di depan memberikan contoh, ketika di tengah kita memberikan bimbingan, dan ketika berada di belakang , akan memberikan motivasi pada murid. Menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya sebagai anggota masyarakat.  Pembelajaran berpusat pada anak, Belajar berpusat pada anak, anak merdeka dalam belajar, anak diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya.

Anak merdeka dalam berkreasi dan berinovasi, dimana guru sebagai pemberi teladan, pembimbing dan motivator untuk anak  yang mana anak bagai sehelai kertas yang sudah ditulis penuh, tetapi  semua tulisan-tulisan itu masih samar. Pendidik berkewajiban dan berkuasa menebalkan segala tulisan yang suram dan yang berisi baik agar kelak nampak sebagai budi pekerti yang baik.

Pengambilan keputusan di saat kita tidak boleh putus asa jika menemukan suatu keunikan dan hambatan pada murid, kita harus bisa MENGUASAI DIRI secara tetap dan kuat akan dapat melenyapkan /mengalahkan tabiat-tabiat biologis yang tidak baik. Menguasai diri merupakan tujuan pendidikan dan maksud keadaban. Watak biologis/budi pekerti adalah jiwa ,manusia yang bersifat tetap dan pasti.

Pengambilan keputusan berhubungan dengan Budi pekerti dapat dikatakan sebagai hasil dari bersatunya gerak pikiran, perasaan, dan kemauan/kehendak sehingga menimbulkan tenaga.  Bagaimana mendidik siswa dengan cara mengajar yang menyenangkan dengan media pemainan yang disesuaikan dengan materi mapel Bahasa Inggris. Mendidik tentang cekatan, seksama, menjernihkan penglihatan , perhitungan, perkiraan, kekuatan, kesehatan, keberanian, sikap tertib dan teratur.

Pengambilan keputusan ketika kita memilih menggunakan asas tricon dalam mengajar ; harus kontinuetit dengan kebudayaan sendiri, konvergensi dengan kebudayaan yang ada, konsentris pada alam-alam kebudayaan sedunia.

Pengambilan keputusan ketika menerapkan tentang maksud pengajaran dan pendidikan yang berguna untuk perikehidupan bersama ialah memerdekakan manusia sebagai bagian dari persatuan (rakyat). Manusia merdeka adalah manusia yang hidupnya lahir atau batin tidak tergantung pada orang lain, akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri.

2.      2.  Nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan, dimana setiap keputusan yang kita ambil harus didasarkan pada rasa penuh tanggung jawab, nilai-nilai kebajikan, serta berpihak pada murid. Rasa penuh tanggung jawab dan nilai-nilai kebajikan universal bersumber dari nilai-nilai yang telah tertanam dalam diri kita, sebagai salah satu kodrat alam, yang mana telah tertanam dari pendidikan keluarga. 3 ketiga prinsip  ( berfikir berbasis hasil akhir, peraturan, dan rasa peduli ), sebagai alat bantu untuk pengambilan keputusan dengan pilihan-pilihan penuh tantangan. Untuk mengetahui apakah situasi tersebut dilemma etika atau bujukan moral, yang selanjutnya jika terjadi situasi dilema etika maka harus dilihat dari beberapa kategori paradigm dilemma etika. Dalam pengambilan keputusan inilah seorang pemimpin pembelajaran harus mempunyai nilai-nilai kebajikan yang sudah tertanam kuat dalam dirinya agar bisa mengambil keputusan yang tepat.

 

3.      3. Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.

Menurut saya, setiap keputusan yang diambil oleh pendamping atau fasilitator dalam pembelajaran kita, tentu sudah melalui pemahaman paradigm, prinsip, dan konsep pengambilan dan pengujian keputusan dengan didasarkan pada rasa penuh tanggng jawab, nilai- nilai kebajikan universal,dan berpihak pada kami sebagai peserta diklat. Ada pertanyaan dalam diri atas pengambilan keputusan tersebut tetapi sudah diberikan coaching yang tepat.

 

  1. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?

Seorang guru yang mempunyai aspek sosial emosional yang baik, lebih efektif dan cenderung lebih resilien/tangguh dan merasa nyaman di kelas  karena mereka dapat bekerja lebih baik dengan murid. Terciptanya lingkungan belajar yang lebih positif, peningkatan sikap positif dan toleransi murid terhadap dirinya, orang lain dan lingkungan sekolah. Selain itu, PSE di kelas terbukti dapat menghasilkan pencapaian akademik yang lebih baik. PSE memberikan pondasi yang kuat bagi murid untuk dapat sukses dalam berbagai area kehidupan mereka di luar akademik, termasuk kesejahteraan psikologis (well-being) secara optimal. Dengan demikian guru mampu memahami, menghayati, dan  mengelola emosi  (kesadaran diri), mampu menetapkan dan mencapai tujuan positif  (pengelolaan diri), mampu merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain (kesadaran sosial), mampu membangun dan mempertahankan hubungan yang positif (keterampilan berelasi), dan mampu membuat keputusan yang bertanggung jawab. (pengambilan keputusan yang bertanggung jawab)

  1. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Nilai-nilai yang dianut seorang pendidik memang akan mempengaruhi pengambilan keputusan yang bertanggung jawab sebagai seorang pemimpin pembelajaran ( pendidik ), untuk itu nilai-nilai ini harus dimiliki oleh seorang pendidik, secara alami sudah tertanam dari awal sebagai kodrat alam yang tidak berubah-ubah, dan tentu saja nilai-nilai yang dianut ini harus memiliki nilai-nilai kenbajikan yang universal. Jika tidak demikian, maka dalam pengambilan keputusan tidak bertanggung jawab, tidak mengandung nilai-nilai kebajikan universal, dan tidak berpihak pada murid. Hendaknya seorang pendidik terus memupuk nilai-nilai kebajikan yang sudah didapatkan dari kodrat alamnya.

  1. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Pengambilan keputusan yang tepat yang berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman, yaitu keputusan yang diambil ketika kita dalam keadaan penguasaan diri yang baik, control diri yang baik, memahami paradigm dilemma etika dengan baik, menggunakan prinsip-prinsip yang membantu dalam menghadapi pilihan yang penuh tantangan dan menggunakan 9 langkah konsep dan pengujian keputusan.  

  1. Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Tantangan-tantangan yang dihadapi adalah tidak adanya persamaan pandangan terhadap sebuah pengambilan keputusan yang berbasis nilai-nilai kebajikan universal sebagai pemimpin pembelajaran sebagai guru penggerak.

Beberapa hal berkaitan dengan perubahan paradigm di lingkungan sekolah kami. Pandangan paradigm tentang dilemma etika yang berbeda dari masing-masing pendidik. Ada yang masih menganut paradigm rasa kasihan, kelompok, dan kesetiaan.

  1. Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

Pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita, sangat bervariasi. Mungkin ini bisa dipengaruhi oleh faktor lain yang terjadi selama ini yang sudah membudaya. Kultur budaya setempat juga bisa mempengaruhi keputusan yang sudah kita ambil dengan pengajaran yang memerdekakan murid kita. Muncul persepsi yang kontras dan yang mendukung. Salah paham dengan makna pengajaran yang memerdekakan murid, sehingga murid dengan latar belakang budaya yang berbeda akan merasa belum siap dan bahkan dianggap hal itu membuat mereka merdeka dalam arti tidak belajar, belajar dengan santai. Faktor lain juga bisa datang dari guru sebagai teman sejawat yang tidak memahami benar apa itu pengajaran dengan memerdekakan murid-murid, sehingga mereka mulai memanfaatkan wacana ini sebagai alat pembenaran diri dalam menghindari tugas pokoknya. Pemahaman yang berbeda akan menimbulkan banyak keluhan dari guru tersebut dan tidak mau keluar dari zona nyaman. Faktor lain juga bisa datang dari orang tu wali murid yang tidak paham dengan konsep pengajaran memerdekakan murid ditanggapi dengan hal yang kurang positif, menganggap guru ingin lepas dari tugasnya mengajar dengan sistem lama.

Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

Menurut hematnya, pembelajaran yang tepat adalah yang merdeka, dalam arti bahwa merdeka akan pemahaman tentang “konsep pengajaran dengan memerdekakan murid ini” terlebih dahulu, baik orang tua, guru, murid, dan lingkungan masyarakat. Orang tua merdeka mengetahui konsep tersebut. Merdeka, bebas mengetahui semuanya tentang konsep tersebut. Yang tentu saja kita harus paham juga bahwa tidak semua orang tua mampu merdeka mengakses konsep tersebut karena ada keterbatasan-keterbatasan, misalnya keterbatasan penguasaan IT, karena pendidikan atau buta huruf dll. Nah bagaimana cara mengatasi ini ? yang mana harus dilaksanakan solusi yang serempak dari seluruh stakeholders dari atas sampai bawah, dari pusat sampai daerah. Perlu ada sosialisasi serempak, dengan menilik kebutuhannya, jika yang sudah memiliki kemampuan , otomatis perlakuan sosialisasinya akan berbeda. Guru saja banyak yang tidak paham, bahkan ada yang tidak mau paham karena tidak mau keluar dari zona nyaman untuk literasi. Bagaimana ini tersolusi, perlu ada perlakuaan dari pemimpin baik dari coaching, sampai pada pengambilan keputusan akan mereka dengan tepat sebagai solusi. Banyak pengambilan keputusan yang tidak berdasar nilai-nilai kebajikan sehingga tidak memikirkan jangka panjang. Dikejar target yang nampak baik tetapi belum tentu benar. Nilai-nilai kebajikan yang terabaikan baik oleh pimpinan maupun guru, sehingga kosnep pembelajaran yang memerdekan murid dengan tujuan mulia akan sulit terwujud. Murid dengan kurang pemahaman tentang konsep pembelajaran yang memerdekakannya juga akan bertidak seolah-olah murid merdeka bebas dari belajar, apalagi adanya HAM. Pemahaman yang salah akan konsep tersebut sangat berasa dalam proses pembelajaran. Sosialisasi yang mereka tidak peduli untuk akses, sehingga mereka mengartikannya dengan sangat dangkal. Pembenahan nilai-nilai kebajikan pada profil pelajar pancasila sangat bagus, karena karakter budi pekerti nilai-nilai kebajikan wajib dimiliki oleh murid dan guru agar pendidikan menghasilkan output yang tidak hanya berketrampilan dan berpengetahuan tetapi juga mempunyai budi pekerti yang luhur agar menjadi manusia yang selamat dunia akhirat.

  1. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Menurut saya, Pengambilan keputusan yang tepat dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya. Keputusan yang mempertimbangkan segala paradigm yang terjadi dengan memberikan perlakuan yang merupakan tindak lanjut dari keputusan tersebut secara berkelanjutan. Keputusan yang tidak merugikan nilai-nilai kebajikan baik murid yang bersangkutan maupun orang lain. Keputusan yang diambil dengan tidak mengabaikan proses yang terjadi sebelum situasi tersebut. Pengambilan keputusan yang menurut orang lain itu tidak menolong tetapi keputusan itu mendidik murid tersebut. Intinya tidak setiap keputusan itu harus manis, terkadang juga bisa pahit untuk murid tetapi yakinlah bahwa keputusan yang diambil tersebut akan manis di masa jangka panjang murid, sebab keputusannya berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal.

  1. Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Kesimpulan yang saya dapat tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya sangat mengilhami dan memelajari saya sebagai seorang guru. Beberapa hal mempertegas kebingungan saya , mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak harus dilakukan. Bahkan membuat saya percaya diri dalam bertindak dan berbuat untuk menjadi pemimpin pembelajaran. Pemikiran menjadi terbuka, selalu berfikir positif, dan berbudaya positif lebih lagi. Lebih bersemangat berkreasi berinovasi dan menjadi pemimpin yang benar. Serasa menyembuhkan jiwa yang hampir kehilangan arah. Bagai ajian sakti yang menyembuhkan saya, anak saya, keluarga saya, murid saya, serta komunitas saya. Kiranya semua teman saya akan bisa mengikuti program ini supaya pendidikan yang diidamkan bisa tercapai.

  1. Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

Pemahaman saya tentang konsep-konsep yang telah saya pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan, sangat membuka kebingungan yang terjadi pada diri saya. Ternyata apa yang saya lakukan selama ini sudah sesuai tapi kurang optimal. Dari panduan pada modul ini pemahaman saya bertambah. Hal-hal yang menurut saya di luar dugaan adalah mengetahui penyebab mengapa ada keputusan pemimpin yang menimbulkan polemic yang signifikan. Dan kadang mengapa seorang pemimpin mengambil keputusan yang berbeda dari pemikiran kita.

  1. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

Saya berfikir jika situasi moral dilemma ini sama dengan bujukan moral. Saya pernah menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema, ketika seorang murid tidak pernah mengerjakan tugas, malas pergi ke sekolah dan nilainya buruk. Di sisi lain, saya sudah melakukan proses  yang seharusnya saya harus lakukan, misalnya, saya melakukan tugas saya mengajar dengan rajin, coaching pribadi dengan murid, kemudian coaching dengan orang tua, kolaborasi dengan wali kelas dan BK, panggilan, homevisit, pembelajaran inklusif dengan dia. Saya memutuskan murid tersebut tidak tuntas pada mata pelajaran saya.

Dalam modul ini lebih belajar ke dilemma etika yang kita hadapi, sehingga saya kurang berlatih dalam menghadapi moral dilemma/ bujukan moral.  

  1. Bagaimana dampak mempelajari konsep  ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Dampaknya bagi saya sangat banyak. Perubahan yang terjadi adalah saya dalam mengambil keputusan menjadi lebih bijaksana, bisa mengelola emosional dan sosial saya, keputusan saya dasarkan pada nilai-nilai kebajikan, bisa mengetahui kebutuhan dasar murid dan guru, bisa meletakkan posisi control yang tepat, menularkan budaya positif dengan disiplin positif. Lebih bisa memperjelas visi saya sebagai guru masa depan. Mengambil keputusan dalam Praktek pembelajaran berdiferensiasi dan asesmen bisa saya terapkan dikelas lebih teratur. Pembelajaran berpusat pada murid dengan keyakinan kelas.

  1. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi saya sebagai seorang individu dan saya sebagai seorang pemimpin?

Bagi saya sebagai seorang individu, topic modul ini memberikan penguatan pada nilai-nilai kebajikan universal saya sebagai manusia yang mana pendidikan keluarga telah menuntun kodrat alam saya menjadi terarah. Topik ini membuat sesuai yang samar yang harus saya lakukan ketika saya harus mengambil keputusan oleh diri saya baik untuk apa yang harus saya lakukan dengan mengambil keputusan dalam benar dan benar yang berkaitan dengan kehidupan seharihari sebagai seorang istri, anggota masyarakat, dan seorang ibu; apa yang harus saya putuskan pada anak jika menemui situasi yang membutuhkan pengambilan keputusan yang berbasis nila-nilai kebajikan universal.

 Semoga bermanfaat !

Sumber Modul : CGP a.7

Pendidikan karakter

     Pendidikan merupakan salah satu aspek yang harus dilalui oleh setiap makhluk hidup, terutama, manusia yang masih hidup. Pen...