Menunggu Waktu
Beranjaknya sang mentari menuju peraduan senyap nan gelap. Menggelincir pelan tetapi pasti menuruni bukit siang menuju lembah nan kelam gelap menghitam. Aura panas terik berangsur memudar dikalahkan oleh deru putaran sang orbit semesta.
Gundah menjalar di ranting hati yang tak kunjung terjawab. Merayap menahan hempasan hasrat bosan menderu di aliran darah tak kunjung padam. Lahar berdentum berbunyi tiap detik beranjak. Tak nampak lava setetespun yang mampu meluluhkan panas meronta. Asap merah mendung gelap hitam meledak kuat berbau belerang. Umpatan tersendat penuh emosi terantuk batu karang kejengkelan. No sabar No dispensasi.
Sesekali gemertuk gigi dan decak tak bersahabat menggumam lembut mengerikan. Why ? What happened ? Tanya bergelayut di memori , sesal tak bersambut. Hanya self control saja mampu membentengi hati tuk cerai dari emosi. Sabar...sabar...be patient....calmly .... my love...please !!!
Segar menghamba, api berkobar merunduk menepi bersahaja. Hati terkalahkan oleh hati. Great, hati abstrak sulit terkuasai. Akibat yang kadang tersesali. Tangis, nestapa, luka, duka, dan perih menghampiri tanpa pensiun dini.
Sehat, awet muda, lulus pencobaan jarum suntik, faedah dari self control. Goal emas kuning kemilau merasuk aura muka bersinar nan glowing. Menunggu bosan dikatakan beberapa insan, namun bonus medali juara akan tergengam di tangan nan kemilau gemilang. * AH
Tidak ada komentar:
Posting Komentar