Jumat, 25 Juli 2025

Pendidikan karakter

     Pendidikan merupakan salah satu aspek yang harus dilalui oleh setiap makhluk hidup, terutama, manusia yang masih hidup. Pendidikan akan berkaitan dengan belajar, baik formal maupun informal. Belajar melalui jalan formal, tentu saja, harus belajar dari jenjang Paud, TK, SD, SMP, SMA/SMK, dan selanjutnya.  Sedangkan belajar informal, melalui belajar kursus, mandiri, dan dari pengalaman. Sesuai dengan Ki Hajar Dewantoro, belajar sepanjang hayat. Belajar seumur hidup, selama makhluk masih hidup, seharusnya belajar karena dikatakan manusia itu hidup jika harus mengalami perubahan dan perkembangan. Dalam belajar, meliputi sikap/karakter, pengetahuan, dan ketrampilan. Karakter yang benar bisa mengendalikan pengetahuan yang tidak benar. Karakter mampu mengarahkan kekeliruan dan kesalahan yang terjadi. 

Kamis, 24 Juli 2025

Kamis Manis

                                               Kamis Manis
     Hari Kamis Manis, penyesuaian imbuhan akhiran pada frase yang berakhiran suku kata yang sama  yaitu "is..is..is". Enak diucapkan dan pas dirasakan. Tetapi makna yang terkandung juga mendalam. Baik, positif, dan mendamaikan. Tidak ada larangan dalam mencocokkan satu kata dengan kata lainnya. Selama padu padan itu tidak menimbulkan sengketa dan persepsi pemahaman yang tidak nyaman.
       Bisa saja sebutan itu diambil karena memang Hari Kamis , para pegawai di beberapa daerah hrs memakai pakaian motif tenun atau lainnya yang merupakan hasil dari potensi daerahnya, sehingga nampak manis dalam penampilan dan auranya. 
      Sah-sah saja ketika seseorang ataupun banyak orang mengambil dan menggunakan kata "manis" tersebut untuk menyampaikan makna yang mereka inginkan. 
     Manis berarti "Legi" dalam Bahasa Jawa. Enak dan menyenangkan. Membuat puas bagi yang  menikmatinya.Nyaman dan tidak membuat trauma. Tetapi yang manis tidak selalu membuat sehat, yang manis tidak selalu bisa dianggap remeh, karena di balik Manis, ada bahaya yang mengancam kesehatan, seperti zat gula. Yang manis tidak selalu bisa dianggap remeh karena yang manis belum tentu lemah, bisa di atur, dan diinjak, bahkan bisa menipu menjebak, seperti karakter manusia yang bersifat manis , kemunafikan, kekuatan, dan tipu daya. 
     Penulis berharap kita boleh manis, dari kulit, hati, dan pikiran. Dari karakter tercermin ke tindakan. Jangan hanya kita mikir dunia saja karena kita pikir masih didunia, kemudian kita budidaya karakter manis tipu muslihat yang kental. Nunggu masa nunggu tiba. (@9_5

Kotok Pete / Lamtoro

                Kotok Pete/ lamtoro

Bahan :
Segenggam Pete yg sudah dikupas
Tempe 1 lempeng
Ikan Teri segenggam
Daun Kemangi
Santan kental 2 gelas
Bawang merah 6 buah
Bawang putih 3 buah
Cabe rawit  yang masih hijau 10 buah
lemgkuas
Jahe
kunyit 1 cm
Kemiri 5 buah
Ketumbar 1 sendok
Daun jeruk 3 lembar
Kencur 1cm
Minyak goreng 3 sdm
Air 2 gelas untuk peras santan
Garam sckpny
Gula 1 sdm
Penyedap

Cara membuat:
1. Haluskan bumbu , kecuali lengkuas dan daun jeruk. 
2. Gongso/tumis bumbu halus, lengkuas, dan daun jeruk dg minyak goreng sampai tercium aroma
3. Masukkan tempe yg sudah dipotong kecil, teri yang sudah cuci, pete, dan cabe rawit hijau utuh. 
4. Masukkan santan, gula, garam, penyedap. 
5. Setelah mendidih, tes rasa, masukkan daun kemangi. 
6. Angkat dan siap disajikan. 
Selamat Mencoba! 
#Rote Ndao



Rabu, 23 Juli 2025

"ASA"

                                 .                                 "ASA"
Secara etimologi, Kata Asa memiliki banyak versi makna, diantaranya salah satunya adalah " Harapan". Harapan untuk ke depan dan masa yang akan datang. Keinginan seseorang untuk diri mereka sendiri. Keinginan untuk berubah menjadi lebih baik dan berpotensi. Harapan akan keinginan bisa terwujud, tentu saja yang baik adanya. Ini adalah ASA yang positif. Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa ASA bisa juga ke motion yang sebaliknya. Ini bisa terjadi dimana saja, kapan saja, dan pada siapa saja, tergantung situasi dan kondisi serta kepentingan yang harus terpenuhi. Yang paling penting juga karena karakter seseorang ketika ingin mewujudkan ASA itu dengan cara-cara yang berwibawa atau dengan cara lainnya. Tetapi inipun sudah sangat jarang terjadi di jaman kekinian seperti sekarang ini. Satu-satu saja yang masih memikirkan efek jangka panjangnya, dunia ataupun akherat, bahkan ada yg berkarakter, tentu saja mengetahui, tetapi tetap menabrak batasan - batasan. 
Jadi semua keinginan, harapan, cita-cita, yang populer disebut ASA,  tentu saja akan dimiliki oleh setiap manusia yang masih hidup ini, baik yg positif maupun sebaliknya. 
Semoga kita tetap bisa membuat diri kita bijaksana dengan ASA kita, karena akan berimbas pada hidup kita. Jika tidak tercapai , akan merana dan gelisah. Yang tercapai , akan merasa puas dan bahagia. BerASAlah sepanjang positif dan dengan cara positif pula.  Karena akan tabur dan tuai. Saat tuai, tetap bersyukur karena itu adalah wujud dari sebuah tanggung jawab.
(@tatik)

Senin, 27 November 2023

Mimpi Lucu

Sebagian orang berkata bahwa mimpi adalah bunga tidur. Sebagian orang mengatakan bahwa mimpi adalah firasat yang diberiksn oleh Tuhan untuk manusia. Dikatakan mitos ketika mimpi itu tidak menjadi kenyataan. Dan dikatakan fakta ketika mimpi itu terjadi dalam kehidupan kita , cepat atau lambat terealisasi. 
Mimpi sebagai bunga tidur bisa terjadi pada jam-jam tertentu. Demikian juga mimpi yang bisa menjadi kenyataan , jika mimpi terjadi di sebagian jam-jam di malam hari. 
Aku memberi judul tulisan ini sebagai mimpi yang lucu, dimana mimpi ini aku alami sendiri. Sebagai manusia yang banyak kesalahan dan kekeliruan ini bermimpi sesuatu yang seharusnya orang-orang suci yang memiliki kehidupan putih tanpa noda. 
Pada awalnya aku tidak bisa tidur padahal jam sudah rnenunjukkan pukul 23.56 Wita. Kuhabiskn waktu sebagai pengantar tidur dengan membaca informasi - informasi yang ada di sosial media. Beberapa kali  kantuk datang dan aku putuskan untuk menatikan handphone. Terlelap nyaman karena telah didera oleh kantuk yang bersarang. Mulailah mimpi itu terjadi, mimpi yang lucu menurutku. Mimpi melihat sebuah kelahiran seorang bayi laki-laki yang tidak seperti biasanya. Dalam sehari esoknya bayi itu sudah mampu berjalan. Dan lucunya dia tidak memiliki jari tangan yang lengkap dengan lima jari, tapi hanya tiga atau empat jari. Dan beberapa hari kemudian, dia sudah dewasa. Bahkan dia bisa berubah-ubah wajah, jenis kelamin, tua-muda, buruk cantik, ganteng jelek, orang melayu negro arya, dan semua bentuk. Dia menebarkan kebaikan dimana-mana. Aku seperti melihat semua apa yang dia buat. Aku merasa dia tidak sebenarnya berbuat benar. Mukanya manis tapi tersungging senyum penuh intrik. Suatu ketika entah siapa yang beritahu aku jika dia adalah seorang dajal. Dan hal itu aku sampaikan pada orang -orang bahwa dia adalah dajal. Dan orang tidak mempercayaiku. Dan aku buktikan untuk aku menemuinya. Entah siapa yang memberitahuku jika saat aku ketemu dia, aku harus mengucapkan salam tetapi saat aku mengucapkan salam padanya, dia tidak mampu menjawabku. Dia belebetan untuk mengalihkan situasi dimana supaya dia tidak harus menjawabnya. Dan aku

Senin, 10 April 2023

Koneksi antar materi modul 3.1 pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan universal sebagai pemimpin

 Koneksi antar materi modul 3.1 Pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan universal sebagai pemimpin


1.    Sesuai filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?

Filosofi Ki Hajar Dewantoto dengan Pratap Triloka memiliki  kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin. Dalam beberapa praktek sehari-hari dalam proses pembelajaran ini akan tercermin dalam seluruh aspek tindakan yang terjadi dimana kita sebagai guru yang berfungsi sebagai pemimpin pembelajaran. Seperti halnya, ketika meneladani filosofi KHD, “Ing Ngarso Sun Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut wuri Handayani”. Di depan memberikan contoh, ketika di tengah kita memberikan bimbingan, dan ketika berada di belakang , akan memberikan motivasi pada murid. Menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya sebagai anggota masyarakat.  Pembelajaran berpusat pada anak, Belajar berpusat pada anak, anak merdeka dalam belajar, anak diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya.

Anak merdeka dalam berkreasi dan berinovasi, dimana guru sebagai pemberi teladan, pembimbing dan motivator untuk anak  yang mana anak bagai sehelai kertas yang sudah ditulis penuh, tetapi  semua tulisan-tulisan itu masih samar. Pendidik berkewajiban dan berkuasa menebalkan segala tulisan yang suram dan yang berisi baik agar kelak nampak sebagai budi pekerti yang baik.

Pengambilan keputusan di saat kita tidak boleh putus asa jika menemukan suatu keunikan dan hambatan pada murid, kita harus bisa MENGUASAI DIRI secara tetap dan kuat akan dapat melenyapkan /mengalahkan tabiat-tabiat biologis yang tidak baik. Menguasai diri merupakan tujuan pendidikan dan maksud keadaban. Watak biologis/budi pekerti adalah jiwa ,manusia yang bersifat tetap dan pasti.

Pengambilan keputusan berhubungan dengan Budi pekerti dapat dikatakan sebagai hasil dari bersatunya gerak pikiran, perasaan, dan kemauan/kehendak sehingga menimbulkan tenaga.  Bagaimana mendidik siswa dengan cara mengajar yang menyenangkan dengan media pemainan yang disesuaikan dengan materi mapel Bahasa Inggris. Mendidik tentang cekatan, seksama, menjernihkan penglihatan , perhitungan, perkiraan, kekuatan, kesehatan, keberanian, sikap tertib dan teratur.

Pengambilan keputusan ketika kita memilih menggunakan asas tricon dalam mengajar ; harus kontinuetit dengan kebudayaan sendiri, konvergensi dengan kebudayaan yang ada, konsentris pada alam-alam kebudayaan sedunia.

Pengambilan keputusan ketika menerapkan tentang maksud pengajaran dan pendidikan yang berguna untuk perikehidupan bersama ialah memerdekakan manusia sebagai bagian dari persatuan (rakyat). Manusia merdeka adalah manusia yang hidupnya lahir atau batin tidak tergantung pada orang lain, akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri.

2.      2.  Nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan, dimana setiap keputusan yang kita ambil harus didasarkan pada rasa penuh tanggung jawab, nilai-nilai kebajikan, serta berpihak pada murid. Rasa penuh tanggung jawab dan nilai-nilai kebajikan universal bersumber dari nilai-nilai yang telah tertanam dalam diri kita, sebagai salah satu kodrat alam, yang mana telah tertanam dari pendidikan keluarga. 3 ketiga prinsip  ( berfikir berbasis hasil akhir, peraturan, dan rasa peduli ), sebagai alat bantu untuk pengambilan keputusan dengan pilihan-pilihan penuh tantangan. Untuk mengetahui apakah situasi tersebut dilemma etika atau bujukan moral, yang selanjutnya jika terjadi situasi dilema etika maka harus dilihat dari beberapa kategori paradigm dilemma etika. Dalam pengambilan keputusan inilah seorang pemimpin pembelajaran harus mempunyai nilai-nilai kebajikan yang sudah tertanam kuat dalam dirinya agar bisa mengambil keputusan yang tepat.

 

3.      3. Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.

Menurut saya, setiap keputusan yang diambil oleh pendamping atau fasilitator dalam pembelajaran kita, tentu sudah melalui pemahaman paradigm, prinsip, dan konsep pengambilan dan pengujian keputusan dengan didasarkan pada rasa penuh tanggng jawab, nilai- nilai kebajikan universal,dan berpihak pada kami sebagai peserta diklat. Ada pertanyaan dalam diri atas pengambilan keputusan tersebut tetapi sudah diberikan coaching yang tepat.

 

  1. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?

Seorang guru yang mempunyai aspek sosial emosional yang baik, lebih efektif dan cenderung lebih resilien/tangguh dan merasa nyaman di kelas  karena mereka dapat bekerja lebih baik dengan murid. Terciptanya lingkungan belajar yang lebih positif, peningkatan sikap positif dan toleransi murid terhadap dirinya, orang lain dan lingkungan sekolah. Selain itu, PSE di kelas terbukti dapat menghasilkan pencapaian akademik yang lebih baik. PSE memberikan pondasi yang kuat bagi murid untuk dapat sukses dalam berbagai area kehidupan mereka di luar akademik, termasuk kesejahteraan psikologis (well-being) secara optimal. Dengan demikian guru mampu memahami, menghayati, dan  mengelola emosi  (kesadaran diri), mampu menetapkan dan mencapai tujuan positif  (pengelolaan diri), mampu merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain (kesadaran sosial), mampu membangun dan mempertahankan hubungan yang positif (keterampilan berelasi), dan mampu membuat keputusan yang bertanggung jawab. (pengambilan keputusan yang bertanggung jawab)

  1. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Nilai-nilai yang dianut seorang pendidik memang akan mempengaruhi pengambilan keputusan yang bertanggung jawab sebagai seorang pemimpin pembelajaran ( pendidik ), untuk itu nilai-nilai ini harus dimiliki oleh seorang pendidik, secara alami sudah tertanam dari awal sebagai kodrat alam yang tidak berubah-ubah, dan tentu saja nilai-nilai yang dianut ini harus memiliki nilai-nilai kenbajikan yang universal. Jika tidak demikian, maka dalam pengambilan keputusan tidak bertanggung jawab, tidak mengandung nilai-nilai kebajikan universal, dan tidak berpihak pada murid. Hendaknya seorang pendidik terus memupuk nilai-nilai kebajikan yang sudah didapatkan dari kodrat alamnya.

  1. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Pengambilan keputusan yang tepat yang berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman, yaitu keputusan yang diambil ketika kita dalam keadaan penguasaan diri yang baik, control diri yang baik, memahami paradigm dilemma etika dengan baik, menggunakan prinsip-prinsip yang membantu dalam menghadapi pilihan yang penuh tantangan dan menggunakan 9 langkah konsep dan pengujian keputusan.  

  1. Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Tantangan-tantangan yang dihadapi adalah tidak adanya persamaan pandangan terhadap sebuah pengambilan keputusan yang berbasis nilai-nilai kebajikan universal sebagai pemimpin pembelajaran sebagai guru penggerak.

Beberapa hal berkaitan dengan perubahan paradigm di lingkungan sekolah kami. Pandangan paradigm tentang dilemma etika yang berbeda dari masing-masing pendidik. Ada yang masih menganut paradigm rasa kasihan, kelompok, dan kesetiaan.

  1. Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

Pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita, sangat bervariasi. Mungkin ini bisa dipengaruhi oleh faktor lain yang terjadi selama ini yang sudah membudaya. Kultur budaya setempat juga bisa mempengaruhi keputusan yang sudah kita ambil dengan pengajaran yang memerdekakan murid kita. Muncul persepsi yang kontras dan yang mendukung. Salah paham dengan makna pengajaran yang memerdekakan murid, sehingga murid dengan latar belakang budaya yang berbeda akan merasa belum siap dan bahkan dianggap hal itu membuat mereka merdeka dalam arti tidak belajar, belajar dengan santai. Faktor lain juga bisa datang dari guru sebagai teman sejawat yang tidak memahami benar apa itu pengajaran dengan memerdekakan murid-murid, sehingga mereka mulai memanfaatkan wacana ini sebagai alat pembenaran diri dalam menghindari tugas pokoknya. Pemahaman yang berbeda akan menimbulkan banyak keluhan dari guru tersebut dan tidak mau keluar dari zona nyaman. Faktor lain juga bisa datang dari orang tu wali murid yang tidak paham dengan konsep pengajaran memerdekakan murid ditanggapi dengan hal yang kurang positif, menganggap guru ingin lepas dari tugasnya mengajar dengan sistem lama.

Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

Menurut hematnya, pembelajaran yang tepat adalah yang merdeka, dalam arti bahwa merdeka akan pemahaman tentang “konsep pengajaran dengan memerdekakan murid ini” terlebih dahulu, baik orang tua, guru, murid, dan lingkungan masyarakat. Orang tua merdeka mengetahui konsep tersebut. Merdeka, bebas mengetahui semuanya tentang konsep tersebut. Yang tentu saja kita harus paham juga bahwa tidak semua orang tua mampu merdeka mengakses konsep tersebut karena ada keterbatasan-keterbatasan, misalnya keterbatasan penguasaan IT, karena pendidikan atau buta huruf dll. Nah bagaimana cara mengatasi ini ? yang mana harus dilaksanakan solusi yang serempak dari seluruh stakeholders dari atas sampai bawah, dari pusat sampai daerah. Perlu ada sosialisasi serempak, dengan menilik kebutuhannya, jika yang sudah memiliki kemampuan , otomatis perlakuan sosialisasinya akan berbeda. Guru saja banyak yang tidak paham, bahkan ada yang tidak mau paham karena tidak mau keluar dari zona nyaman untuk literasi. Bagaimana ini tersolusi, perlu ada perlakuaan dari pemimpin baik dari coaching, sampai pada pengambilan keputusan akan mereka dengan tepat sebagai solusi. Banyak pengambilan keputusan yang tidak berdasar nilai-nilai kebajikan sehingga tidak memikirkan jangka panjang. Dikejar target yang nampak baik tetapi belum tentu benar. Nilai-nilai kebajikan yang terabaikan baik oleh pimpinan maupun guru, sehingga kosnep pembelajaran yang memerdekan murid dengan tujuan mulia akan sulit terwujud. Murid dengan kurang pemahaman tentang konsep pembelajaran yang memerdekakannya juga akan bertidak seolah-olah murid merdeka bebas dari belajar, apalagi adanya HAM. Pemahaman yang salah akan konsep tersebut sangat berasa dalam proses pembelajaran. Sosialisasi yang mereka tidak peduli untuk akses, sehingga mereka mengartikannya dengan sangat dangkal. Pembenahan nilai-nilai kebajikan pada profil pelajar pancasila sangat bagus, karena karakter budi pekerti nilai-nilai kebajikan wajib dimiliki oleh murid dan guru agar pendidikan menghasilkan output yang tidak hanya berketrampilan dan berpengetahuan tetapi juga mempunyai budi pekerti yang luhur agar menjadi manusia yang selamat dunia akhirat.

  1. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Menurut saya, Pengambilan keputusan yang tepat dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya. Keputusan yang mempertimbangkan segala paradigm yang terjadi dengan memberikan perlakuan yang merupakan tindak lanjut dari keputusan tersebut secara berkelanjutan. Keputusan yang tidak merugikan nilai-nilai kebajikan baik murid yang bersangkutan maupun orang lain. Keputusan yang diambil dengan tidak mengabaikan proses yang terjadi sebelum situasi tersebut. Pengambilan keputusan yang menurut orang lain itu tidak menolong tetapi keputusan itu mendidik murid tersebut. Intinya tidak setiap keputusan itu harus manis, terkadang juga bisa pahit untuk murid tetapi yakinlah bahwa keputusan yang diambil tersebut akan manis di masa jangka panjang murid, sebab keputusannya berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal.

  1. Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Kesimpulan yang saya dapat tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya sangat mengilhami dan memelajari saya sebagai seorang guru. Beberapa hal mempertegas kebingungan saya , mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak harus dilakukan. Bahkan membuat saya percaya diri dalam bertindak dan berbuat untuk menjadi pemimpin pembelajaran. Pemikiran menjadi terbuka, selalu berfikir positif, dan berbudaya positif lebih lagi. Lebih bersemangat berkreasi berinovasi dan menjadi pemimpin yang benar. Serasa menyembuhkan jiwa yang hampir kehilangan arah. Bagai ajian sakti yang menyembuhkan saya, anak saya, keluarga saya, murid saya, serta komunitas saya. Kiranya semua teman saya akan bisa mengikuti program ini supaya pendidikan yang diidamkan bisa tercapai.

  1. Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

Pemahaman saya tentang konsep-konsep yang telah saya pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan, sangat membuka kebingungan yang terjadi pada diri saya. Ternyata apa yang saya lakukan selama ini sudah sesuai tapi kurang optimal. Dari panduan pada modul ini pemahaman saya bertambah. Hal-hal yang menurut saya di luar dugaan adalah mengetahui penyebab mengapa ada keputusan pemimpin yang menimbulkan polemic yang signifikan. Dan kadang mengapa seorang pemimpin mengambil keputusan yang berbeda dari pemikiran kita.

  1. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

Saya berfikir jika situasi moral dilemma ini sama dengan bujukan moral. Saya pernah menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema, ketika seorang murid tidak pernah mengerjakan tugas, malas pergi ke sekolah dan nilainya buruk. Di sisi lain, saya sudah melakukan proses  yang seharusnya saya harus lakukan, misalnya, saya melakukan tugas saya mengajar dengan rajin, coaching pribadi dengan murid, kemudian coaching dengan orang tua, kolaborasi dengan wali kelas dan BK, panggilan, homevisit, pembelajaran inklusif dengan dia. Saya memutuskan murid tersebut tidak tuntas pada mata pelajaran saya.

Dalam modul ini lebih belajar ke dilemma etika yang kita hadapi, sehingga saya kurang berlatih dalam menghadapi moral dilemma/ bujukan moral.  

  1. Bagaimana dampak mempelajari konsep  ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Dampaknya bagi saya sangat banyak. Perubahan yang terjadi adalah saya dalam mengambil keputusan menjadi lebih bijaksana, bisa mengelola emosional dan sosial saya, keputusan saya dasarkan pada nilai-nilai kebajikan, bisa mengetahui kebutuhan dasar murid dan guru, bisa meletakkan posisi control yang tepat, menularkan budaya positif dengan disiplin positif. Lebih bisa memperjelas visi saya sebagai guru masa depan. Mengambil keputusan dalam Praktek pembelajaran berdiferensiasi dan asesmen bisa saya terapkan dikelas lebih teratur. Pembelajaran berpusat pada murid dengan keyakinan kelas.

  1. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi saya sebagai seorang individu dan saya sebagai seorang pemimpin?

Bagi saya sebagai seorang individu, topic modul ini memberikan penguatan pada nilai-nilai kebajikan universal saya sebagai manusia yang mana pendidikan keluarga telah menuntun kodrat alam saya menjadi terarah. Topik ini membuat sesuai yang samar yang harus saya lakukan ketika saya harus mengambil keputusan oleh diri saya baik untuk apa yang harus saya lakukan dengan mengambil keputusan dalam benar dan benar yang berkaitan dengan kehidupan seharihari sebagai seorang istri, anggota masyarakat, dan seorang ibu; apa yang harus saya putuskan pada anak jika menemui situasi yang membutuhkan pengambilan keputusan yang berbasis nila-nilai kebajikan universal.

 Semoga bermanfaat !

Sumber Modul : CGP a.7

Kamis, 23 Februari 2023

2.1.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 2.1 Memenuhi kebutuhan belajar murid dengan pembelajaran berdiferensiasi

 


2.1.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 2.1 Memenuhi kebutuhan belajar murid dengan pembelajaran berdiferensiasi

Belajar tentang modul 2.1 Memenuhi kebutuhan belajar murid dengan pembelajaran berdiferensiasi, memperjelas pemahaman saya dalam melayani murid dalam belajar, yang selama ini samar-samar. Saya mengetahui bahwa kemampuan murid satu dengan lainnya ada keanekaragaman serta keunikan. Selama ini hal tersebut bagi saya sulit mengalami penerimaan akan hal tersebut sehingga kadangkala saya berharap hal yang homogen terjadi pada penyerapan pembelajaran. Semua juga terjadi karena kurang semangatnya mencari strategi dalam mencari solusi kejadian ini. Hampir seluruh murid mempunyai keanekaragaman, satu dengan yang lain , tidak hanya dalam koloni, tetapi cenderung perorangan. Banyak kebutuhan dasar murid yang mengalami kekurangan dari masing-masing pribadi, baik kebutuhan dasar survival, beloved, fun, kebebasan, dan penguasaan.  Nilai-nilai kebajikan yang telah tertanam di pendidikan lingkungan keluarga dimiliki masing-masing murid juga bervariasi. Dengan segala keanekaragaman ini, posisi control sebagai seorang guru terutama dalam pembelajaran di kelas harus tepat sehingga bisa menerapkan segitiga restitusi yang tepat pula dalam mencari solusi bersama dengan murid. Tentu saja sesuai visi yang telah saya buat sebelumnya dari tujuan saya mengajar. Membuat kesepakatan belajar di kelas yang berupa keyakinan kelas.

Sesuai refleksi filosofi dari Bapak Ki Hajar Dewantoro bahwa guru hanya bisa menuntun dan mengarahkan kodrat alam murid sesuai kodrat zamannya untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Peran guru mengarahkan Nilai-nilai kebajikan pada murid. Seorang guru mempunyai peran dalam berbudaya positif di lingkungan kelas, sekolah, maupun masyarakat.

Perubahan pemikiran tersebut berkontribusi terhadap pemahaman saya tentang implementasi pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal ( common sense ) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Pembelajaran berdiferensiasi haruslah berakar pada pemenuhan kebutuhan belajar murid dan bagaimana guru merespon kebutuhan belajar tersebut, lingkungan belajar yang mengundang murid untuk belajar, manajemen kelas yang efektif dan penilaian berkelanjutan.

Tomlison (2001) “How to differentiate Instruction in mixed ability classroom” kebutuhan belajar murid memiliki 3 aspek; kesiapan murid, minat murid, profil belajar murid. Sebagai guru, kita semua tentu tahu bahwa murid akan menunjukkan kinerja yang lebih baik jika tugas-tugas yang diberikan sesuai denga ketrampilan dan pemahaman yang mereka miliki sebelumnya ( kesiapan belajar ). Lalu jika tugas-tugas tersebut memicu keingintahuan atau hasrat dalam diri seorang murid (minat), dan jika tugas itu memberikan kesempatan bagi mereka untuk bekerja dengan cara yang mereka sukai ( profil belajar ).

Kesiapan belajar murid sangat penting dalam pencapaian materi, sehingga ini juga membutuhkan perhatian khusus dari seorang guru. Kesiapan belajar diperlkan untuk menciptakan lingkungan belajar yang tepat dan dukungan yang memadai. Menurut Tomlison bahwa merancang pembelajaran seorang guru harus menyesuaikan TOMBOL Equalizer, dengan tepat untuk berbagai kebutuhan Murid aan menyamakan peluang mereka untuk mendapatkan materi, jenis kegiatan dan menghasilkan produk belajar yang tepat di kelas.

Cara guru menentukan kebutuhan belajar muridnya, dengan bebarapa cara; Observasi langsung terhadap perilaku dan aktifitas murid selama kegiatan belajar mengajar berlangsung, Menyelenggarakan tes awal/evaluasi untuk mengukur, Menggunakan teknik wawancara dan diskusi kelompok untuk mengenal lebih dalam tentang minat, bakat dan kebutuhan murid, Meminta feedback/masukan dari orang tua/wali murid tentang kemampuan dan kebutuhan yang dimiliki oleh murid,Mengadakan konsultasi dan koordinasi dengan rekan guru lain yang telah lebih dulu mengajar murid tersebut

Ada 3 Strategi pembelajaran berdiferensiasi; Diferensiasi Konten, Diferensiasi Proses, dan Diferensiasi Produk.

Ada 3 perspektif penilaian;

  1. Assessment for learning - Penilaian yang dilakukan selama berlangsungnya proses pembelajaran dan biasanya digunakan sebagai dasar untuk melakukan perbaikan proses belajar mengajar. Berfungsi sebagai penilaian formatif. Sering disebut sebagai penilaian yang berkelanjutan (on-going assessment)
  2. Assessment of learning - Penilaian yang dilaksanakan setelah proses pembelajaran selesai. Berfungsi sebagai penilaian sumatif
  3. Assessment as learning - Penilaian sebagai proses belajar dan melibatkan muridmurid secara aktif dalam kegiatan penilaian tersebut. Penilaian ini juga dapat berfungsi sebagai penilaian formatif.

Bagaimana saya tetap dapat bersikap positif walaupun banyak tantangan dalam penerapan pembelajaran berdiferensiasi ini, kuncinya adalah bahwa saya menandai dalam hati, mengajar adalah sebuah hak yang harus saya dapatkan. Dalam arti bahwa secara umum manusia lebih mengutamakan hak daripada kewajiban, misalnya tentang honor dll. Mereka menuntut gaji sebagai hak, sehingga jika mereka belum mendapatkannya maka mereka akan menuntut sampai mendapatkannya, bahkan dengan cara yang keras sekalipun. Untuk itu saya menanamkan mulai dari diri saya bahwa mengajar adalah sebagai pelayanan yang Tuhan akan melihat, dan mengajar adalah hak saya yang harus saya perjuangkan sekuat tenaga agar saya tidak kehilangan hak saya dalam mengajar sehingga saya merasa rugi jika saya tidak melaksanakannya. Dan itu akan menjadi pembiasaan saya dalam mengajar maka saya merasa bahagia ketika saya melaksanakan pembelajaran dengan murid. Dengan memenuhi kebutuhan murid dalam pembelajaran berdiferensiasi membuat saya bahagia, merasa ingin terus belajar bagaimana saya bisa mengembangkan diri dalam menerapkan strategi pembelajaran berdiferensiasi tersebut. Bertemu murid dengan variasi dan anekaragam, saya terpacu dan ingin membuat murid saya belajar dengan menyenangkan, tumbuh dengan nilai-nilai kebajikan, berpengetahuan, dan berketrampilan untuk bisa mandiri.


Pendidikan karakter

     Pendidikan merupakan salah satu aspek yang harus dilalui oleh setiap makhluk hidup, terutama, manusia yang masih hidup. Pen...