Sinau Urip
Cinta, sayang, kasih, setia, kepercayaan, kejujuran, kesederhanaan, Kesabaran, menghargai orang lain, toleransi dalam kebinekaan, konsisten, dapat dipercaya.
Jumat, 25 Juli 2025
Pendidikan karakter
Kamis, 24 Juli 2025
Kamis Manis
Kotok Pete / Lamtoro
Rabu, 23 Juli 2025
"ASA"
Senin, 27 November 2023
Mimpi Lucu
Senin, 10 April 2023
Koneksi antar materi modul 3.1 pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan universal sebagai pemimpin
Koneksi antar materi modul 3.1 Pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan universal sebagai pemimpin
1. Sesuai filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka
memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai
seorang pemimpin?
Filosofi Ki Hajar Dewantoto dengan Pratap Triloka
memiliki kaitan dengan
penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin. Dalam beberapa praktek sehari-hari dalam
proses pembelajaran ini akan tercermin dalam seluruh aspek tindakan yang
terjadi dimana kita sebagai guru yang berfungsi sebagai pemimpin pembelajaran.
Seperti halnya, ketika meneladani filosofi KHD, “Ing Ngarso Sun Tulodho, Ing
Madyo Mangun Karso, Tut wuri Handayani”. Di depan memberikan contoh, ketika di
tengah kita memberikan bimbingan, dan ketika berada di belakang , akan memberikan
motivasi pada murid. Menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka
dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya sebagai
anggota masyarakat. Pembelajaran
berpusat pada anak, Belajar berpusat pada anak, anak merdeka dalam belajar, anak
diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan
arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya.
Anak merdeka dalam berkreasi dan berinovasi,
dimana guru sebagai pemberi teladan, pembimbing dan motivator untuk anak yang mana anak bagai sehelai kertas yang sudah
ditulis penuh, tetapi semua
tulisan-tulisan itu masih samar. Pendidik berkewajiban dan berkuasa menebalkan
segala tulisan yang suram dan yang berisi baik agar kelak nampak sebagai budi
pekerti yang baik.
Pengambilan keputusan di saat kita tidak
boleh putus asa jika menemukan suatu keunikan dan hambatan pada murid, kita
harus bisa MENGUASAI DIRI secara tetap dan kuat akan dapat melenyapkan
/mengalahkan tabiat-tabiat biologis yang tidak baik. Menguasai diri merupakan
tujuan pendidikan dan maksud keadaban. Watak biologis/budi pekerti adalah jiwa
,manusia yang bersifat tetap dan pasti.
Pengambilan keputusan berhubungan dengan Budi
pekerti dapat dikatakan sebagai hasil dari bersatunya gerak pikiran, perasaan,
dan kemauan/kehendak sehingga menimbulkan tenaga. Bagaimana mendidik siswa dengan cara mengajar
yang menyenangkan dengan media pemainan yang disesuaikan dengan materi mapel
Bahasa Inggris. Mendidik tentang cekatan, seksama, menjernihkan penglihatan ,
perhitungan, perkiraan, kekuatan, kesehatan, keberanian, sikap tertib dan
teratur.
Pengambilan keputusan ketika kita memilih menggunakan
asas tricon dalam mengajar ; harus kontinuetit dengan kebudayaan sendiri,
konvergensi dengan kebudayaan yang ada, konsentris pada alam-alam kebudayaan
sedunia.
Pengambilan keputusan ketika menerapkan tentang maksud pengajaran dan pendidikan yang berguna untuk perikehidupan bersama ialah memerdekakan manusia sebagai bagian dari persatuan (rakyat). Manusia merdeka adalah manusia yang hidupnya lahir atau batin tidak tergantung pada orang lain, akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri.
2. 2. Nilai-nilai
yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita
ambil dalam pengambilan suatu keputusan?
Nilai-nilai
yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita
ambil dalam pengambilan suatu keputusan,
dimana setiap keputusan yang kita ambil harus didasarkan pada rasa penuh
tanggung jawab, nilai-nilai kebajikan, serta berpihak pada murid. Rasa penuh
tanggung jawab dan nilai-nilai kebajikan universal bersumber dari nilai-nilai
yang telah tertanam dalam diri kita, sebagai salah satu kodrat alam, yang mana
telah tertanam dari pendidikan keluarga. 3 ketiga prinsip ( berfikir berbasis hasil akhir, peraturan,
dan rasa peduli ), sebagai alat bantu untuk pengambilan keputusan dengan pilihan-pilihan
penuh tantangan. Untuk mengetahui apakah situasi tersebut dilemma etika atau
bujukan moral, yang selanjutnya jika terjadi situasi dilema etika maka harus dilihat
dari beberapa kategori paradigm dilemma etika. Dalam pengambilan keputusan
inilah seorang pemimpin pembelajaran harus mempunyai nilai-nilai kebajikan yang
sudah tertanam kuat dalam dirinya agar bisa mengambil keputusan yang tepat.
3. 3. Bagaimana materi pengambilan
keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang
diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran
kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita
ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada
pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal
ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada
sebelumnya.
Menurut saya, setiap keputusan yang diambil oleh
pendamping atau fasilitator dalam pembelajaran kita, tentu sudah melalui
pemahaman paradigm, prinsip, dan konsep pengambilan dan pengujian keputusan
dengan didasarkan pada rasa penuh tanggng jawab, nilai- nilai kebajikan
universal,dan berpihak pada kami sebagai peserta diklat. Ada pertanyaan dalam
diri atas pengambilan keputusan tersebut tetapi sudah diberikan coaching yang
tepat.
- Bagaimana
kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya
akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah
dilema etika?
Seorang
guru yang mempunyai aspek sosial emosional yang baik, lebih efektif dan cenderung lebih resilien/tangguh
dan merasa nyaman di kelas karena mereka dapat bekerja lebih baik dengan
murid. Terciptanya lingkungan belajar yang lebih positif,
peningkatan sikap positif dan toleransi murid terhadap dirinya, orang lain dan
lingkungan sekolah. Selain itu, PSE di kelas terbukti dapat menghasilkan
pencapaian akademik yang lebih baik. PSE memberikan pondasi yang kuat bagi murid
untuk dapat sukses dalam berbagai area kehidupan mereka di luar akademik,
termasuk kesejahteraan psikologis (well-being) secara optimal. Dengan demikian guru mampu memahami, menghayati, dan
mengelola emosi (kesadaran diri), mampu menetapkan
dan mencapai tujuan positif (pengelolaan diri), mampu merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain
(kesadaran sosial), mampu membangun dan mempertahankan
hubungan yang positif (keterampilan berelasi), dan mampu membuat keputusan yang bertanggung jawab. (pengambilan keputusan yang
bertanggung jawab)
- Bagaimana
pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali
kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?
Nilai-nilai
yang dianut seorang pendidik memang akan mempengaruhi pengambilan keputusan
yang bertanggung jawab sebagai seorang pemimpin pembelajaran ( pendidik ),
untuk itu nilai-nilai ini harus dimiliki oleh seorang pendidik, secara alami
sudah tertanam dari awal sebagai kodrat alam yang tidak berubah-ubah, dan tentu
saja nilai-nilai yang dianut ini harus memiliki nilai-nilai kenbajikan yang
universal. Jika tidak demikian, maka dalam pengambilan keputusan tidak
bertanggung jawab, tidak mengandung nilai-nilai kebajikan universal, dan tidak
berpihak pada murid. Hendaknya seorang pendidik terus memupuk nilai-nilai
kebajikan yang sudah didapatkan dari kodrat alamnya.
- Bagaimana
pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya
lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.
Pengambilan
keputusan yang tepat yang berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif,
kondusif, aman dan nyaman, yaitu keputusan yang diambil ketika kita
dalam keadaan penguasaan diri yang baik, control diri yang baik, memahami paradigm
dilemma etika dengan baik, menggunakan prinsip-prinsip yang membantu dalam
menghadapi pilihan yang penuh tantangan dan menggunakan 9 langkah konsep dan
pengujian keputusan.
- Apakah tantangan-tantangan di
lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap
kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan
paradigma di lingkungan Anda?
Tantangan-tantangan
yang dihadapi adalah tidak adanya persamaan pandangan terhadap sebuah
pengambilan keputusan yang berbasis nilai-nilai kebajikan universal sebagai
pemimpin pembelajaran sebagai guru penggerak.
Beberapa
hal berkaitan dengan perubahan paradigm di lingkungan sekolah kami. Pandangan paradigm
tentang dilemma etika yang berbeda dari masing-masing pendidik. Ada yang masih
menganut paradigm rasa kasihan, kelompok, dan kesetiaan.
- Apakah
pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang
memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran
yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?
Pengaruh pengambilan keputusan yang
kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita, sangat bervariasi. Mungkin ini bisa dipengaruhi oleh
faktor lain yang terjadi selama ini yang sudah membudaya. Kultur budaya
setempat juga bisa mempengaruhi keputusan yang sudah kita ambil dengan
pengajaran yang memerdekakan murid kita. Muncul persepsi yang kontras dan yang
mendukung. Salah paham dengan makna pengajaran yang memerdekakan murid,
sehingga murid dengan latar belakang budaya yang berbeda akan merasa belum siap
dan bahkan dianggap hal itu membuat mereka merdeka dalam arti tidak belajar,
belajar dengan santai. Faktor lain juga bisa datang dari guru sebagai teman
sejawat yang tidak memahami benar apa itu pengajaran dengan memerdekakan
murid-murid, sehingga mereka mulai memanfaatkan wacana ini sebagai alat
pembenaran diri dalam menghindari tugas pokoknya. Pemahaman yang berbeda akan
menimbulkan banyak keluhan dari guru tersebut dan tidak mau keluar dari zona
nyaman. Faktor lain juga bisa datang dari orang tu wali murid yang tidak paham
dengan konsep pengajaran memerdekakan murid ditanggapi dengan hal yang kurang
positif, menganggap guru ingin lepas dari tugasnya mengajar dengan sistem lama.
Bagaimana kita memutuskan
pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?
Menurut
hematnya, pembelajaran yang tepat adalah yang merdeka, dalam arti bahwa merdeka
akan pemahaman tentang “konsep pengajaran dengan memerdekakan murid ini” terlebih
dahulu, baik orang tua, guru, murid, dan lingkungan masyarakat. Orang tua
merdeka mengetahui konsep tersebut. Merdeka, bebas mengetahui semuanya tentang
konsep tersebut. Yang tentu saja kita harus paham juga bahwa tidak semua orang
tua mampu merdeka mengakses konsep tersebut karena ada
keterbatasan-keterbatasan, misalnya keterbatasan penguasaan IT, karena
pendidikan atau buta huruf dll. Nah bagaimana cara mengatasi ini ? yang mana
harus dilaksanakan solusi yang serempak dari seluruh stakeholders dari atas
sampai bawah, dari pusat sampai daerah. Perlu ada sosialisasi serempak, dengan
menilik kebutuhannya, jika yang sudah memiliki kemampuan , otomatis perlakuan
sosialisasinya akan berbeda. Guru saja banyak yang tidak paham, bahkan ada yang
tidak mau paham karena tidak mau keluar dari zona nyaman untuk literasi. Bagaimana
ini tersolusi, perlu ada perlakuaan dari pemimpin baik dari coaching, sampai
pada pengambilan keputusan akan mereka dengan tepat sebagai solusi. Banyak
pengambilan keputusan yang tidak berdasar nilai-nilai kebajikan sehingga tidak
memikirkan jangka panjang. Dikejar target yang nampak baik tetapi belum tentu
benar. Nilai-nilai kebajikan yang terabaikan baik oleh pimpinan maupun guru,
sehingga kosnep pembelajaran yang memerdekan murid dengan tujuan mulia akan
sulit terwujud. Murid dengan kurang pemahaman tentang konsep pembelajaran yang
memerdekakannya juga akan bertidak seolah-olah murid merdeka bebas dari
belajar, apalagi adanya HAM. Pemahaman yang salah akan konsep tersebut sangat
berasa dalam proses pembelajaran. Sosialisasi yang mereka tidak peduli untuk
akses, sehingga mereka mengartikannya dengan sangat dangkal. Pembenahan
nilai-nilai kebajikan pada profil pelajar pancasila sangat bagus, karena
karakter budi pekerti nilai-nilai kebajikan wajib dimiliki oleh murid dan guru
agar pendidikan menghasilkan output yang tidak hanya berketrampilan dan
berpengetahuan tetapi juga mempunyai budi pekerti yang luhur agar menjadi
manusia yang selamat dunia akhirat.
- Bagaimana
seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi
kehidupan atau masa depan murid-muridnya?
Menurut
saya, Pengambilan keputusan yang tepat dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan
murid-muridnya. Keputusan yang mempertimbangkan segala paradigm
yang terjadi dengan memberikan perlakuan yang merupakan tindak lanjut dari
keputusan tersebut secara berkelanjutan. Keputusan yang tidak merugikan
nilai-nilai kebajikan baik murid yang bersangkutan maupun orang lain. Keputusan
yang diambil dengan tidak mengabaikan proses yang terjadi sebelum situasi
tersebut. Pengambilan keputusan yang menurut orang lain itu tidak menolong tetapi
keputusan itu mendidik murid tersebut. Intinya tidak setiap keputusan itu harus
manis, terkadang juga bisa pahit untuk murid tetapi yakinlah bahwa keputusan
yang diambil tersebut akan manis di masa jangka panjang murid, sebab
keputusannya berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal.
- Apakah
kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul
materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?
Kesimpulan
yang saya dapat tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya
dengan modul-modul sebelumnya sangat mengilhami dan memelajari saya sebagai
seorang guru. Beberapa hal mempertegas kebingungan saya , mana yang harus
dilakukan dan mana yang tidak harus dilakukan. Bahkan membuat saya percaya diri
dalam bertindak dan berbuat untuk menjadi pemimpin pembelajaran. Pemikiran menjadi
terbuka, selalu berfikir positif, dan berbudaya positif lebih lagi. Lebih
bersemangat berkreasi berinovasi dan menjadi pemimpin yang benar. Serasa
menyembuhkan jiwa yang hampir kehilangan arah. Bagai ajian sakti yang
menyembuhkan saya, anak saya, keluarga saya, murid saya, serta komunitas saya. Kiranya
semua teman saya akan bisa mengikuti program ini supaya pendidikan yang
diidamkan bisa tercapai.
- Sejauh mana
pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema
etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip
pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.
Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?
Pemahaman
saya tentang konsep-konsep yang telah saya pelajari di modul ini, yaitu: dilema
etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip
pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan, sangat membuka kebingungan yang terjadi pada diri saya.
Ternyata apa yang saya lakukan selama ini sudah sesuai tapi kurang optimal. Dari
panduan pada modul ini pemahaman saya bertambah. Hal-hal yang menurut saya di luar dugaan
adalah mengetahui penyebab mengapa ada keputusan pemimpin yang menimbulkan polemic
yang signifikan. Dan kadang mengapa seorang pemimpin mengambil keputusan yang
berbeda dari pemikiran kita.
- Sebelum
mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan
sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya
dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?
Saya
berfikir jika situasi moral dilemma ini sama dengan bujukan moral. Saya pernah
menerapkan pengambilan
keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema, ketika seorang murid tidak pernah mengerjakan tugas,
malas pergi ke sekolah dan nilainya buruk. Di sisi lain, saya sudah melakukan
proses yang seharusnya saya harus
lakukan, misalnya, saya melakukan tugas saya mengajar dengan rajin, coaching
pribadi dengan murid, kemudian coaching dengan orang tua, kolaborasi dengan
wali kelas dan BK, panggilan, homevisit, pembelajaran inklusif dengan dia. Saya
memutuskan murid tersebut tidak tuntas pada mata pelajaran saya.
Dalam modul
ini lebih belajar ke dilemma etika yang kita hadapi, sehingga saya kurang
berlatih dalam menghadapi moral dilemma/ bujukan moral.
- Bagaimana
dampak mempelajari konsep ini buat Anda, perubahan apa yang
terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah
mengikuti pembelajaran modul ini?
Dampaknya
bagi saya sangat banyak. Perubahan yang terjadi adalah saya dalam mengambil
keputusan menjadi lebih bijaksana, bisa mengelola emosional dan sosial saya, keputusan
saya dasarkan pada nilai-nilai kebajikan, bisa mengetahui kebutuhan dasar murid
dan guru, bisa meletakkan posisi control yang tepat, menularkan budaya positif
dengan disiplin positif. Lebih bisa memperjelas visi saya sebagai guru masa
depan. Mengambil keputusan dalam Praktek pembelajaran berdiferensiasi dan
asesmen bisa saya terapkan dikelas lebih teratur. Pembelajaran berpusat pada
murid dengan keyakinan kelas.
- Seberapa
penting mempelajari topik modul ini bagi saya sebagai seorang individu dan saya sebagai seorang pemimpin?
Bagi
saya sebagai seorang individu, topic modul ini memberikan penguatan pada nilai-nilai
kebajikan universal saya sebagai manusia yang mana pendidikan keluarga telah
menuntun kodrat alam saya menjadi terarah. Topik ini membuat sesuai yang samar
yang harus saya lakukan ketika saya harus mengambil keputusan oleh diri saya
baik untuk apa yang harus saya lakukan dengan mengambil keputusan dalam benar
dan benar yang berkaitan dengan kehidupan seharihari sebagai seorang istri,
anggota masyarakat, dan seorang ibu; apa yang harus saya putuskan pada anak
jika menemui situasi yang membutuhkan pengambilan keputusan yang berbasis
nila-nilai kebajikan universal.
Kamis, 23 Februari 2023
2.1.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 2.1 Memenuhi kebutuhan belajar murid dengan pembelajaran berdiferensiasi
2.1.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 2.1 Memenuhi kebutuhan belajar murid dengan pembelajaran berdiferensiasi
Belajar tentang modul 2.1 Memenuhi kebutuhan
belajar murid dengan pembelajaran berdiferensiasi, memperjelas pemahaman saya
dalam melayani murid dalam belajar, yang selama ini samar-samar. Saya
mengetahui bahwa kemampuan murid satu dengan lainnya ada keanekaragaman serta keunikan.
Selama ini hal tersebut bagi saya sulit mengalami penerimaan akan hal tersebut
sehingga kadangkala saya berharap hal yang homogen terjadi pada penyerapan
pembelajaran. Semua juga terjadi karena kurang semangatnya mencari strategi
dalam mencari solusi kejadian ini. Hampir seluruh murid mempunyai
keanekaragaman, satu dengan yang lain , tidak hanya dalam koloni, tetapi
cenderung perorangan. Banyak kebutuhan dasar murid yang mengalami kekurangan
dari masing-masing pribadi, baik kebutuhan dasar survival, beloved, fun,
kebebasan, dan penguasaan. Nilai-nilai
kebajikan yang telah tertanam di pendidikan lingkungan keluarga dimiliki
masing-masing murid juga bervariasi. Dengan segala keanekaragaman ini, posisi
control sebagai seorang guru terutama dalam pembelajaran di kelas harus tepat
sehingga bisa menerapkan segitiga restitusi yang tepat pula dalam mencari
solusi bersama dengan murid. Tentu saja sesuai visi yang telah saya buat
sebelumnya dari tujuan saya mengajar. Membuat kesepakatan belajar di kelas yang
berupa keyakinan kelas.
Sesuai refleksi filosofi dari Bapak Ki Hajar
Dewantoro bahwa guru hanya bisa menuntun dan mengarahkan kodrat alam murid sesuai
kodrat zamannya untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Peran
guru mengarahkan Nilai-nilai kebajikan pada murid. Seorang guru mempunyai peran
dalam berbudaya positif di lingkungan kelas, sekolah, maupun masyarakat.
Perubahan pemikiran
tersebut berkontribusi terhadap pemahaman saya tentang implementasi
pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran
berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal ( common sense ) yang
dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Pembelajaran
berdiferensiasi haruslah berakar pada pemenuhan kebutuhan belajar murid dan
bagaimana guru merespon kebutuhan belajar tersebut, lingkungan belajar yang
mengundang murid untuk belajar, manajemen kelas yang efektif dan penilaian
berkelanjutan.
Tomlison
(2001) “How to differentiate Instruction in mixed ability classroom” kebutuhan
belajar murid memiliki 3 aspek; kesiapan
murid, minat murid, profil belajar murid. Sebagai guru, kita semua tentu
tahu bahwa murid akan menunjukkan kinerja yang lebih baik jika tugas-tugas yang
diberikan sesuai denga ketrampilan dan pemahaman yang mereka miliki sebelumnya
( kesiapan belajar ). Lalu jika tugas-tugas tersebut memicu keingintahuan atau
hasrat dalam diri seorang murid (minat), dan jika tugas itu memberikan
kesempatan bagi mereka untuk bekerja dengan cara yang mereka sukai ( profil
belajar ).
Kesiapan
belajar murid sangat penting dalam pencapaian materi, sehingga ini juga
membutuhkan perhatian khusus dari seorang guru. Kesiapan belajar diperlkan
untuk menciptakan lingkungan belajar yang tepat dan dukungan yang memadai.
Menurut Tomlison bahwa merancang pembelajaran seorang guru harus menyesuaikan
TOMBOL Equalizer, dengan tepat untuk berbagai kebutuhan Murid aan menyamakan
peluang mereka untuk mendapatkan materi, jenis kegiatan dan menghasilkan produk
belajar yang tepat di kelas.
Cara guru menentukan
kebutuhan belajar muridnya, dengan bebarapa cara; Observasi langsung terhadap
perilaku dan aktifitas murid selama kegiatan belajar mengajar berlangsung, Menyelenggarakan
tes awal/evaluasi untuk mengukur, Menggunakan teknik
wawancara dan diskusi kelompok untuk mengenal lebih dalam tentang minat, bakat
dan kebutuhan murid, Meminta feedback/masukan
dari orang tua/wali murid tentang kemampuan dan kebutuhan yang dimiliki oleh
murid,Mengadakan konsultasi dan koordinasi dengan rekan guru lain yang telah
lebih dulu mengajar murid tersebut
Ada 3 Strategi pembelajaran berdiferensiasi;
Diferensiasi Konten, Diferensiasi Proses, dan Diferensiasi Produk.
Ada 3 perspektif penilaian;
- Assessment for learning - Penilaian yang
dilakukan selama berlangsungnya proses pembelajaran dan biasanya digunakan
sebagai dasar untuk melakukan perbaikan proses belajar mengajar. Berfungsi
sebagai penilaian formatif. Sering disebut sebagai penilaian yang
berkelanjutan (on-going assessment)
- Assessment of learning - Penilaian yang dilaksanakan
setelah proses pembelajaran selesai. Berfungsi sebagai penilaian sumatif
- Assessment as learning - Penilaian sebagai proses
belajar dan melibatkan muridmurid secara aktif dalam kegiatan penilaian
tersebut. Penilaian ini juga dapat berfungsi sebagai penilaian formatif.
Bagaimana saya tetap
dapat bersikap positif walaupun banyak tantangan dalam penerapan pembelajaran
berdiferensiasi ini, kuncinya adalah bahwa saya menandai dalam hati, mengajar
adalah sebuah hak yang harus saya dapatkan. Dalam arti bahwa secara umum
manusia lebih mengutamakan hak daripada kewajiban, misalnya tentang honor dll.
Mereka menuntut gaji sebagai hak, sehingga jika mereka belum mendapatkannya
maka mereka akan menuntut sampai mendapatkannya, bahkan dengan cara yang keras sekalipun.
Untuk itu saya menanamkan mulai dari diri saya bahwa mengajar adalah sebagai
pelayanan yang Tuhan akan melihat, dan mengajar adalah hak saya yang harus saya
perjuangkan sekuat tenaga agar saya tidak kehilangan hak saya dalam mengajar
sehingga saya merasa rugi jika saya tidak melaksanakannya. Dan itu akan menjadi
pembiasaan saya dalam mengajar maka saya merasa bahagia ketika saya
melaksanakan pembelajaran dengan murid. Dengan memenuhi kebutuhan murid dalam
pembelajaran berdiferensiasi membuat saya bahagia, merasa ingin terus belajar
bagaimana saya bisa mengembangkan diri dalam menerapkan strategi pembelajaran
berdiferensiasi tersebut. Bertemu murid dengan variasi dan anekaragam, saya
terpacu dan ingin membuat murid saya belajar dengan menyenangkan, tumbuh dengan
nilai-nilai kebajikan, berpengetahuan, dan berketrampilan untuk bisa mandiri.
Pendidikan karakter
Pendidikan merupakan salah satu aspek yang harus dilalui oleh setiap makhluk hidup, terutama, manusia yang masih hidup. Pen...
-
KEPUTUSAN KEPALA BADAN STANDAR, KURIKULUM, DAN ASESMEN PENDIDIKAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI NOMOR 008/H/KR/20...
-
Pagiku Terbangun terdengar kicauan burung, Gemericik gemerucuk seperti musik, Mata ini lengket masih enggan terbuka, Kule...
