Rabu, 11 Mei 2022

Cerita pendek / Cerpen " Rindu"

 


R I N D U

Malam semakin larut, tapi mata ini tak mampu terpejam. Hati ini ada yang menggelayuti. Walaupun hawa malam yang semakin dingin, tetapi aku tak ada niat juga untuk menyelimuti tubuhku dengan kain. Kelopak mata ini menerawang jauh ke suatu tempat, di mana aku dibesarkan, kampung halamanku. Seperti film yang diputar kembali, aku bisa mengingat setiap saat yang indah, saat aku masih kecil. Dari cara bermain kami yang sederhana dengan alat main yang apa adanya. Ketika musim hujan turun, kami bermain "Dakon", itu bahasa kami. Bermain dengan memanfaatkan biji salak dengan membuat lubang kecil yang cukup terisi dengan 5 biji salak. Kami membuat 10 lubang, Ada 2 baris dengan 2 bujur lubang. Biasanya kami main berdua. Ada juga yang bermain "bekel' bagi yang mampu membeli dan mempunyai rumah berlantai semen, sehingga bola kecilnya bisa memantul. Bermain di teras rumah sambil makan jagung goreng ato jagung bakar. Petir atau angin yang bisa menghentikan keasyikan kami bermain. Kadang ibuku berteriak menyuruh tidur siang, tetapi aku juga tidak begitu menghiraukan. Apalagi tidak ada musim panen atau musim bekerja di sawah, itu seperti jalan tol bagi kami bermain sampai hari gelap.

Pada malam hari, aku belajar bersama dengan saudara-saudaraku ditemani lampu petromaks, yang saat itu lampu paling keren yang ada. Belajar untuk mengerjakan pekerjaan rumah dan membaca untuk materi yang akan diajarkan esok harinya. Sesekali kakak keduaku menurunkan lampu yang tergantung pada besi yang melilit langit-langit rumah, untuk dipompa karena sinar lampu sudah temaram. Kami belajar sampai jam 9. Mematikan lampu, mengunci pintu rumah kayu dengan menyandarkan sebatang kayu. Sebelum tidur kami bernyanyi dari Lagu Nasional sampai Lagu-lagu Melankolis, masing masing dengan lagu kesukaan. Kami bersaudara terdiri dari empat perempuan dengan tidur di dua bilik yang dibatasi dinding anyaman bambu. Bahagia rasanya bisa menyanyi sesuai dengan hati, walaupun nada suara tidak jelas. Kami sangat hafal dengan lagu-lagu pop tempo itu. Saat itu ada buku kecil yang dijual berisi lirik lagu. Kami bisa mengulangi lagu itu berdasarkan siaran Televisi yang hanya kami tonton pada Hari Minggu saja. Ada juga radio berbaterai yang terbatas juga kami dengar. Berkaitan dengan harga baterai yang cukup mahal bagi kami untuk membeli. Kadang kami harus menjemur baterai di bawah sinar matahari lebih dahulu jika ingin mendengarkan acara yang kami suka dari radio. Bisa juga pergi ke teras rumah tetangga, untuk sekedar mendengarkan siaran ketoprak berseri di radio. Menyanyi sampai merasa kantuk datang. Bapak biasa teriak membangunkan kami dengan batuk khasnya. "Ehmmmm... ehmmmmm... " Bapakku terus bersuara. "Nduk ..bangun hari sudah terang", bapak mengingatkan. Kami melompat dari tempat tidur, lari ke kamar mandi untuk cuci muka. Padahal masih jam 5, kami harus bangun menuntaskan pekerjaan ringan di rumah, seperti mencuci piring, menyapu rumah, dan mengisi air di kamar mandi. Pekerjaan sudah dibagi masing-masing. Tidak ada perasaan iri dengan pekerjaan saudara yang lain. Bekerja dengan senang hati dan berfikir bahwa setiap yang kita kerjakan dengan ikhlas akan mendatangkan berkah di kemudian hari. Jam 6.15 kami sudah berangkat ke sekolah, berbalap menggunakan sepeda hordok ( sepeda dayung yang tinggi). Tak lupa kami bersenda gurau di jalanan sepi yang belum beraspal dan masih berbatu. Sekolah kami sampai jam 13. Tanpa uang saku dan air minum kami biasa pulang dalam keadaan haus dan lapar. Akibatnya sampai di rumah, kami langsung menuju dapur menyendok nasi dan lauk sekedarnya. Senang bahagia saja yang kami rasa walaupun badan lelah. "Nduk…ikan klotok ada di nanangan di atas tungku ya.." Tidak lama, ibuku berteriak dari kamar. “ Iya Bu”, jawabku. Ibu dan bapak sudah terbiasa tidur siang. Sore hari mereka harus pergi ke sawah untuk mengerjakan apa saja yang kurang beres. Sore hari jika sehabis pulang dari sawah, kami suka bermain "Jumpritan" (lari sambil menjaga tiang pertahanan) dengan saudaraku, walaupun hanya beberapa menit sebelum mandi sore.

Berkeringat, karena berlarian saling berkejaran, olahraga gratis ala orang desa. Jika liburan panjang sebulan lamanya, banyak aktifitas yang kami lakukan. Budeku mengajak kami memanen lombok, kacang tanah, dan hasil ladang lainnya. Dia memberi kami makan dengan nasi jagung, ikan klotok (ikan laut kering) yang digoreng dengan sambal tomat terasi yang pedas. Ehmmm... nikmat. Dibungkus dengan daun jati yang beralaskan daun pisang membuat aroma makanan menjadi lezat dan nikmat. Kami pulang dari ladang sekitar jam 11 siang. Kebetulan ladang beralokasi di pinggiran hutan jati yang rindang dengan gemericik air yang mengalir di cela batu sungai yang datang. Tergoda dengan bunyi air di sungai, tak jarang kami singgah bermain di sungai, untuk membendung aliran sungai dengan batu-batu agar bisa menangkap ikan yang di dalamnya. Berbasah-basah dan tertawa jika kami salah menangkap seekor ikan dan terjatuh cebur dalam air yang hanya selutut dalamnya. Saling menyiratkan air satu sama lain, kami menikmati segarnya air alam. Dingin dan sejuk, hati damai mendengar kicauan burung beterbangan di ranting di atas sungai. Bebas memanjat pohon rindang di pinggir sungai dan mencari sarang burung yang ada telurnya.  Cicit-cicit bunyi anak burung menetas di pangkal ranting dahan di ujung. Tak jarang kami terjatuh karena ingin menggapai dan menengok ke dalam sarang dan tiba-tiba bunyi..krakkkk.. brukkk... dahan patah, aku jatuh masuk dalam air sungai yang dangkal. Kaget dan sakit, tapi bahagia.  Kami berjalan pulang dengan baju basah kuyup. Sudah lewat tengah hari kami baru sampai di rumah. Sudah makan siang atau belum tadi nak, ibuku bertanya.  Kami menggelengkan kepala. Bergegas ke kamar mandi untuk ganti baju dan makan siang. Ibuku sangat sabar dan penuh perhatian dengan makan. Sedangkan Bapakku istirahat di balai bambu, sambil mendengarkan lantunan Gending Jawa dari tape recordernya.

Sore hari bapak mempersiapkan diri membawa jala untuk menangkap ikan di bendungan desa. Ada Ikan Mujair dan Tawes yang ukuran sedang dapat tertangkap untuk lauk makan malam. Kami berempat ikut membantu bapak mengusir ikan supaya menuju ke jala, kemudaian melepas ikan yang terperangkap di jala. Cukup Nduk untuk makan malam kita, ayo kita pulang, bapakku berkata. Kami pulang dengan menyusuri pematang sawah yang tak jauh dari rumah.
Ibu sudah menanak nasi di tungku, memetik daun ubi jalar dikukus di sisi dari nasi. Tidak lupa ibu membuat sambal tomat yang sangat sedap untuk dioles daun ubi jalar kukus ditemani ikan sungai goreng. Ehmmmm.. sedap dan bisa menghabiskan banyak nasi. Kami tidak pernah membeli sayur, justru kami  yang menjual sayuran ke tetangga. Tidak perlu menjajakan berkeliling, mereka datang ke sawah di belakang rumah kami untuk membeli sayuran yang ibuku sudah petik. Ada Daun kelor, Buah Kelor, Buah Kecipir, Buah Gude, tomat, Krai ( semacam ketimun), dan anakan bambu muda. Senang melihat hijau sayuran di kebun belakang rumah kami. Ibu memang rajin menanam sayuran untuk menambah uang belanja dan biaya sekolah kami.

Kuingat masakan ibu yang sangat khas masakan kampung, opor bambu muda dicampur tempe. Di musim hujan terasa nikmat makan nasi hangat dengan sayur Bung ( sayur bambu muda ). Ibu pandai memasak dan mengkreasikan bahan yang ada untuk menjadi masakan yang lezat. Kami sangat mengidolakan masakan ibu dari sambal, sayur, dan olahan daging ikannya. Semua beda aroma dan rasanya. Kami sering merindukan masakan ibu. Sejak dari kuliah di kota besar, aku  selalu berusaha pulang sebulan sekali, hanya untuk merasakan masakan ibu. Sambal terasi ibu yang rasanya tak ada tandingan. Ibu juga mengajari aku membuat sambal seperti miliknya. Ibu memberi aku cobek tembikar untuk dibawa ke kos supaya aku bisa membuat sambal kesukaanku ( hhhhh memang lucu ) .

Rindu menikmati aroma hawa pedesaan yang masih asri dan alami. Pedesaan di bawah kaki Bukit Kapur dan di pinggiran Hutan Jati. Rindu akan bermain dengan alat yang sederhana yang kami ciptakan sendiri. Dari bola kasti yang hanya terbuat dari belitan daun pisang kering yang kami gulung. Rindu bermain berjual beli dengan menggunakan tanaman di sekitar kami, buah rerumputan, daun-daun yang merambat di pagar, memakai kulit permen sebagai gantinya uang. Saat itu bungkus permen masih langka, warna warni corak bungkus permen menunjukkan nilai yang tinggi.

Rindu pergi ke sawah, ladang, dan hutan. Mencari kayu dan Jamur Hutan bersama-sama. Jaga burung di sawah, sambil mencari buah yang menggantung di pohon umbi hutan dan merebus di kaleng beralaskan tiga batu.  Indah dan sederhana cara hidup kami. Sehat dengan makan yang alami dan seadanya. Tidak ada pikiran yang memburu seperti mesin untuk mendapatkan hasil di luar dari kemampuan kami. Tidak ada ambisi, hanya cita-cita luhur untuk perdamaian bangsa ini. Rindu dengan kenyamanan masa kecilku, rindu akan kampung halamanku dimana aku dibesarkan. Di rantau ini, aku merasakan betapa aku ingin kembali , betapa aku merindukan mereka, handai taulan dan sanak saudara. Rindu .. bapak dan ibu yang sudah tiada. Rindu masa lalu terulang kembali. Rindu ingin berada pada saat itu. Air mata ini mengalir menahan sesak dalam dadaku. Kapan aku bisa pulang, hanya sekedar melihat kampung halaman. Walaupun keadaan tidak seperti dulu, aku hanya bisa melihat puing-puing kenangan. Rindu ini menerbangkan aku ke alam khayalan. Titip rindu untuk kampung halamanku. *AH

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pendidikan karakter

     Pendidikan merupakan salah satu aspek yang harus dilalui oleh setiap makhluk hidup, terutama, manusia yang masih hidup. Pen...