Malam semakin larut, tapi mata ini tak mampu
terpejam. Hati ini ada yang menggelayuti. Walaupun hawa malam yang semakin dingin,
tetapi aku tak ada niat juga untuk menyelimuti tubuhku dengan kain. Kelopak mata
ini menerawang jauh ke suatu tempat, di mana aku dibesarkan, kampung halamanku.
Seperti film yang diputar kembali, aku bisa mengingat setiap saat yang indah,
saat aku masih kecil. Dari cara bermain kami yang sederhana dengan alat main yang
apa adanya. Ketika musim hujan turun, kami bermain "Dakon", itu
bahasa kami. Bermain dengan memanfaatkan biji salak dengan membuat lubang kecil
yang cukup terisi dengan 5 biji salak. Kami membuat 10 lubang, Ada 2 baris
dengan 2 bujur lubang. Biasanya kami main berdua. Ada juga yang bermain "bekel'
bagi yang mampu membeli dan mempunyai rumah berlantai semen, sehingga bola
kecilnya bisa memantul. Bermain di teras rumah sambil makan jagung goreng ato
jagung bakar. Petir atau angin yang bisa menghentikan keasyikan kami bermain.
Kadang ibuku berteriak menyuruh tidur siang, tetapi aku juga tidak begitu
menghiraukan. Apalagi tidak ada musim panen atau musim bekerja di sawah, itu
seperti jalan tol bagi kami bermain sampai hari gelap.
Pada malam hari, aku belajar bersama dengan saudara-saudaraku
ditemani lampu petromaks, yang saat itu lampu paling keren yang ada. Belajar
untuk mengerjakan pekerjaan rumah dan membaca untuk materi yang akan diajarkan esok
harinya. Sesekali kakak keduaku menurunkan lampu yang tergantung pada besi yang
melilit langit-langit rumah, untuk dipompa karena sinar lampu sudah temaram. Kami
belajar sampai jam 9. Mematikan lampu, mengunci pintu rumah kayu dengan
menyandarkan sebatang kayu. Sebelum tidur kami bernyanyi dari Lagu Nasional
sampai Lagu-lagu Melankolis, masing masing dengan lagu kesukaan. Kami
bersaudara terdiri dari empat perempuan dengan tidur di dua bilik yang dibatasi
dinding anyaman bambu. Bahagia rasanya bisa menyanyi sesuai dengan hati,
walaupun nada suara tidak jelas. Kami sangat hafal dengan lagu-lagu pop tempo
itu. Saat itu ada buku kecil yang dijual berisi lirik lagu. Kami bisa mengulangi
lagu itu berdasarkan siaran Televisi yang hanya kami tonton pada Hari Minggu
saja. Ada juga radio berbaterai yang terbatas juga kami dengar. Berkaitan
dengan harga baterai yang cukup mahal bagi kami untuk membeli. Kadang kami
harus menjemur baterai di bawah sinar matahari lebih dahulu jika ingin
mendengarkan acara yang kami suka dari radio. Bisa juga pergi ke teras rumah
tetangga, untuk sekedar mendengarkan siaran ketoprak berseri di radio. Menyanyi
sampai merasa kantuk datang. Bapak biasa teriak membangunkan kami dengan batuk khasnya.
"Ehmmmm... ehmmmmm... " Bapakku terus bersuara. "Nduk ..bangun
hari sudah terang", bapak mengingatkan. Kami melompat dari tempat tidur, lari
ke kamar mandi untuk cuci muka. Padahal masih jam 5, kami harus bangun
menuntaskan pekerjaan ringan di rumah, seperti mencuci piring, menyapu rumah,
dan mengisi air di kamar mandi. Pekerjaan sudah dibagi masing-masing. Tidak ada
perasaan iri dengan pekerjaan saudara yang lain. Bekerja dengan senang hati dan
berfikir bahwa setiap yang kita kerjakan dengan ikhlas akan mendatangkan berkah
di kemudian hari. Jam 6.15 kami sudah berangkat ke sekolah, berbalap
menggunakan sepeda hordok ( sepeda dayung yang tinggi). Tak lupa kami bersenda
gurau di jalanan sepi yang belum beraspal dan masih berbatu. Sekolah kami
sampai jam 13. Tanpa uang saku dan air minum kami biasa pulang dalam keadaan
haus dan lapar. Akibatnya sampai di rumah, kami langsung menuju dapur menyendok
nasi dan lauk sekedarnya. Senang bahagia saja yang kami rasa walaupun badan
lelah. "Nduk…ikan klotok ada di nanangan di atas tungku ya.." Tidak
lama, ibuku berteriak dari kamar. “ Iya Bu”, jawabku. Ibu dan bapak sudah terbiasa
tidur siang. Sore hari mereka harus pergi ke sawah untuk mengerjakan apa saja
yang kurang beres. Sore hari jika sehabis pulang dari sawah, kami suka bermain
"Jumpritan" (lari sambil menjaga tiang pertahanan) dengan saudaraku,
walaupun hanya beberapa menit sebelum mandi sore.
Berkeringat, karena berlarian saling berkejaran, olahraga
gratis ala orang desa. Jika liburan panjang sebulan lamanya, banyak aktifitas
yang kami lakukan. Budeku mengajak kami memanen lombok, kacang tanah, dan hasil
ladang lainnya. Dia memberi kami makan dengan nasi jagung, ikan klotok (ikan
laut kering) yang digoreng dengan sambal tomat terasi yang pedas. Ehmmm...
nikmat. Dibungkus dengan daun jati yang beralaskan daun pisang membuat aroma
makanan menjadi lezat dan nikmat. Kami pulang dari ladang sekitar jam 11 siang.
Kebetulan ladang beralokasi di pinggiran hutan jati yang rindang dengan
gemericik air yang mengalir di cela batu sungai yang datang. Tergoda dengan
bunyi air di sungai, tak jarang kami singgah bermain di sungai, untuk
membendung aliran sungai dengan batu-batu agar bisa menangkap ikan yang di
dalamnya. Berbasah-basah dan tertawa jika kami salah menangkap seekor ikan dan
terjatuh cebur dalam air yang hanya selutut dalamnya. Saling menyiratkan air
satu sama lain, kami menikmati segarnya air alam. Dingin dan sejuk, hati damai
mendengar kicauan burung beterbangan di ranting di atas sungai. Bebas memanjat
pohon rindang di pinggir sungai dan mencari sarang burung yang ada
telurnya. Cicit-cicit bunyi anak burung menetas di pangkal ranting dahan
di ujung. Tak jarang kami terjatuh karena ingin menggapai dan menengok ke dalam
sarang dan tiba-tiba bunyi..krakkkk.. brukkk... dahan patah, aku jatuh masuk
dalam air sungai yang dangkal. Kaget dan sakit, tapi bahagia. Kami berjalan pulang dengan baju basah kuyup.
Sudah lewat tengah hari kami baru sampai di rumah. Sudah makan siang atau belum
tadi nak, ibuku bertanya. Kami
menggelengkan kepala. Bergegas ke kamar mandi untuk ganti baju dan makan siang.
Ibuku sangat sabar dan penuh perhatian dengan makan. Sedangkan Bapakku
istirahat di balai bambu, sambil mendengarkan lantunan Gending Jawa dari tape
recordernya.
Sore hari bapak mempersiapkan diri membawa jala
untuk menangkap ikan di bendungan desa. Ada Ikan Mujair dan Tawes yang ukuran
sedang dapat tertangkap untuk lauk makan malam. Kami berempat ikut membantu
bapak mengusir ikan supaya menuju ke jala, kemudaian melepas ikan yang
terperangkap di jala. Cukup Nduk untuk makan malam kita, ayo kita pulang, bapakku
berkata. Kami pulang dengan menyusuri pematang sawah yang tak jauh dari rumah.
Ibu sudah menanak nasi di tungku, memetik daun
ubi jalar dikukus di sisi dari nasi. Tidak lupa ibu membuat sambal tomat yang sangat
sedap untuk dioles daun ubi jalar kukus ditemani ikan sungai goreng. Ehmmmm.. sedap
dan bisa menghabiskan banyak nasi. Kami tidak pernah membeli sayur, justru
kami yang menjual sayuran ke tetangga. Tidak perlu menjajakan berkeliling,
mereka datang ke sawah di belakang rumah kami untuk membeli sayuran yang ibuku sudah
petik. Ada Daun kelor, Buah Kelor, Buah Kecipir, Buah Gude, tomat, Krai (
semacam ketimun), dan anakan bambu muda. Senang melihat hijau sayuran di kebun
belakang rumah kami. Ibu memang rajin menanam sayuran untuk menambah uang
belanja dan biaya sekolah kami.
Kuingat masakan ibu yang sangat khas masakan
kampung, opor bambu muda dicampur tempe. Di musim hujan terasa nikmat makan
nasi hangat dengan sayur Bung ( sayur bambu muda ). Ibu pandai memasak dan
mengkreasikan bahan yang ada untuk menjadi masakan yang lezat. Kami sangat
mengidolakan masakan ibu dari sambal, sayur, dan olahan daging ikannya. Semua
beda aroma dan rasanya. Kami sering merindukan masakan ibu. Sejak dari kuliah
di kota besar, aku selalu berusaha
pulang sebulan sekali, hanya untuk merasakan masakan ibu. Sambal terasi ibu
yang rasanya tak ada tandingan. Ibu juga mengajari aku membuat sambal seperti
miliknya. Ibu memberi aku cobek tembikar untuk dibawa ke kos supaya aku bisa
membuat sambal kesukaanku ( hhhhh memang lucu ) .
Rindu menikmati aroma hawa pedesaan yang masih
asri dan alami. Pedesaan di bawah kaki Bukit Kapur dan di pinggiran Hutan Jati.
Rindu akan bermain dengan alat yang sederhana yang kami ciptakan sendiri. Dari
bola kasti yang hanya terbuat dari belitan daun pisang kering yang kami gulung.
Rindu bermain berjual beli dengan menggunakan tanaman di sekitar kami, buah
rerumputan, daun-daun yang merambat di pagar, memakai kulit permen sebagai gantinya
uang. Saat itu bungkus permen masih langka, warna warni corak bungkus permen menunjukkan
nilai yang tinggi.
Rindu pergi ke sawah, ladang, dan hutan. Mencari
kayu dan Jamur Hutan bersama-sama. Jaga burung di sawah, sambil mencari buah
yang menggantung di pohon umbi hutan dan merebus di kaleng beralaskan tiga
batu. Indah dan sederhana cara hidup
kami. Sehat dengan makan yang alami dan seadanya. Tidak ada pikiran yang
memburu seperti mesin untuk mendapatkan hasil di luar dari kemampuan kami.
Tidak ada ambisi, hanya cita-cita luhur untuk perdamaian bangsa ini. Rindu
dengan kenyamanan masa kecilku, rindu akan kampung halamanku dimana aku dibesarkan.
Di rantau ini, aku merasakan betapa aku ingin kembali , betapa aku merindukan
mereka, handai taulan dan sanak saudara. Rindu .. bapak dan ibu yang sudah
tiada. Rindu masa lalu terulang kembali. Rindu ingin berada pada saat itu. Air
mata ini mengalir menahan sesak dalam dadaku. Kapan aku bisa pulang, hanya
sekedar melihat kampung halaman. Walaupun keadaan tidak seperti dulu, aku hanya
bisa melihat puing-puing kenangan. Rindu ini menerbangkan aku ke alam khayalan.
Titip rindu untuk kampung halamanku. *AH

Tidak ada komentar:
Posting Komentar