Jika suatu saat proses itu datang, apa yang sudah aku lakukan untuk mereka sebagai peninggalan abadi untuk generasi pembangun negeri ini ?
Yang pasti,
Aku tak ingin memberi peninggalan berupa janji-janji tak berisi.
Aku tak ingin hanya mengajari mereka dengan bagaimana cara silih dari sebuah kebenaran dalam menyikapi masalah dan tujuan.
Aku tak ingin mewariskan sifat tikung menikung yang merusak pikiran dan kesehatan rohani.
Yang kuingini hanya sederhana saja, ingin melihat mereka dari atas sana sebagai manusia yang bersahaja, hidup sederhana, cukup, jujur, setia, dapat dipercaya, disiplin, sabar, bertanggung jawab, tegas, dan taat akan kebenaran.
Aku yakin dengan sifat yang mendasar ini, mereka bisa berkembang dan bertumbuh di segala situasi kondisi masa dan jaman.
Bisa mengikuti perkembangan jaman dan mampu menjaga sikap untuk tetap pada koridor yang Tuhan inginkan.
Pencobaan akan kekayaan, kemewahan , mabuk akan tahta dan singgasana , silau dengan derajat dan pangkat, dan masih banyak lagi, niscaya sirna dengan sifat watak mendasar yang selalu mengingatkannya.
Mawas diri dan instropeksi diri akan melekat dalam hati nurani mereka sebelum memandang orang lain sebagai media permasalahan.
Manusia unggul dengan karakter mendasar, muncul menerangi suasana dunia yang temaram penuh trik-trik cantik.
Keinginanku bolehlah setinggi langit, orang bilang aku berlebihan,
orang bilang aku suka menghayal,
yaa kalau dilihat, siapalah aku ini ?
Seorang perempuan yang dipandang tak punya intuisi, relasi, prestasi, dan -si-si lainnya.
Aku tidak peduli dengan anggapan dan tanggapan mereka tentang aku. Aku tau bahwa aku masih manusia, bukan malaikat. Aku banyak kekurangan dan banyak sekali dosa, tetapi aku tidak ingin mengorbankan manusia-manusia baru dengan mengajari mereka adab yang merugikan dan menjatuhkan manusia yang lain dengan cara kotor, ataupun adab memanipulasi apapun yang akan merugikan orang banyak, bahkan merugikan negara dan masyarakat. Aku juga tidak ingin meneladankan mereka untuk mencuri tulang dalam tugas dan pekerjaan.
Ku hanya bisa meninggalkan sedikit fatwa saja, untuk tolong diingat dan dilaksanakan dalam praktek hidup sehari-hari.
Bukan emas perak dan permata yang bisa aku berikan. Secuil kalimat saja yang aku punya. Sebongkah berlian yang akan dituai karena kita tetap berjalan di koridor dan rel kebenaran. Tertatih berjalan di atas bebatuan kebenaran, itu lebih perwira dan bermegah di akhir hayat di mata Tuhan.
Kiranya artikel ini bisa sebagai nasehat dan pengingat diri kita, jika kita telah lupa jati diri dari tujuan Tuhan menciptakan manusia untuk ada di atas permukaan bumi ini. Amin. GBU all.