Kamis, 28 Juli 2022

Materi Ranah Kurikulum untuk pembekalan siswa PKL

Materi Ranah Kurikulum  pada Pembekalan Peserta Didik PKL SMK Negeri 1 Lobalain. 

 

PKL mempunyai singkatan "Praktek Kerja Lapangan ". Dalam arti bahwa kegiatan PKL ini sangat penting bagi Sekolah Kejuruan untuk memproyeksikan ilmu yang sudah didapat dari guru-guru di sekolah dan juga akan mendapatkan pengalaman kerja di dunia usaha yang dituju. 

     Sebagai Bekal dalam mempraktekkan ilmu pengetahuan dan ketrampilan di Du Di, maka Kurikulum mengingatkan kembali betapa pentingnya kompetensi pengetahuan, ketrampilan, dan sikap peserta didik. Peserta didik harus dibekali sikap yang mandiri, jujur, bertanggung jawab, dll pada pendidikan karakter yang sudah diimplementasikan pada proses pembelajaran oleh sekolah, dimana sekolah masih menerapkan Kurikulum 2013 untuk kelas XI dan XII. 

  

        Salah satu tujuan dari PKL ini yaitu agar Kegiatan PKL ini bisa efektif untuk sasana pembelajaran bagi peserta didik dan menimba ilmu dari Du DI dalam memraktekkan dasar2 program keahlian dan kompetensi keahlian masing-masing jurusan dari SMK Negeri 1 Lobalain selanjutnya. 

Kurikulum menegaskan bahwa pendidikan karakter juga penting dalam PKL disamping peserta didik menerapkan dasar2 kompetensi dan kompetensi keahliannya di Du Di. 


 

Minggu, 03 Juli 2022

Pertanyaan hati






Jika suatu saat proses itu datang, apa yang sudah aku lakukan untuk mereka sebagai peninggalan abadi untuk generasi pembangun negeri ini ? 

Yang pasti, 
Aku tak ingin memberi peninggalan berupa janji-janji tak berisi. 
Aku tak ingin hanya mengajari mereka dengan bagaimana cara silih dari sebuah kebenaran dalam menyikapi masalah dan tujuan. 

Aku tak ingin mewariskan sifat tikung menikung yang merusak pikiran dan kesehatan rohani. 

Yang kuingini hanya sederhana saja, ingin melihat mereka dari atas sana sebagai manusia yang bersahaja, hidup sederhana, cukup, jujur, setia, dapat dipercaya, disiplin, sabar, bertanggung jawab, tegas, dan taat akan kebenaran. 

Aku yakin dengan sifat yang mendasar ini, mereka bisa berkembang dan bertumbuh di segala situasi kondisi masa dan jaman. 

Bisa mengikuti perkembangan jaman dan mampu menjaga sikap untuk tetap pada koridor yang Tuhan inginkan. 

Pencobaan akan kekayaan, kemewahan , mabuk akan tahta dan singgasana , silau dengan derajat dan pangkat, dan masih banyak lagi, niscaya sirna dengan sifat watak mendasar yang selalu mengingatkannya. 

Mawas diri dan instropeksi diri akan melekat dalam hati nurani mereka sebelum memandang orang lain sebagai media permasalahan. 

Manusia unggul dengan karakter mendasar, muncul menerangi suasana dunia yang temaram penuh trik-trik cantik. 

Keinginanku bolehlah setinggi langit, orang bilang  aku berlebihan, 
orang bilang aku suka menghayal, 
yaa kalau dilihat, siapalah aku ini ? 
Seorang perempuan yang dipandang tak punya intuisi, relasi, prestasi, dan -si-si lainnya. 

Aku tidak peduli dengan anggapan dan tanggapan mereka tentang aku. Aku tau bahwa aku masih manusia, bukan malaikat. Aku banyak kekurangan dan banyak sekali dosa, tetapi aku tidak ingin mengorbankan manusia-manusia baru dengan mengajari mereka adab yang merugikan dan menjatuhkan manusia yang lain dengan cara kotor, ataupun adab memanipulasi apapun yang akan merugikan orang banyak, bahkan merugikan negara dan masyarakat. Aku juga tidak ingin meneladankan mereka untuk mencuri tulang dalam tugas dan pekerjaan. 

Ku hanya bisa meninggalkan sedikit fatwa saja, untuk tolong diingat dan dilaksanakan dalam praktek hidup sehari-hari. 
Bukan emas perak dan permata yang bisa aku berikan. Secuil kalimat saja yang aku punya. Sebongkah berlian yang akan dituai  karena kita tetap berjalan di koridor dan rel kebenaran. Tertatih berjalan di atas bebatuan kebenaran, itu lebih perwira dan bermegah di akhir hayat di mata Tuhan. 

Kiranya artikel ini bisa sebagai nasehat dan pengingat diri kita, jika kita telah lupa jati diri dari tujuan Tuhan menciptakan manusia untuk ada di atas permukaan bumi ini. Amin. GBU all. 


Sabtu, 02 Juli 2022

Apa yang membedakan Manusia dan hewan ?


Tuhan telah menciptakan makhluk hidup, termasuk manusia, hewan, dan tumbuhan. Diciptanya makhluk hidup dengan tujuan untuk mengisi ekosistem di alam sehingga terjadi keseimbangan. 

       
                 salah satu tanaman

Mata rantai kehidupan akan lestari jika ekosistem ini berjalan dengan benar. 
Manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk ciptaan paling sempurna diantara yang lainnya.
 
Manusia diharapkan sebagai pengendali alur kehidupan di muka bumi ini. Pengendali dalam arti bahwa dengan kemuliaan yang dikaruniakan maka manusia bisa tetap menjaga kelestarian dan melestarikan segala yang sudah ada. 
       
Manusia terlahir dengan dikaruniai akal budi dan akhlak mulia, mempunyai perasaan (emosional) dan kepandaian ( Intelegence).

Dengan kelebihan itu manusia mampu berfikir memakai otaknya sebelum bertindak melakukan sesuatu perbuatan.Dengan perasaan,manusia bisa saling menghargai,mengasihi,dan menghormati satu dengan yang lainnya. Emosional bisa mengetahui yang mana kerabat, sanak saudara, teman maupun lawan dalam hal makanan dan bisnis. 

Sekarang kita membahas, bagaimana dengan hewan yang hampir sama dalam gerak dan mampu berpindah tempat. 

Apa yang membedakan manusia dan hewan ? 

Hewan diciptakan seperti manusia juga, bisa bertumbuh, berkembang, bernafas, berdarah, berpindah tempat, dll. 
Tetapi ada hal yang krusial, mengapa hewan berbeda dengan manusia. 
Hewan tidak mempunyai perasaan, mereka hanya punya insting yang terbangun dari sebuah kebiasaan. Biasa mandi, biasa tidur di tempat tertentu, biasa makan sesuatu, biasa melakukan sesuatu. Semua karena kebiasaan. 

Hewan bisa melupakan sanak saudara jika mereka sudah dipisahkan dan tidak biasa hidup bersama. Hewan hanya mengandalkan kekuatan untuk bisa menguasai lainnya. Kekuatan fisik untuk menindas dan mengalahkan yang lemah. Menghalalkan kemauannya untuk mendapatkan yang dia mau. Tidak peduli tatanan hidup yang harus dipertanggungjawabkan. Tidak berakal mulia, tidak berhikmat, dan tidak pula beragama. sehingga tidak ada perasaan berdosa. 

Jika diaplikasikan pada tingkah laku dan karakter kita, lebih baik yang mana, manusia berakhlak hewan atau manusia berakhlak manusia ? 
Masing-masing mempunyai pilihan untuk menentukan. 

Yang penting,jangan mengaku memilih manusia berakhlak manusia jika pada kenyataannya , tidak melakukan akhlak sebagai manusia.@sebagai pesan moral buat kita semua.
Semoga opini ini bisa menjadi pembelajaran dalam hidup kita.





Perumpamaan dari sebuah fatwa

Burung berkicau karena memang cara penyampaian komunikasi bahasa yang dipakai adalah dengan berkicau. Menyanyi bersenandung di pagi hari dengan syair yang indah diiringi hembusan udara sejuk di pagi hari dengan suara dentingan tetesan air embun nan berkilau. 


Kicauan yang membuat seseorang yang mendengarnya bahagia dan merasakan romantisnya nostalgia.
Kicauan setiap burung terdengar berbeda tergantung jenis burungnya.


Burung yang bagus, kicauannya terdengar merdu, eksotis, dan berbeda. Kicauan burung yang sedang-sedang, akan berkicau juga sedang-sedang. Kicauan burung yang umum, akan berkicau terdengar ringan dan ramai. 


Mungkin yaa tergantung juga fisiologi dari burung tersebut. Ada yang makan makanan yang biasa dan mudah didapat. Ada yang makan makanan yang langka dan sulit didapat. Makanan untuk kesehatan jasmani dan rohani seekor burung sangat mempengaruhi mutu kicauannya. 


Adakalanya burung yang hidup di lingkungan tertentu juga akan mempengaruhi karakter dan struktur bunyi vokal dari suara kicauan. 


Struktur geografis, lingkungan tempat tinggal, genetika keturunan, dan bibit dari burung tersebut akan membuat kicauan berbeda. 


Beda kualitas beda kicauan. Beda konsumsinya juga beda karakter suaranya. Beda lingkungan, genetika, lingkungan geografis, beda akan kentara terlihat. 


Kicauan burung yang berkualitas akan banyak diminati oleh customer. Dan sebaliknya jika terjadi pada burung yang kicauannya kurang berkualitas. 


Takdir menjadi burung yang mempunyai kicauan kurang kualitas adalah takdir yang tidak bisa diubahnya. 
Bagaimana dengan manusia? 


Apakah berkicau yang kurang berkualitas adalah takdir juga? 
Menurutku, aku sebagai orang jelata ini berfikir bahwa kicauan manusia adalah pilihan manusia itu sendiri. Jika Tuhan memberi hikmat kepada umatnya, mengapa kita menyia-nyiakan hikmat itu ? 


Berkicaulah semerdu mungkin, agar kicauanmu bisa menjadi jalan bahagia buat pendengarmu. 


Jangan berkicau dengan kemunafikan, jangan berkicau yang tidak berhikmat, karena sia-sia lah tenagamu jika kamu bertemu dengan orang yang berhikmat. 


Pendidikan karakter

     Pendidikan merupakan salah satu aspek yang harus dilalui oleh setiap makhluk hidup, terutama, manusia yang masih hidup. Pen...