Senin, 12 September 2022

P5 ( PROJEK PENGUATAN PROFIL PELAJAR PANCASILA )

 

 P5 ( PROJEK PENGUATAN PROFIL PELAJAR PANCASILA )

Apa pentingnya projek penguatan profil pelajar Pancasila?

Projek penguatan profil pelajar Pancasila memberikan kesempatan kepada siswa untuk “mengalami pengetahuan” sebagai proses penguatan karakter sekaligus kesempatan untuk belajar dari lingkungan sekitarnya. Dalam projek penguatan ini, siswa memiliki kesempatan untuk mengupas dan memahami tema-tema atau isu penting seperti perubahan iklim, anti radikalisme, kesehatan mental, budaya, wirausaha, teknologi dll., sehingga siswa bisa melakukan aksi nyata dalam menjawab isu-isu tersebut sesuai dengan tahapan belajar dan kebutuhannya. Tema ini dapat berubah setiap tahunnya, ditentukan oleh pemerintah pusat (Kemdikbud) berdasarkan isu yang diprioritaskan.


“... perlulah anak-anak [Taman Siswa] kita dekatkan hidupnya kepada perikehidupan rakyat, agar supaya mereka tidak hanya memiliki ‘pengetahuan’ saja tentang hidup rakyatnya, akan tetapi juga dapat ‘mengalaminya’ sendiri, dan kemudian tidak hidup berpisahan dengan rakyatnya.”
 
Latar Belakang projek penguatan profil pelajar Pancasila
Dalam penguatan karakter dan kompetensi umum (transversal atau general competences), penting bagi siswa belajar lintas ilmu. Namun demikian, pembelajaran berbasis projek ini belum menjadi kebiasaan di kebanyakan sekolah di Indonesia, sehingga perlu dukungan kebijakan pusdat. 
Projek penguatan Profil Pelajar Pancasila adalah terjemahan dari pengurangan beban belajar di kelas (intrakurikuler) sebagaimana rekomendasi kajian-kajian internasional, agar siswa memiliki lebih banyak kesempatan untuk belajar di setting yang berbeda (less formal, less structured, more interactive, engaged in community) 
Siswa perlu lebih peka terhadap isu-isu terkait SDGs. Mengeksplorasi isu tersebut lebih banyak di luar mata pelajaran dalam bentuk projek memberikan ruang lebih besar untuk mengenali, memahami, dan mendalami isu tersebut. Diharapkan, siswa dapat menjadi warga Indonesia dan warga dunia yang bertanggung jawab dan  aktif berkontribusi 

Nasionalisme terbangun dalam diri pelajar Indonesia sebagai buah dari perkembangan elemen sekurang-kurangnya dari 3 (tiga) dimensi: elemen Akhlak bernegara dalam dimensi (1) Beriman, Bertakwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Berakhlak Mulia, kepedulian pada sesama yang merupakan bagian dari dimensi (2) Bergotong Royong, serta dimensi  (3) Berkebinekaan Global.

Pelajar Indonesia terbangun identitas dirinya secara matang dan memiliki nilai-nilai nasionalisme yang tertanam kuat, seiring dengan terbangunnya rasa kemanusiaan. Dengan demikian, kecintaannya pada tanah air serta tekadnya untuk membela keutuhan bangsa dan Negara Indonesia berkembang sejalan dengan kesadarannya bahwa ia adalah bagian dari warga dunia yang menghargai nilai-nilai kemanusiaan universal. Keseimbangan identitas diri sebagai warga negara yang nasionalis dan warga dunia yang humanis mendorong pelajar Indonesia memiliki jati diri yang kuat dalam merepresentasikan budaya luhur bangsanya, terbuka, inklusif, dan siap berkontribusi untuk memajukan bangsanya dan dunia.

“Konsep karakter yang lebih kompleks terbangun sebagai hasil sintesis beberapa dimensi, sebagai contoh konsep nasionalisme” 

dikutip dari naskah akademik

Dimensi dan elemen profil pelajar Pancasila

Penerapan profil pelajar Pancasila di sekolah

Profil Pelajar Pancasila adalah karakter dan kemampuan yang dibangun dalam keseharian dan dihidupkan dalam diri 

Budaya Sekolah
Iklim sekolah, kebijakan, pola interaksi dan komunikasi, serta norma yang berlaku di sekolah

- Intrakurikuler
Muatan Pelajaran
Kegiatan/ pengalaman belajar

- Projek untuk  penguatan Profil Pelajar Pancasila
Pembelajaran berbasis projek yang kontekstual dan interaksi dengan lingkungan sekitar

- Ekstrakurikuler
Kegiatan untuk mengembangkan minat dan bakat

Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila 
Projek penguatan profil pelajar Pancasila merupakan kegiatan kokurikuler berbasis projek yang dirancang untuk menguatkan upaya pencapaian kompetensi dan karakter sesuai dengan profil pelajar Pancasila yang disusun berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan. Pelaksanaan projek penguatan profil pelajar Pancasila dilakukan secara fleksibel, dari segi muatan, kegiatan, dan waktu pelaksanaan.
Projek penguatan profil pelajar Pancasila dirancang terpisah dari intrakurikuler. Tujuan, muatan, dan kegiatan pembelajaran projek tidak harus dikaitkan dengan tujuan dan materi pelajaran intrakurikuler.  
Satuan pendidikan dapat melibatkan masyarakat dan/atau dunia kerja untuk merancang dan menyelenggarakan projek penguatan profil pelajar Pancasila. 

Prinsip projek penguatan profil pelajar Pancasila
Prinsip kontekstual berkaitan dengan upaya mendasarkan kegiatan pembelajaran pada pengalaman nyata yang dihadapi dalam keseharian. Prinsip ini mendorong guru dan murid untuk dapat menjadikan lingkungan sekitar dan realitas kehidupan sehari-hari sebagai bahan utama pembelajaran. Oleh karenanya, sekolah sebagai penyelenggara kegiatan projek harus membuka ruang dan kesempatan bagi murid untuk dapat mengeksplorasi berbagai hal di luar lingkup sekolah. Tema-tema projek yang disajikan sebisa mungkin dapat menyentuh persoalan lokal yang terjadi di daerah masing-masing. Dengan mendasarkan projek pada pengalaman nyata yang dihadapi dalam keseharian, diharapkan murid dapat mengalami pembelajaran yang bermakna untuk secara aktif meningkatkan pemahaman dan kemampuannya
Prinsip eksploratif berkaitan dengan semangat untuk membuka ruang yang lebar bagi proses inkuiri dan pengembangan diri. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila tidak berada dalam struktur intrakurikuler yang terkait dengan berbagai skema formal pengaturan mata pelajaran. Oleh karenanya projek ini memiliki area eksplorasi yang luas dari segi jangkauan materi pelajaran, alokasi waktu, dan penyesuaian dengan tujuan pembelajaran. Namun demikian, diharapkan pada perencanaan dan pelaksanaanya, guru tetap  dapat merancang kegiatan projek secara sistematis dan terstruktur agar dapat memudahkan pelaksanaannya. Prinsip eksploratif juga diharapkan dapat mendorong peran Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila untuk menggenapkan dan menguatkan kemampuan yang sudah murid dapatkan dalam pelajaran intrakurikuler.
Holistik bermakna memandang sesuatu secara utuh dan menyeluruh, tidak parsial atau terpisah-pisah. Dalam konteks perancangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, kerangka berpikir holistik mendorong kita untuk menelaah sebuah tema secara utuh dan melihat keterhubungan dari berbagai hal untuk memahami sebuah isu secara mendalam. Oleh karenanya, setiap tema projek yang dijalankan bukan merupakan sebuah wadah tematik yang menghimpun beragam mata pelajaran, namun lebih kepada wadah untuk meleburkan beragam perspektif dan konten pengetahuan secara terpadu. Di samping itu, cara pandang holistik juga mendorong kita untuk dapat melihat koneksi yang bermakna antar komponen dalam pelaksanaan projek, seperti murid, guru, sekolah, masyarakat, dan realitas kehidupan sehari-hari.


Prinsip berpusat pada murid berkaitan dengan skema pembelajaran yang mendorong murid untuk menjadi subjek pembelajaran yang aktif mengelola proses belajarnya secara mandiri. Guru diharapkan dapat mengurangi peran sebagai aktor utama kegiatan belajar mengajar yang menjelaskan banyak materi dan memberikan banyak instruksi. Sebaliknya, guru sebaiknya menjadi fasilitator pembelajaran yang memberikan banyak kesempatan bagi murid untuk mengeksplorasi berbagai hal atas dorongannya sendiri. Harapannya, setiap kegiatan pembelajaran dapat mengasah kemampuan murid dalam memunculkan inisiatif serta meningkatkan daya untuk menentukan pilihan dan memecahkan masalah yang dihadapinya.

Penguatan profil pelajar Pancasila melalui pembelajaran berbasis projek adalah unit pembelajaran terintegrasi, bukan tematik (webbed)* 
Pengetahuan dan keterampilan (kompetensi) yang dalam projek terdiri dari lintas disiplin ilmu, berpadu dan melebur, tidak dipisahkan lagi mana yang merupakan bagian dari mapel-mapel

SD wajib memilih min. 2 tema per tahun
SMP, SMA, dan SMK wajib memilih min. 3 tema per tahun
Sekolah menentukan tema dan mengembangkannya untuk setiap kelas/angkatan

Delapan Tema untuk Dipilih Satuan Pendidikan

1. Gaya Hidup Berkelanjutan (SD-SMA/K)
Memahami dampak dari aktivitas manusia, baik jangka pendek maupun panjang, terhadap kelangsungan kehidupan di dunia maupun lingkungan sekitarnya. 

Melalui tema ini, murid mengembangkan kemampuan berpikir sistem untuk memahami keterkaitan aktivitas manusia dengan dampak-dampak global yang menjadi akibatnya, termasuk perubahan iklim. Murid juga dapat dan membangun kesadaran untuk bersikap dan berperilaku ramah lingkungan serta mencari jalan keluar untuk masalah lingkungan serta mempromosikan gaya hidup serta perilaku yang lebih berkelanjutan dalam keseharian.

Selain itu, murid juga mempelajari potensi krisis keberlanjutan yang terjadi di lingkungan sekitarnya (bencana alam akibat perubahan iklim, krisis pangan, krisis air bersih dan lain sebagainya), serta mengembangkan kesiapan untuk menghadapi dan memitigasinya.

Contoh muatan lokal:
Jakarta : situasi banjir
Kalimantan : hutan sebagai paru-paru dunia

2. Kearifan Lokal  (SD-SMA/K)
Membangun rasa ingin tahu dan kemampuan inkuiri melalui eksplorasi tentang budaya dan kearifan lokal masyarakat sekitar atau daerah tersebut, serta perkembangannya. Siswa mempelajari bagaimana dan mengapa masyarakat lokal/ daerah berkembang seperti yang ada, bagaimana perkembangan tersebut dipengaruhi oleh situasi/konteks yang lebih besar (nasional dan internasional), serta memahami apa yang berubah dari waktu ke waktu apa yang tetap sama. Siswa juga mempelajari konsep dan nilai-nilai dibalik kesenian dan tradisi lokal, serta merefleksikan nilai-nilai apa yang dapat diambil dan diterapkan dalam kehidupan mereka. Siswa juga belajar untuk mempromosikan salah satu hal yang menarik tentang budaya dan nilai-nilai luhur yang dipelajarinya.

Contoh muatan lokal:
Jawa Barat : sistem masyarakat di Kampung Naga
Papua : sistem masyarakat di Lembah Baliem

3. Bhinneka Tunggal Ika (SD-SMA/K)
Mengenal belajar membangun dialog penuh hormat tentang keberagaman kelompok agama dan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat sekitar dan di Indonesia serta nilai-nilai ajaran yang dianutnya. Mereka juga mempelajari perspektif berbagai agama dan kepercayaan tentang fenomena global misalnya masalah lingkungan, kemiskinan, dsb. Siswa secara kritis dan reflektif menelaah berbagai stereotip negatif yang biasanya dilekatkan pada suatu kelompok agama, dan dampaknya terhadap terjadinya konflik dan kekerasan. Melalui projek ini, siswa mengenal dan mempromosikan budaya perdamaian dan anti kekerasan.

Contoh muatan lokal:
Menangkap isu-isu atau masalah keberagaman di lingkungan sekitar dan mengeksplorasi pemecahannya

4. Bangunlah Jiwa dan Raganya (SMP-SMA/K)
Membangun kesadaran dan keterampilan untuk memelihara kesehatan fisik dan mental, baik untuk dirinya maupun orang sekitarnya. Siswa melakukan penelitian dan mendiskusikan masalah-masalah terkait kesejahteraan diri (wellbeing) mereka serta mengkaji fenomena perundungan (bullying) yang terjadi di sekitar mereka, baik dalam lingkungan fisik maupun dunia maya, serta  berupaya mencari jalan keluarnya. Mereka juga menelaah masalah-masalah yang berkaitan dengan kesehatan dan kesejahteraan fisik dan mental, termasuk isu narkoba, pornografi, dan kesehatan reproduksi. Siswa merancang kegiatan dan komitmen untuk senantiasa menjaga kesejahteraan dirinya dan orang lain, serta berusaha untuk mengkampanyekan isu terkait. 

Contoh muatan  lokal:
Mencari solusi untuk masalah cyber bullying yang marak di kalangan remaja lokal 

5. Suara Demokrasi (SMP-SMA/K)
Dalam  lingkungan sekolah, siswa mencoba mempraktikkan sistem demokrasi dan pemerintahan yang diterapkan di Indonesia, termasuk namun tidak terbatas pada proses pemilihan umum dan perumusan kebijakan. Melalui pembelajaran ini siswa merefleksikan makna demokrasi dan memahami implementasi demokrasi serta tantangannya dalam konteks yang berbeda, termasuk dalam organisasi sekolah dan/atau dalam dunia kerja. Menggunakan kemampuan berpikir sistem, siswa menjelaskan keterkaitan antara peran individu terhadap kelangsungan demokrasi Pancasila.

Contoh muatan lokal:
Sistem musyawarah yang dilakukan masyarakat adat tertentu untuk memilih kepala desa

6. Berekayasa dan Berteknologi untuk Membangun NKRI (SD-SMA/K)
Siswa berkolaborasi dalam melatih daya pikir kritis, kreatif, inovatif, sekaligus kemampuan berempati untuk berekayasa membangun produk berteknologi yang memudahkan kegiatan dirinya dan juga sekitarnya. Siswa mengasah berbagai keterampilan berpikir (berpikir sistem, berpikir komputasional, atau design thinking)  dalam mewujudkan produk berteknologi.  Melalui projek ini, siswa dapat mempelajari dan mempraktikkan  proses rekayasa  (engineering process) secara sederhana, mulai dari menentukan spesifikasi sampai dengan uji coba,  untuk membangun model atau prototipe produk bidang rekayasa (engineering). Mereka juga dapat mengasah keterampilan coding untuk menciptakan karya digital, dan berkreasi di bidang robotika. Harapannya, para siswa dapat membangun budaya smart society dengan menyelesaikan persoalan-persoalan di masyarakat sekitarnya melalui inovasi dan penerapan teknologi, mensinergikan aspek sosial dan aspek teknologi. 

Contoh muatan lokal:
Membuat desain inovatif sederhana yang menjawab permasalahan yang ada di sekitar sekolah

7. Kewirausahaan (SD-SMA) 
Mengidentifikasi potensi ekonomi di tingkat lokal dan masalah yang ada dalam pengembangan potensi tersebut, serta kaitannya dengan aspek lingkungan, sosial dan kesejahteraan masyarakat. Siswa kemudian merancang strategi untuk meningkatkan potensi ekonomi lokal dalam kerangka pembangunan berkelanjutan. Melalui kegiatan  dalam projek ini seperti terlibat dalam kegiatan ekonomi rumah tangga, berkreasi untuk menghasilkan karya bernilai jual, dan kegiatan lainnya, yang kemudian diikuti dengan proses analisis dan refleksi hasil kegiatan mereka. Melalui kegiatan ini, kreatifitas dan budaya kewirausahaan akan ditumbuhkembangkan. Siswa juga membuka wawasan tentang peluang masa depan, peka akan kebutuhan masyarakat, menjadi problem solver yang terampil, serta siap untuk  menjadi tenaga kerja profesional penuh integritas
Contoh muatan lokal:
Membuat produk dengan konten lokal yang memiliki daya jual

8. Kebekerjaan (SMK) 
Peserta didik menghubungkan berbagai pengetahuan yang telah dipahami dengan pengalaman nyata di keseharian dan dunia kerja. Peserta didik membangun pemahaman terhadap ketenagakerjaan, peluang kerja, serta kesiapan kerja untuk meningkatkan kapabilitas yang sesuai dengan keahliannya, mengacu pada kebutuhan dunia kerja terkini. Dalam projeknya, peserta didik juga akan mengasah kesadaran sikap dan perilaku sesuai dengan standar yang dibutuhkan di dunia kerja.

Contoh muatan lokal:
Membuat sistem yang efisien untuk pemanfaatan bahan/material dalam industri 

Contoh pengembangan tema GAYA HIDUP BERKELANJUTAN 

Alokasi Waktu Projek



Implementasi projek penguatan profil pelajar Pancasila untuk  SMK

Untuk SMK/MAK,  dalam satu tahun ajaran, projek penguatan profil pelajar Pancasila dilakukan sekurang-kurangnya 3 projek dengan 2 tema pilihan dan 1 tema Kebekerjaan di kelas X, 2 projek dengan 1 tema pilihan dan 1 tema Kebekerjaan di kelas XI, dan 1 projek dengan tema Kebekerjaan di kelas XII SMK/MAK. Kelas XIII pada SMK program 4 tahun tidak mengambil projek penguatan profil pelajar Pancasila. 

Projek penguatan profil pelajar Pancasila di SMK dapat dilaksanakan secara terpadu berkolaborasi dengan mitra dunia kerja, atau dengan komunitas/organisasi serta masyarakat. 

Karena jenjang SMK/MAK sudah memiliki mata pelajaran Projek Kreatif dan Kewirausahaan, maka tema ini tidak menjadi pilihan untuk jenjang SMK. Untuk SMK, ada tema wajib yaitu Kebekerjaan. Pada tema ini, peserta didik menghubungkan berbagai pengetahuan yang telah dipahami dengan pengalaman nyata di keseharian dan dunia kerja. Peserta didik membangun pemahaman terhadap ketenagakerjaan, peluang kerja, serta kesiapan kerja untuk meningkatkan kapabilitas yang sesuai dengan keahliannya, mengacu pada kebutuhan dunia kerja terkini. Dalam projeknya, peserta didik juga akan mengasah kesadaran sikap dan perilaku sesuai dengan standar yang dibutuhkan di dunia kerja. Tema ini ditujukan sebagai tema wajib khusus jenjang SMK/MAK.

Apa saja yang perlu disiapkan Sekolah Penggerak untuk dapat menggulirkan projek penguatan profil pelajar Pancasila?

Guru 

* Pengelolaan jam pelajaran dan kolaborasi guru
* Pengaturan agar alokasi jam mengajar guru tetap sama

Pengelolaan waktu dan kegiatan

* Menyiapkan sistem dari perencanaan hingga penilaian
* Sistem pendokumentasian projek untuk dapat digunakan sebagai portofolio
* Kolaborasi dengan narasumber pengaya projek: masyarakat, komunitas, universitas, praktisi

Contoh Rapor Projek



    
Silakan scan kode atau kunjungi link berikut ini untuk mengunduh panduan:


Apa yang bisa dilakukan  Bapak dan Ibu dalam mendukung implementasi projek penguatan profil pelajar Pancasila?

Kesimpulan
* Projek penguatan profil pelajar Pancasila bertujuan untuk mencapai dimensi-dimensi dalam profil pelajar Pancasila 
* Projek penguatan profil pelajar Pancasila (selanjutnya disebut projek penguatan PPP) )adalah metode pembelajaran dimana siswa belajar dengan secara aktif terlibat dalam dunia nyata dan projek  yang bermakna secara pribadi. Projek penguatan PPP ini memberi kesempatan bagi siswa untuk belajar di situasi belajar yang berbeda (dalam situasi yang lebih tidak formal, struktur belajar yang fleksibel, kegiatan belajar yang lebih interaktif dan juga terlibat langsung dengan lingkungan sekitar) dan lintas mata pelajaran untuk penguatan karakter dan kompetensi umum(transversal atau general competences ). * Dalam implementasinya projek penguatan PPP dilaksanakan sebagai kegiatan ko-kurikuler dan tidak perlu dipetakan untuk mencapai CP.
* Prinsip-prinsip projek penguatan PPP adalah holistik, kontekstual, berpusat pada murid, dan eksploratif
* Pemerintah menyediakan dukungan berupa panduan pengembangan projek penguatan profil pelajar Pancasila dan contoh-contoh modul. 
* Projek berfokus pada proses menju kompetensi dan karakter yang diharapkan terbangun pada anak, bukan pada produk atau hasil akhir.
* Siswa perlu dilibatkan secara aktif dalam rencana dan evaluasi projek
* Tidak ada bentuk evaluasi yang mutlak dan seragam dalam pelaksanaan projek
*  Berbagai bentuk asesmen diharapkan digunakan sepanjang proses projek
Pelibatan masyarakat, komunitas, dan mitra diharapkan dilakukan dalam projek sehingga dampak dari projek berpotensi lebih luas.

Note : Sustainable Development Goals (SDGs).

Sumber :
Sosialisasi Kurikulum untuk Pemulihan Pembelajaran 2022

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pendidikan karakter

     Pendidikan merupakan salah satu aspek yang harus dilalui oleh setiap makhluk hidup, terutama, manusia yang masih hidup. Pen...