Pengalaman yang pernah saya alami terkait penerapan konsep-konsep inti dalam modul
Budaya Positif baik di lingkup kelas maupun sekolah Anda,
yaitu ketika saya menghadapi murid yang sering terlambat masuk di pelajaran
saya, dan murid yang tidak mengikuti evaluasi/penilaian.
Perasaan saya ketika
mengalami hal-hal tersebut, saya merasa heran, mengapa murid melakukan itu dan
penasaran, apakah murid tidak tertarik dengan cara saya menyampaikan materi. Mulailah saya koreksi diri tenang bagaimana cara saya mengajar, dan berkreatifitas.
Terkait pengalaman
dalam penerapan konsep-konsep tersebut, hal apa yang sudah baik yaitu adanya perbaikan
nilai-nilai kebajikan, disiplin positif sebagai motivasi intrinsk saya dan
murid, dan posisi control saya pada saat menghadapi murid. Penerapan keyakinan
kelas secara bersama. Yang perlu ditingkatkan yaitu untuk lebih menerapkan
nilai-nilai kebajikan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah dengan motivasi intrinsic
murid.

Sebelum mempelajari
modul ini, ketika berinteraksi dengan murid, berdasarkan 5 posisi kontrol,
posisi manakah yang paling sering saya pakai, yaitu saya cenderung sebagai
teman dan manejer. Perasaan saya saat itu bahagia bisa menjadi teman dan
manejer untuk murid, sehingga saya dan murid bisa dekat dan berkolaborasi dalam
mencapai tujuan pembelajaran.
Setelah mempelajari modul
ini, posisi apa yang saya pakai, saya memilih sebagai manejer, dan perasaan saya sekarang, saya lebih tidak
terbebani oleh apapun karena murid bisa mengetahui apa yang harus mereka
lakukan dan tidak lakukan. Perbedaannya adalah murid lebih dewasa, gampang
diatur, terbuka tetapi tetap menghormati saya sebagai guru.
Sebelum mempelajari
modul ini, saya pernah menerapkan segitiga restitusi, tetapi mungkin kalimat
yang saya pakai kurang pas, dan alur langkahnya secara acak.
Tahap yang saya
praktekkan, yaitu dengan menanyakan apakah murid mengetahui mengapa saya
memeanggilnya, mengapa dia melakukan perbuatan itu, menurutmu bagaimana yang
seharusnya pantas dilakukan, masih ingat kah dengan kesepakatan kelas yang
pernah dibuat, dan saya mempraktekkannya
dengan berdiskusi secara tertutup dengan murid di sebuah ruangan.
Selain konsep-konsep
yang disampaikan dalam modul ini, hal-hal lain yang menurut saya penting untuk
dipelajari dalam proses menciptakan budaya positif baik di lingkungan kelas
maupun sekolah, adalah adanya budaya positif terjadi pada guru secara benar.
Dengan pengadaan program guru penggerak untuk secepatnya diwajibkan untuk semua
guru, maka secara otomatis mereka akan belajar secara mandiri melalui program
ini sebagai suatu kewajiban, sehingga keseluruhan guru-guru akan paham dengan
baik tentang nilai-nilai kebajikan, posisi control, kebutuhan murid, keyakinan
kelas, hukuman, konsekuensi, restitusi.
Budaya positif
seharusnya juga ditularkan kepada orang tua yang tidak memahami restitusi,
posisi control, nilai-nilai kebajikan, dan kebutuhan dasar anaknya, sehingga
terjadi keseimbangan pembelajaran di sekolah dan di rumah. Perlu dipikirkan
tindakan yang harus dilakukan agar orang tua yang minim pemahaman akan bisa
paham dan menjalankan. Adanya program juga untuk orang tua. Guru bisa menyampaikan
ke orang tua tetapi ada keterbatasan lingkup sosial.
Program guru penggerak
sangat berpengaruh sekali untuk saya pribadi. Pemikiran saya yang dahulu samar
akan tindakan yang harus saya lakukan, setelah membaca modul CGP a.7 ini, saya
merasa terbuka mindset saya. Di samping saya bisa terapkan pada murid daya,
saya juga bisa menerapkannya pada anak saya di rumah. Sangat memberkati dalam
kehidupan rumah tangga saya juga dan dalam bermasyarakat. Membuat saya lebih dewasa
dalam berkalimat, bergaul, dan berbuat sesuatu. Muncul kepercayaan yang tinggi dan
terarah. Saya membaca modul ini seperti menemukan ajian sakti/jurus sakti dalam
memecahkan segala pergumulan saya dalam mengajar.
Peran saya dalam menciptakan budaya positif di sekolah dengan
menerapkan konsep-konsep inti seperti disiplin positif, motivasi perilaku
manusia (hukuman dan penghargaan), posisi kontrol restitusi, keyakinan sekolah/kelas, segitiga restitusi dan
keterkaitannya dengan materi sebelumnya yaitu Filosofi Pendidikan Nasional Ki
Hadjar Dewantara, Nilai dan Peran Guru Penggerak, serta Visi Guru Penggerak,
yaitu semua diawali dari diri saya pribadi. Disipli positif diawali mulai
dari diri dengan komunikasi dua arah
yang baik dengan murid sehingga timbul diskusi yang bertumbuh. Diskusi dalam
penerapan disiplin positif akan
membangun komunikasi yang asertif yang mengembangkan budaya positif di sekolah
yang dapat berdampak pada pengembangan karakter dapat terwujud.
Tujuan dari disiplin
positif yaitu menanamkan motivasi intrinsik pada murid-murid untuk menjadi
orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang
mereka percaya( nilai-nilai kebajikan), yang berdampak jangka panjang, motivasi
yang tidak akan terpengaruh pada adanya hukuman atau hadiah.
Konsep disiplin positif
yang merupakan unsur utama dalam terwujudnya budaya positif yang dicita-citakan
di sekolah-sekolah. Ki Hajar menyatakan bahwa untuk mencapai kemerdekaan atau
dalam konteks pendidikan kita saat ini, untuk menciptakan murid yang merdeka,
syarat utamanya adalah harus ada disiplin yang kuat. Disiplin yang dimaksud
adalah disiplin diri, yang memiliki motivasi internal. Jika kita tidak memiliki
motivasi internal, maka kita memerlukan pihak lain untuk mendisiplinkan kita
atau motivasi eksternal, karena berasal dari luar, bukan dari dalam diri kita
sendiri. Seseorang yang memiliki disiplin diri berarti mereka bisa bertanggung
jawab terhadap apa yang dilakukannya karena mereka mendasarkan tindakan mereka
pada nilai-nilai kebajikan universal.
Sebagai pendidik,
tujuan kita adalah menciptakan anak-anak yang memiliki disiplin diri sehingga
mereka bisa berperilaku dengan mengacu pada nilai-nilai kebajikan universal dan
memiliki motivasi intrinsik, bukan ekstrinsik.
Merubah paradigma dari
stimulus respon menjadi teori control. Realitas (kebutuhan) kita berbeda, Setiap
orang memiliki gambaran berbeda, Kita berusaha memahami pandangan orang lain
tentang dunia, Semua perilaku memiliki tujuan, Hanya Anda yang bisa mengontrol diri Anda, dan
Anda tidak bisa mengontrol orang lain.3
Motivasi Perilaku Manusia;
1. Untuk
menghindari ketidaknyamanan atau hukuman
2. Untuk
mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain.
3. Untuk
menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai[1]nilai
yang mereka percaya.
Hukuman,
Konsekuensi dan Restitusi
Hukuman
-
Hukuman bersifat tidak terencana atau
tiba-tiba.
-
Anak atau murid tidak tahu apa yang akan
terjadi, dan tidak dilibatkan.
-
Hukuman bersifat satu arah, dari pihak
guru yang memberikan, dan murid hanya menerima suatu hukuman tanpa melalui
suatu kesepakatan, atau pengarahan dari pihak guru, baik sebelum atau sesudahnya.
-
Hukuman yang diberikan bisa berupa fisik
maupun psikis, murid/anak disakiti oleh suatu perbuatan atau kata-kata.
Konsekuensi
-
Sudah terencana atau sudah disepakati;
sudah dibahas dan disetujui oleh murid dan guru.
-
murid tetap dibuat tidak nyaman untuk
jangka waktu pendek.
-
Konsekuensi biasanya diberikan
berdasarkan suatu data yang umumnya dapat diukur,
-
Peraturan dan konsekuensi yang mengikuti
ini sudah diketahui sebelumnya oleh murid. Sikap guru di sini senantiasa
memonitor murid
Restitusi
-
Program disiplin positif;
-
Sebuah Pendekatan untuk Menciptakan
Disiplin Positif.
-
proses menciptakan kondisi bagi murid
untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok
mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004).
-
Restitusi juga merupakan proses
kolaboratif yang mengajarkan murid untuk mencari solusi untuk masalah mereka,
dan membantu murid berpikir tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, dan
bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain (Chelsom Gossen, 1996).
-
Restitusi membantu murid menjadi lebih
memiliki tujuan, disiplin positif, dan memulihkan dirinya setelah berbuat
salah.
-
Restitusi bukan untuk menebus kesalahan,
namun untuk belajar dari kesalahan.
-
Restitusi memperbaiki hubungan
-
Restitusi adalah tawaran, bukan paksaan
-
Restitusi ‘menuntun’ untuk melihat ke
dalam diri
-
Restitusi mencari kebutuhan dasar yang
mendasari tindakan
-
Restitusi diri adalah cara yang paling
baik
-
Restitusi fokus pada karakter bukan
tindakan
-
Restitusi menguatkan
-
Restitusi fokus pada solusi
-
Restitusi mengembalikan murid yang
berbuat salah pada kelompoknya
Penghargaan
-
Pengaruh Jangka Pendek dan Jangka Panjang
-
Penghargaan Tidak Efektif
-
Penghargaan Merusak Hubungan
-
Penghargaan Mengurangi Ketepatan
-
Penghargaan Menurunkan Kualitas
-
Penghargaan Mematikan Kreativitas
-
Penghargaan itu menghukum
Pembentukan Keyakinan
Sekolah/Kelas:
•
Keyakinan kelas bersifat lebih ‘abstrak’ daripada peraturan, yang lebih rinci
dan konkrit.
•
Keyakinan kelas berupa pernyataan-pernyataan universal.
•
Pernyataan keyakinan kelas senantiasa dibuat dalam bentuk positif.
•
Keyakinan kelas hendaknya tidak terlalu banyak, sehingga mudah diingat dan
dipahami oleh semua warga kelas.
•
Keyakinan kelas sebaiknya sesuatu yang dapat diterapkan di lingkungan tersebut.
•
Semua warga kelas hendaknya ikut berkontribusi dalam pembuatan keyakinan kelas
lewat kegiatan curah pendapat.
•
Bersedia meninjau kembali keyakinan kelas dari waktu ke waktu.
Prosedur Pembentukan
Keyakinan Sekolah/Kelas:
1.
Mempersilakan warga sekolah atau murid-murid di sekolah/kelas untuk bercurah
pendapat tentang peraturan yang perlu disepakati di sekolah/kelas.
2.
Mencatat semua masukan-masukan para murid/warga sekolah di papan tulis atau di
kertas besar (kertas ukuran poster), di mana semua anggota kelas/warga sekolah
bisa melihat hasil curah pendapat.
3.
Susunlah keyakinan kelas sesuai prosedur ‘Pembentukan Keyakinan Sekolah/Kelas’.
Gantilah kalimat-kalimat dalam bentuk negatif menjadi positif.
4.
Tinjau kembali daftar curah pendapat yang sudah dicatat. Ajak warga sekolah/murid-murid untuk menemukan
nilai kebajikan atau keyakinan yang dituju dari peraturan tersebut.
5.
Tinjau ulang Keyakinan Sekolah/Kelas secara bersama-sama, bisa berkisar antara
3-7 prinsip/keyakinan.
6.
Setelah keyakinan sekolah/kelas selesai dibuat, maka semua warga kelas
dipersilakan meninjau ulang, dan menyetujuinya dengan menandatangani keyakinan
sekolah/kelas tersebut, termasuk guru dan semua warga/murid.
7.
Keyakinan Sekolah/Kelas selanjutnya bisa dilekatkan di dinding kelas di tempat
yang mudah dilihat semua warga kelas.
5 Kebutuhan Dasar
Manusia yaitu
-
kebutuhan untuk bertahan hidup
(survival),
-
kasih sayang dan rasa diterima (love and
belonging),
-
kebebasan (freedom),
-
kesenangan (fun), dan
-
penguasaan (power).
Lima Posisi Kontrol:
Melalui
serangkaian riset dan berdasarkan pada teori Kontrol Dr. William Glasser,
Gossen berkesimpulan ada 5 posisi kontrol yang diterapkan seorang guru, orang
tua ataupun atasan dalam melakukan kontrol.
1.
Penghukum,
-
Seorang penghukum bisa menggunakan
hukuman fisik maupun verbal.
-
Senantiasa mengatakan bahwa sekolah
memerlukan sistem atau alat yang dapat lebih menekan murid-murid lebih dalam
lagi.
-
Guru[1]guru yang menerapkan
posisi penghukum akan berkata:
“Patuhi
aturan saya, atau awas!”
“Kamu selalu saja salah!”
“Selalu,
pasti selalu yang terakhir selesai”
-
Guru seperti ini senantiasa percaya
hanya ada satu cara agar pembelajaran bisa berhasil, yaitu cara dia.
2.
Pembuat
Rasa Bersalah,
-
Guru akan bersuara lebih lembut.
-
Pembuat rasa bersalah akan menggunakan
keheningan yang membuat orang lain merasa tidak nyaman, bersalah, atau rendah
diri.
-
Kata-kata yang keluar dengan lembut akan
seperti: “Ibu sangat kecewa sekali dengan kamu” “Berapa kali Bapak harus
memberitahu kamu ya?” “Gimana coba, kalau orang tua kamu tahu kamu berbuat
begini?”
-
Di posisi ini murid akan memiliki
penilaian diri yang buruk tentang diri mereka, murid merasa tidak berharga, dan
telah mengecewakan orang-orang disayanginya.
3.
Teman:
-
Guru tidak akan menyakiti murid, namun
akan tetap berupaya mengontrol murid melalui persuasi. Posisi teman pada guru
bisa negatif ataupun positif.
-
Positif di sini berupa hubungan baik
yang terjalin antara guru dan murid. Guru di posisi teman menggunakan hubungan
baik dan humor untuk mempengaruhi seseorang.
-
Mereka akan berkata: “Ayo bantulah, demi
bapak ya?” “Ayo ingat tidak bantuan Bapak selama ini?” “Ya sudah kali ini tidak
apa-apa. Nanti Ibu bantu bereskan”.
Hal
negatif dari posisi teman adalah :
-
bila suatu saat guru tersebut tidak
membantu maka murid akan kecewa dan berkata, “Saya pikir bapak/Ibu teman saya”.
Murid merasa dikecewakan, dan tidak mau lagi berusaha.
-
Hal lain yang mungkin timbul adalah
murid hanya akan bertindak untuk guru tertentu, dan tidak untuk guru lainnya.
Murid akan tergantung pada guru tersebut.
4.
Pemantau:
-
Memantau berarti mengawas, kita
bertanggung jawab atas perilaku orang-orang yang kita awasi.
-
Posisi pemantau berdasarkan pada
peraturan[1]peraturan
dan konsekuensi.
-
Dengan menggunakan sanksi/konsekuensi, kita
dapat memisahkan hubungan pribadi kita dengan murid, sebagai seseorang yang
menjalankan posisi pemantau.
-
Pertanyaan yang diajukan seorang
pemantau: “Peraturannya apa?” “Apa yang telah kamu lakukan?” “Sanksi atau
konsekuensinya apa?”
-
Seorang pemantau sangat mengandalkan
penghitungan, catatan, data yang dapat digunakan sebagai bukti atas perilaku
seseorang.
-
Posisi ini akan menggunakan stiker, slip
catatan, daftar cek.
-
Posisi pemantau sendiri berawal dari
teori stimulus-respon, yang menunjukkan tanggung jawab guru dalam mengontrol
murid.
5.
Manajer:
-
Posisi terakhir, Manajer, adalah posisi
di mana guru berbuat sesuatu bersama dengan murid, mempersilakan murid
mempertanggungjawabkan perilakunya, mendukung murid agar dapat menemukan solusi
atas permasalahannya sendiri.
-
Seorang manajer telah memiliki
keterampilan di posisi teman maupun pemantau, dan dengan demikian, bisa jadi di
waktu-waktu tertentu kembali kepada kedua posisi tersebut bila diperlukan.
-
Namun bila kita menginginkan murid[1]murid
kita menjadi manusia yang merdeka, mandiri dan bertanggung jawab, maka kita
perlu mengacu kepada Restitusi yang dapat menjadikan murid kita seorang manajer
bagi dirinya sendiri.
Di
manajer, murid diajak untuk menganalisis kebutuhan dirinya, maupun kebutuhan
orang lain.
Disini penekanan bukan pada kemampuan
membuat konsekuensi, namun dapat berkolaborasi dengan murid bagaimana
memperbaiki kesalahan yang ada.
Seorang manajer akan berkata: “Apa yang kita
yakini?” (kembali ke keyakinan kelas) “Apakah kamu meyakininya?” “Jika kamu meyakininya,
apakah kamu bersedia memperbaikinya?” “Jika kamu memperbaiki ini, hal ini
menunjukkan apa tentang dirimu?” “Apa rencana kamu untuk memperbaiki hal ini?”
Tugas seorang manajer bukan untuk
mengatur perilaku seseorang. Kita membimbing murid untuk dapat mengatur
dirinya. Seorang manajer bukannya memisahkan murid dari kelompoknya, tapi
mengembalikan murid tersebut ke kelompoknya dengan lebih baik dan kuat.
Proses tiga tahapan
tersebut didasarkan pada prinsip-prinsip utama dari Teori Kontrol, yaitu:
1.
Menstabilkan
Identitas (Stabilize the Identity)
bertujuan
untuk mengubah identitas anak dari orang yang gagal karena melakukan kesalahan
menjadi orang yang sukses.
Anak
yang melanggar peraturan karena sedang mencari perhatian adalah anak yang
sedang mengalami kegagalan. Dia mencoba untuk memenuhi kebutuhan dasarnya namun
ada benturan. Kalau kita mengkritik dia, maka kita akan tetap membuatnya dalam
posisi gagal. Kalau kita ingin ia menjadi reflektif, maka kita harus meyakinkan
si anak, dengan cara mengatakan kalimat-kalimat ini:
● Berbuat salah itu tidak apa-apa.
●
Tidak ada manusia yang sempurna
●
Saya juga pernah melakukan kesalahan seperti itu.
●
Kita bisa menyelesaikan ini.
●
Bapak/Ibu tidak tertarik mencari siapa yang salah, tapi Bapak/Ibu ingin mencari
solusi dari permasalahan ini.
●
Kamu berhak merasa begitu.
●
Apakah kamu sedang menjadi teman yang baik buat dirimu sendiri?
2.
Validasi
Tindakan yang Salah (Validate the Misbehavior)
tujuan,
yaitu memenuhi kebutuhan dasar. Kalimat-kalimat di bawah ini mungkin terdengar
asing buat guru, namun bila dikatakan dengan nada tanpa menghakimi akan
memvalidasi kebutuhan mereka.
•
“Padahal kamu bisa melakukan yang lebih buruk dari ini ya?”
•
“Kamu pasti punya alasan mengapa melakukan hal itu”
•
“Kamu patut bangga pada dirimu sendiri karena kamu telah melindungi sesuatu
yang penting buatmu”.
• “Kamu boleh mempertahankan sikap itu, tapi
kamu harus menambahkan sikap yang baru.”
Tujuannya
untuk menunjukkan bahwa guru memahami alasan di balik tindakan murid.
3.
Sisi
Ketiga: Menanyakan Keyakinan (Seek the Belief)
Teori
kontrol menyatakan bahwa kita pada dasarnya termotivasi secara internal. Ketika
identitas sukses telah tercapai (langkah 1) dan tingkah laku yang salah telah
divalidasi (langkah 2), maka anak akan siap untuk dihubungkan dengan
nilai-nilai yang dia percaya, dan berpindah menjadi orang yang dia inginkan.
Pertanyaan-pertanyaan
di bawah ini menghubungkan keyakinan anak dengan keyakinan kelas atau keluarga.
• Apa yang kita percaya sebagai kelas atau
keluarga?
•
Apa nilai-nilai umum yang kita telah sepakati?
•
Apa bayangan kita tentang kelas yang ideal?
•
Kamu mau jadi orang yang seperti apa? Penting untuk menanyakan ke anak,
kehidupan seperti apa nantinya yang mereka inginkan? Apakah kamu ingin menjadi
orang yang sukses, bertanggung jawab, atau bisa dipercaya? Kebanyakan anak akan
mengatakan “Iya,” Tapi mereka tidak tahu bagaimana caranya menjadi orang
seperti itu. Guru dapat membantu dengan bertanya, seperti apa jika mereka
menjadi orang seperti itu. ketika anak sudah mendapat gambaran yang jelas
tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, guru dapat membantu anak-anak
tetap fokus pada gambaran tersebut.