Selasa, 27 Desember 2022

REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK

 JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 1.3

VISI GURU PENGGERAK 


FACTS 

Visi adalah representasi visual kita akan masa depan. Penggambaran visi yang jelas tentang keadaan di masa depan dapat membantu kita untuk merencanakan dan menyelaraskan upayaupaya mewujudkannya. Visi itu menguatkan hatinya, menggerakkan hati semua orang, dan mempersatukan gerak bersama dalam pencapaiannya. jika visi seorang guru memiliki makna yang kuat maka visi tersebut berpeluang menghubungkan hati lebih banyak pihak hingga kemudian mengundang upaya kolaboratif demi mewujudkannya. Memiliki visi tentang pertumbuhan murid menjadi hal yang sangat penting bagi seorang guru. Visi yang diharapkan terwujud pada murid Bapak/Ibu di masa depan. Visi mengenai murid inilah yang nantinya menjadi bintang penunjuk arah bagi guru dalam menentukan program dan strategi pembelajaran. Guru Penggerak memiliki peran untuk mengembangkan diri dan orang lain, memimpin pembelajaran, memimpin manajemen sekolah, dan memimpin pengembangan sekolah. Guru Penggerak perlu mengartikulasikan harapan besar mengenai dirinya, murid, rekan kerja, sekolah, dan kedigjayaan Indonesia dalam kalimat-kalimat yang sifatnya pribadi, sehingga paling tidak dapat menggerakkan hatinya, menyemangati dirinya, di tengah jatuh-bangun perjuangannya kelak. Merangkai mimpi dalam gambar tersebut ke dalam kata-kata yang lebih jelas sebagai sebuah visi. Gambar mengenai mimpi tentang murid dan lingkungan pembelajaran di masa depan ini mendatangkan perasaan bahagia dalam diri sebagai guru. Gambar yang tersebut adalah visi mengenai layanan dan lingkungan pembelajaran di masa depan yang akan kita berikan pada murid kita. Ketika kita menggambar visi, maka yang muncul adalah keyakinan dalam diri untuk mewujudkannya. Akhirnya, kita pun terpacu untuk melakukan peningkatan kualitas diri serta menguatkan kolaborasi di sekolah agar terjadi upaya perbaikan dan perubahan berkesinambungan yang diperlukan agar visi menjadi kenyataan. Artikulasikanlah nilai-nilai, filosofi, harapan atas murid di sekolah yang kita yakini dalam sebuah VISI. Pastikan kalimat-kalimat yang digunakan memiliki makna tersendiri secara pribadi sehingga ketika dibaca, kalimat itu akan menyemangati kita , sekaligus menggerakkan hati tiap orang yang turut membacanya. Lewat kalimat itu, harus menggambarkan seberapa berharga visi tersebut hingga patut diperjuangkan pencapaiannya. 

FEELINGS 

Sebagai Guru Penggerak, proses belajar pada modul ini dapat menguatkan saya, merasa optimis untuk terlibat dalam proses menyusun atau menelaah kembali visi sekolah, sehingga membantu sekolah melihat pentingnya melibatkan murid dan komunitas sekolah dalam merumuskan visi sekolah. 

BENEFITS 

Bisa mengeksplorasi mengapa lingkungan belajar yang bermakna dan berpihak pada murid itu harus ditumbuhkan, membuat lukisan mimpi dan narasi visi mengenai murid dan lingkungan belajar di masa depan yang sesuai murid kita impikan. Bagaimana mewujudkannya dengan sebuah pendekatan Inkuiri Apresiatif. Seorang guru penggerak menjalankan perannya sebagai pemimpin pembelajaran, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi, mewujudkan kepemimpinan murid, dan menggerakkan komunitas praktisi. Dengan mempunyai visi yang jelas yang sesuai dengan peran guru dan nilainilai guru penggerak. Menentukan prakarsa perubahan, dengan melaksanakan langkah-langkah Kanvas BAGJA, yang merupakan manajemen perubahan yang menggunakan paradigm inkuiri apresiatif. Inkuiri apresiatif adalah sebuah pendekatan kolaboratif dalam melakukan perubahan yang berbasis kekuatan, sebagai paradigm berbasis kekuatan, yang salah satu model manajemen perubahan kolaboratif yang membawa perbaikan dalam suatu sistem . 

CAUTIONS 

Kaitan peran pendidik dalam mewujudkan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan Profil Pelajar Pancasila pada murid-muridnya dengan paradigma inkuiri apresiatif (IA) di sekolah. Relevansi pemikiran Ki Hajar Dewantoro terhadap transformasi pendidikan sebagai kerangka perubahan , yang terkandung nilai kodrat keadaan (alam, zaman). Adanya perbedaan dan tantangan sendiri-sendiri ), dan prinsip melakukan perubahan . Adanya keharusan berorientasi tertuju pada anak. Poin relevansi pemikiran KHD; keimanan dan ketakwaan, karakter & akhlak, dan jiwa mandiri. Tidak terlepas dari peran guru yang mempunyai nilai-nilai guru penggerak yang mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpusat pada anak

Forum Komunikasi Modul 1.1 Filosofi Pendidikan Indonesia Ki hadjar Dewantoro

Forum Komunikasi Modul 1.1

Forum komunikasi ini disediakan sebagai sarana komunikasi antara fasilitator dan peserta selama mempelajari Modul 1.1.A. Refleksi Filosofi Pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara.

 Refleksi Filosofi Pendidikan Indonesia Ki hadjar Dewantoro

* Yang saya ketahui tentang filosofi Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantoro adalah Beliau mempunyai mempunyai kalimat filosofi yang terkenal, " Ing ngarso sung tulodo, Ing madya mangun karso, tut wuri handayani. Di depan sebagai pemimpin, sebagai tenaga pendidik, kita harus bisa digugu, ditiru, baik tindakan, sikap, dan perbuatan. Jika kita posisi di tengah, kita harus bisa membimbing, dan di belakang kita bisa memotivasi. Ajaran pendidikan ini saya sudah dapat ketika saya masih sekolah di sekolah dasar pada mata pelajaran PMP ( sekaran PKN ). 

Dalam pendidikan ada pengajaran, Pengajaran merupakan proses Pendidikan dalam memberi ilmu atau berfaedah untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin, sedangkan Pendidikan  memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Pendidikan bertujuan untuk menuntun (memfasilitasi/membantu) anak untuk menebalkan garis samar-samar agar dapat memperbaiki laku-nya untuk menjadi manusia seutuhnya.

KHD menegaskan juga bahwa didiklah anak-anak dengan cara yang sesuai dengan tuntutan alam dan zamannya sendiri. Artinya, cara belajar dan interaksi murid Abad ke21, tentu sangat berbeda dengan para murid di pertengahan dan akhir abad ke-20.

Menurut KHD, budi pekerti, atau watak atau karakter merupakan perpaduan antara gerak pikiran, perasaan dan kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga.

Budi pekerti juga dapat diartikan sebagai perpaduan antara Cipta (kognitif), Karsa (afektif) sehingga menciptakan Karya (psikomotor). Lebih lanjut KHD menjelaskan, keluarga menjadi tempat yang utama dan paling baik untuk melatih pendidikan sosial dan karakter baik bagi seorang anak.

*Relevansi pemikiran KHD dengan konteks pendidikan Indonesia saat ini dan konteks pendidikan di sekolah Anda secara khusus:

Tujuan pendidikan Ki Hadjar dewantara yaitu untuk membangun peserta didik menjadi manusia beriman dan bertaqwa, merdeka lahir batin, budi pekerti yang luhur, cerdas dan berketerampilan, sehat jasmani dan rohani agar menjadi anggota masyarakat yang mandiri dan bertanggung jawab atas kesejahteraan tanah air serta manusia pada umumnya dan mengharamkan hukuman disiplin dengan paksaan atau kekerasan karena itu akan menghilangkan jiwa merdeka anak. 

Ada beberapa poin relevansi pemikiran kHD dengan Pendidikan Indonesia saat ini: 

1. Keimanan dan ketakwaan

2. Pembentukan karakter / akhlak

3. Pembentukan jiwa mandiri / merdeka

* Apakah saya merasa sudah melaksanakan pemikiran KHD dan memiliki kemerdekaan dalam menjalankan aktivitas sebagai guru, 

Saya pribadi dengan jujur sudah melaksanakan pemikiran beliau walaupun belum optimal, disebabkan adanya hambatan-hambatan yang harus saya lalui. JIka di dalam kelas dan pada ranah mata pelajaran saya, saya merdeka dalam menjalankan strategi model, metode, dan media yang saya gunakan untuk peserta didik saya. Peserta didik merdeka dalam berinovasi dan berkreasi dalam mengekspresikan daya cipta, karsa, dan karyanya dengan akhlak yang cerdas. Saya sebagai tenaga pendidik berusaha hanya sebagai pembimbing untuk peserta didik. 

Jumat, 23 Desember 2022

1.4.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 1.4

 


1.4.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 1.4

Pengalaman yang pernah saya alami terkait penerapan konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif baik di lingkup kelas maupun sekolah Anda, yaitu ketika saya menghadapi murid yang sering terlambat masuk di pelajaran saya, dan murid yang tidak mengikuti evaluasi/penilaian.

Perasaan saya ketika mengalami hal-hal tersebut, saya merasa heran, mengapa murid melakukan itu dan penasaran, apakah murid tidak tertarik dengan cara saya menyampaikan materi. Mulailah saya koreksi diri tenang bagaimana cara saya mengajar, dan berkreatifitas.

Terkait pengalaman dalam penerapan konsep-konsep tersebut, hal apa yang sudah baik yaitu adanya perbaikan nilai-nilai kebajikan, disiplin positif sebagai motivasi intrinsk saya dan murid, dan posisi control saya pada saat menghadapi murid. Penerapan keyakinan kelas secara bersama. Yang perlu ditingkatkan yaitu untuk lebih menerapkan nilai-nilai kebajikan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah dengan motivasi intrinsic murid. 

                                   

Sebelum mempelajari modul ini, ketika berinteraksi dengan murid, berdasarkan 5 posisi kontrol, posisi manakah yang paling sering saya pakai, yaitu saya cenderung sebagai teman dan manejer. Perasaan saya saat itu bahagia bisa menjadi teman dan manejer untuk murid, sehingga saya dan murid bisa dekat dan berkolaborasi dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Setelah mempelajari modul ini,  posisi apa yang saya pakai, saya memilih sebagai manejer,  dan perasaan saya sekarang, saya lebih tidak terbebani oleh apapun karena murid bisa mengetahui apa yang harus mereka lakukan dan tidak lakukan. Perbedaannya adalah murid lebih dewasa, gampang diatur, terbuka tetapi tetap menghormati saya sebagai guru.

Sebelum mempelajari modul ini, saya pernah menerapkan segitiga restitusi, tetapi mungkin kalimat yang saya pakai kurang pas, dan alur langkahnya secara acak.

Tahap yang saya praktekkan, yaitu dengan menanyakan apakah murid mengetahui mengapa saya memeanggilnya, mengapa dia melakukan perbuatan itu, menurutmu bagaimana yang seharusnya pantas dilakukan, masih ingat kah dengan kesepakatan kelas yang pernah dibuat,  dan saya mempraktekkannya dengan berdiskusi secara tertutup dengan murid di sebuah ruangan.

Selain konsep-konsep yang disampaikan dalam modul ini, hal-hal lain yang menurut saya penting untuk dipelajari dalam proses menciptakan budaya positif baik di lingkungan kelas maupun sekolah, adalah adanya budaya positif terjadi pada guru secara benar. Dengan pengadaan program guru penggerak untuk secepatnya diwajibkan untuk semua guru, maka secara otomatis mereka akan belajar secara mandiri melalui program ini sebagai suatu kewajiban, sehingga keseluruhan guru-guru akan paham dengan baik tentang nilai-nilai kebajikan, posisi control, kebutuhan murid, keyakinan kelas, hukuman, konsekuensi, restitusi.

Budaya positif seharusnya juga ditularkan kepada orang tua yang tidak memahami restitusi, posisi control, nilai-nilai kebajikan, dan kebutuhan dasar anaknya, sehingga terjadi keseimbangan pembelajaran di sekolah dan di rumah. Perlu dipikirkan tindakan yang harus dilakukan agar orang tua yang minim pemahaman akan bisa paham dan menjalankan. Adanya program juga untuk orang tua. Guru bisa menyampaikan ke orang tua tetapi ada keterbatasan lingkup sosial.

Program guru penggerak sangat berpengaruh sekali untuk saya pribadi. Pemikiran saya yang dahulu samar akan tindakan yang harus saya lakukan, setelah membaca modul CGP a.7 ini, saya merasa terbuka mindset saya. Di samping saya bisa terapkan pada murid daya, saya juga bisa menerapkannya pada anak saya di rumah. Sangat memberkati dalam kehidupan rumah tangga saya juga dan dalam bermasyarakat. Membuat saya lebih dewasa dalam berkalimat, bergaul, dan berbuat sesuatu. Muncul kepercayaan yang tinggi dan terarah. Saya membaca modul ini seperti menemukan ajian sakti/jurus sakti dalam memecahkan segala pergumulan saya dalam mengajar.

Peran saya dalam menciptakan budaya positif di sekolah dengan menerapkan konsep-konsep inti seperti disiplin positif, motivasi perilaku manusia (hukuman dan penghargaan), posisi kontrol restitusi, keyakinan  sekolah/kelas, segitiga restitusi dan keterkaitannya dengan materi sebelumnya yaitu Filosofi Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara, Nilai dan Peran Guru Penggerak,  serta Visi Guru Penggerak, yaitu semua diawali dari diri saya pribadi. Disipli positif diawali mulai dari  diri dengan komunikasi dua arah yang baik dengan murid sehingga timbul diskusi yang bertumbuh. Diskusi dalam penerapan disiplin  positif akan membangun komunikasi yang asertif yang mengembangkan budaya positif di sekolah yang dapat berdampak pada pengembangan karakter dapat terwujud.

Tujuan dari disiplin positif yaitu menanamkan motivasi intrinsik pada murid-murid untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya( nilai-nilai kebajikan), yang berdampak jangka panjang, motivasi yang tidak akan terpengaruh pada adanya hukuman atau hadiah.

Konsep disiplin positif yang merupakan unsur utama dalam terwujudnya budaya positif yang dicita-citakan di sekolah-sekolah. Ki Hajar menyatakan bahwa untuk mencapai kemerdekaan atau dalam konteks pendidikan kita saat ini, untuk menciptakan murid yang merdeka, syarat utamanya adalah harus ada disiplin yang kuat. Disiplin yang dimaksud adalah disiplin diri, yang memiliki motivasi internal. Jika kita tidak memiliki motivasi internal, maka kita memerlukan pihak lain untuk mendisiplinkan kita atau motivasi eksternal, karena berasal dari luar, bukan dari dalam diri kita sendiri. Seseorang yang memiliki disiplin diri berarti mereka bisa bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya karena mereka mendasarkan tindakan mereka pada nilai-nilai kebajikan universal.

Sebagai pendidik, tujuan kita adalah menciptakan anak-anak yang memiliki disiplin diri sehingga mereka bisa berperilaku dengan mengacu pada nilai-nilai kebajikan universal dan memiliki motivasi intrinsik, bukan ekstrinsik.


Merubah paradigma dari stimulus respon menjadi teori control. Realitas (kebutuhan) kita berbeda, Setiap orang memiliki gambaran berbeda, Kita berusaha memahami pandangan orang lain tentang dunia, Semua perilaku memiliki tujuan,  Hanya Anda yang bisa mengontrol diri Anda, dan Anda tidak bisa mengontrol orang lain.

3 Motivasi Perilaku Manusia;

1.      Untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman

2.      Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain.

3.      Untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai[1]nilai yang mereka percaya.

 

Hukuman, Konsekuensi dan Restitusi

Hukuman

-          Hukuman bersifat tidak terencana atau tiba-tiba.

-          Anak atau murid tidak tahu apa yang akan terjadi, dan tidak dilibatkan.

-          Hukuman bersifat satu arah, dari pihak guru yang memberikan, dan murid hanya menerima suatu hukuman tanpa melalui suatu kesepakatan, atau pengarahan dari pihak guru, baik sebelum atau sesudahnya.

-          Hukuman yang diberikan bisa berupa fisik maupun psikis, murid/anak disakiti oleh suatu perbuatan atau kata-kata.

Konsekuensi

-          Sudah terencana atau sudah disepakati; sudah dibahas dan disetujui oleh murid dan guru.

-          murid tetap dibuat tidak nyaman untuk jangka waktu pendek.

-          Konsekuensi biasanya diberikan berdasarkan suatu data yang umumnya dapat diukur,

-          Peraturan dan konsekuensi yang mengikuti ini sudah diketahui sebelumnya oleh murid. Sikap guru di sini senantiasa memonitor murid

 

Restitusi

-          Program disiplin positif;

-          Sebuah Pendekatan untuk Menciptakan Disiplin Positif.

-          proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004).

-          Restitusi juga merupakan proses kolaboratif yang mengajarkan murid untuk mencari solusi untuk masalah mereka, dan membantu murid berpikir tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, dan bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain (Chelsom Gossen, 1996).

-          Restitusi membantu murid menjadi lebih memiliki tujuan, disiplin positif, dan memulihkan dirinya setelah berbuat salah.

-          Restitusi bukan untuk menebus kesalahan, namun untuk belajar dari kesalahan.

-          Restitusi memperbaiki hubungan

-          Restitusi adalah tawaran, bukan paksaan

-          Restitusi ‘menuntun’ untuk melihat ke dalam diri

-          Restitusi mencari kebutuhan dasar yang mendasari tindakan

-          Restitusi diri adalah cara yang paling baik

-          Restitusi fokus pada karakter bukan tindakan

-          Restitusi menguatkan

-          Restitusi fokus pada solusi

-          Restitusi mengembalikan murid yang berbuat salah pada kelompoknya

 Penghargaan

- Pengaruh Jangka Pendek dan Jangka Panjang

- Penghargaan Tidak Efektif

- Penghargaan Merusak Hubungan

- Penghargaan Mengurangi Ketepatan

- Penghargaan Menurunkan Kualitas

- Penghargaan Mematikan Kreativitas

- Penghargaan itu menghukum

Pembentukan Keyakinan Sekolah/Kelas:

• Keyakinan kelas bersifat lebih ‘abstrak’ daripada peraturan, yang lebih rinci dan konkrit.

• Keyakinan kelas berupa pernyataan-pernyataan universal.

• Pernyataan keyakinan kelas senantiasa dibuat dalam bentuk positif.

• Keyakinan kelas hendaknya tidak terlalu banyak, sehingga mudah diingat dan dipahami oleh semua warga kelas.

• Keyakinan kelas sebaiknya sesuatu yang dapat diterapkan di lingkungan tersebut.

• Semua warga kelas hendaknya ikut berkontribusi dalam pembuatan keyakinan kelas lewat kegiatan curah pendapat.

• Bersedia meninjau kembali keyakinan kelas dari waktu ke waktu.

Prosedur Pembentukan Keyakinan Sekolah/Kelas:

1. Mempersilakan warga sekolah atau murid-murid di sekolah/kelas untuk bercurah pendapat tentang peraturan yang perlu disepakati di sekolah/kelas.

2. Mencatat semua masukan-masukan para murid/warga sekolah di papan tulis atau di kertas besar (kertas ukuran poster), di mana semua anggota kelas/warga sekolah bisa melihat hasil curah pendapat.

3. Susunlah keyakinan kelas sesuai prosedur ‘Pembentukan Keyakinan Sekolah/Kelas’. Gantilah kalimat-kalimat dalam bentuk negatif menjadi positif.

4. Tinjau kembali daftar curah pendapat yang sudah dicatat.  Ajak warga sekolah/murid-murid untuk menemukan nilai kebajikan atau keyakinan yang dituju dari peraturan tersebut.

5. Tinjau ulang Keyakinan Sekolah/Kelas secara bersama-sama, bisa berkisar antara 3-7 prinsip/keyakinan.

6. Setelah keyakinan sekolah/kelas selesai dibuat, maka semua warga kelas dipersilakan meninjau ulang, dan menyetujuinya dengan menandatangani keyakinan sekolah/kelas tersebut, termasuk guru dan semua warga/murid.

7. Keyakinan Sekolah/Kelas selanjutnya bisa dilekatkan di dinding kelas di tempat yang mudah dilihat semua warga kelas.

5 Kebutuhan Dasar Manusia yaitu

-          kebutuhan untuk bertahan hidup (survival),

-          kasih sayang dan rasa diterima (love and belonging),

-          kebebasan (freedom),

-          kesenangan (fun), dan

-          penguasaan (power). 

Lima Posisi Kontrol:

Melalui serangkaian riset dan berdasarkan pada teori Kontrol Dr. William Glasser, Gossen berkesimpulan ada 5 posisi kontrol yang diterapkan seorang guru, orang tua ataupun atasan dalam melakukan kontrol.

1.      Penghukum,

-          Seorang penghukum bisa menggunakan hukuman fisik maupun verbal.

-          Senantiasa mengatakan bahwa sekolah memerlukan sistem atau alat yang dapat lebih menekan murid-murid lebih dalam lagi.

-          Guru[1]guru yang menerapkan posisi penghukum akan berkata:

“Patuhi aturan saya, atau awas!”

 “Kamu selalu saja salah!”

“Selalu, pasti selalu yang terakhir selesai”

-          Guru seperti ini senantiasa percaya hanya ada satu cara agar pembelajaran bisa berhasil, yaitu cara dia.

2.      Pembuat Rasa Bersalah,

-          Guru akan bersuara lebih lembut.

-          Pembuat rasa bersalah akan menggunakan keheningan yang membuat orang lain merasa tidak nyaman, bersalah, atau rendah diri.

-          Kata-kata yang keluar dengan lembut akan seperti: “Ibu sangat kecewa sekali dengan kamu” “Berapa kali Bapak harus memberitahu kamu ya?” “Gimana coba, kalau orang tua kamu tahu kamu berbuat begini?”

-          Di posisi ini murid akan memiliki penilaian diri yang buruk tentang diri mereka, murid merasa tidak berharga, dan telah mengecewakan orang-orang disayanginya. 

3.      Teman:

-          Guru tidak akan menyakiti murid, namun akan tetap berupaya mengontrol murid melalui persuasi. Posisi teman pada guru bisa negatif ataupun positif.

-          Positif di sini berupa hubungan baik yang terjalin antara guru dan murid. Guru di posisi teman menggunakan hubungan baik dan humor untuk mempengaruhi seseorang.

-          Mereka akan berkata: “Ayo bantulah, demi bapak ya?” “Ayo ingat tidak bantuan Bapak selama ini?” “Ya sudah kali ini tidak apa-apa. Nanti Ibu bantu bereskan”.

Hal negatif dari posisi teman adalah :

-          bila suatu saat guru tersebut tidak membantu maka murid akan kecewa dan berkata, “Saya pikir bapak/Ibu teman saya”. Murid merasa dikecewakan, dan tidak mau lagi berusaha.

-          Hal lain yang mungkin timbul adalah murid hanya akan bertindak untuk guru tertentu, dan tidak untuk guru lainnya. Murid akan tergantung pada guru tersebut.

4.      Pemantau:

-          Memantau berarti mengawas, kita bertanggung jawab atas perilaku orang-orang yang kita awasi.

-          Posisi pemantau berdasarkan pada peraturan[1]peraturan dan konsekuensi.

-          Dengan menggunakan sanksi/konsekuensi, kita dapat memisahkan hubungan pribadi kita dengan murid, sebagai seseorang yang menjalankan posisi pemantau.

-          Pertanyaan yang diajukan seorang pemantau: “Peraturannya apa?” “Apa yang telah kamu lakukan?” “Sanksi atau konsekuensinya apa?”

-          Seorang pemantau sangat mengandalkan penghitungan, catatan, data yang dapat digunakan sebagai bukti atas perilaku seseorang.

-          Posisi ini akan menggunakan stiker, slip catatan, daftar cek.

-          Posisi pemantau sendiri berawal dari teori stimulus-respon, yang menunjukkan tanggung jawab guru dalam mengontrol murid.

5.      Manajer:

-          Posisi terakhir, Manajer, adalah posisi di mana guru berbuat sesuatu bersama dengan murid, mempersilakan murid mempertanggungjawabkan perilakunya, mendukung murid agar dapat menemukan solusi atas permasalahannya sendiri.

-          Seorang manajer telah memiliki keterampilan di posisi teman maupun pemantau, dan dengan demikian, bisa jadi di waktu-waktu tertentu kembali kepada kedua posisi tersebut bila diperlukan.

-          Namun bila kita menginginkan murid[1]murid kita menjadi manusia yang merdeka, mandiri dan bertanggung jawab, maka kita perlu mengacu kepada Restitusi yang dapat menjadikan murid kita seorang manajer bagi dirinya sendiri.

Di manajer, murid diajak untuk menganalisis kebutuhan dirinya, maupun kebutuhan orang lain.

Disini penekanan bukan pada kemampuan membuat konsekuensi, namun dapat berkolaborasi dengan murid bagaimana memperbaiki kesalahan yang ada.

 Seorang manajer akan berkata: “Apa yang kita yakini?” (kembali ke keyakinan kelas) “Apakah kamu meyakininya?” “Jika kamu meyakininya, apakah kamu bersedia memperbaikinya?” “Jika kamu memperbaiki ini, hal ini menunjukkan apa tentang dirimu?” “Apa rencana kamu untuk memperbaiki hal ini?”

Tugas seorang manajer bukan untuk mengatur perilaku seseorang. Kita membimbing murid untuk dapat mengatur dirinya. Seorang manajer bukannya memisahkan murid dari kelompoknya, tapi mengembalikan murid tersebut ke kelompoknya dengan lebih baik dan kuat. 

Proses tiga tahapan tersebut didasarkan pada prinsip-prinsip utama dari Teori Kontrol, yaitu:

1.      Menstabilkan Identitas (Stabilize the Identity)

bertujuan untuk mengubah identitas anak dari orang yang gagal karena melakukan kesalahan menjadi orang yang sukses.

Anak yang melanggar peraturan karena sedang mencari perhatian adalah anak yang sedang mengalami kegagalan. Dia mencoba untuk memenuhi kebutuhan dasarnya namun ada benturan. Kalau kita mengkritik dia, maka kita akan tetap membuatnya dalam posisi gagal. Kalau kita ingin ia menjadi reflektif, maka kita harus meyakinkan si anak, dengan cara mengatakan kalimat-kalimat ini:

 ● Berbuat salah itu tidak apa-apa.

● Tidak ada manusia yang sempurna

● Saya juga pernah melakukan kesalahan seperti itu.

● Kita bisa menyelesaikan ini.

● Bapak/Ibu tidak tertarik mencari siapa yang salah, tapi Bapak/Ibu ingin mencari solusi dari permasalahan ini.

● Kamu berhak merasa begitu.

● Apakah kamu sedang menjadi teman yang baik buat dirimu sendiri?

2.      Validasi Tindakan yang Salah (Validate the Misbehavior)

tujuan, yaitu memenuhi kebutuhan dasar. Kalimat-kalimat di bawah ini mungkin terdengar asing buat guru, namun bila dikatakan dengan nada tanpa menghakimi akan memvalidasi kebutuhan mereka.

• “Padahal kamu bisa melakukan yang lebih buruk dari ini ya?”

• “Kamu pasti punya alasan mengapa melakukan hal itu”

• “Kamu patut bangga pada dirimu sendiri karena kamu telah melindungi sesuatu yang penting buatmu”.

 • “Kamu boleh mempertahankan sikap itu, tapi kamu harus menambahkan sikap yang baru.”

Tujuannya untuk menunjukkan bahwa guru memahami alasan di balik tindakan murid.

3.      Sisi Ketiga: Menanyakan Keyakinan (Seek the Belief)

Teori kontrol menyatakan bahwa kita pada dasarnya termotivasi secara internal. Ketika identitas sukses telah tercapai (langkah 1) dan tingkah laku yang salah telah divalidasi (langkah 2), maka anak akan siap untuk dihubungkan dengan nilai-nilai yang dia percaya, dan berpindah menjadi orang yang dia inginkan.

Pertanyaan-pertanyaan di bawah ini menghubungkan keyakinan anak dengan keyakinan kelas atau keluarga.

 • Apa yang kita percaya sebagai kelas atau keluarga?

• Apa nilai-nilai umum yang kita telah sepakati?

• Apa bayangan kita tentang kelas yang ideal?

• Kamu mau jadi orang yang seperti apa? Penting untuk menanyakan ke anak, kehidupan seperti apa nantinya yang mereka inginkan? Apakah kamu ingin menjadi orang yang sukses, bertanggung jawab, atau bisa dipercaya? Kebanyakan anak akan mengatakan “Iya,” Tapi mereka tidak tahu bagaimana caranya menjadi orang seperti itu. Guru dapat membantu dengan bertanya, seperti apa jika mereka menjadi orang seperti itu. ketika anak sudah mendapat gambaran yang jelas tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, guru dapat membantu anak-anak tetap fokus pada gambaran tersebut.







Pendidikan karakter

     Pendidikan merupakan salah satu aspek yang harus dilalui oleh setiap makhluk hidup, terutama, manusia yang masih hidup. Pen...